Sabtu, 16 Mei 2026

Tribunners

Menjadi Guru Inspiratif Abad 21 yang Memesona

Guru harus sering melakukan refleksi diri dan evaluasi karena abad 21 menuntut peran guru yang makin tinggi dan optimal

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Tyas Arista, S.Pd. - Guru PPKn SMPN 2 Selat Nasik 

Oleh: Tyas Arista, S.Pd. - Guru PPKn SMPN 2 Selat Nasik

BELUM selesai pembahasan mengenai generasi milenial, dunia pendidikan kembali harus menyesuaikan dengan kehadiran generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir setelah tahun 1995. Generasi Z berada pada rentang usia 14-19 tahun dan memiliki banyak sebutan seperti generasi I, Generation Next, New Silent Generation, Homelander, generasi YouTube, generasi Net, dan sebagainya (Giunta, 2017). Generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru (new media) seperti komputer, internet, video games, dan besar kemungkinannya tidak sempat menjalani kehidupan analog, namun langsung masuk dalam lingkungan digital.

Bisa kita buktikan dan amati, jarang dijumpai generasi Z masih mendengarkan siaran radio, memutar CD, memutar kaset video, dan menonton televisi. Interaksi dengan media generasi sebelumnya (old media) seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya mengubah "apa" yang dipelajari, namun mengubah cara "bagaimana" generasi Z ini mempelajarinya. Lantas Seperti apakah karakteristik generasi Z? Mari kita kenali cirinya.

Pertama, generasi Z menyukai kebebasan dalam belajar (self directed learning) mulai dari mendiagnosis kebutuhan belajar, menentukan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memilih strategi belajar, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.

Kedua, generasi Z suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah beralih fokus belajarnya. Merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan internet karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi, berkolaborasi, dan membantu berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi.

Ketiga, generasi Z lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan simbol- simbol daripada teks. Keempat, generasi Z tidak betah berlama-lama untuk mendengarkan ceramah guru sehingga lebih tertarik bereksplorasi daripada mendengarkan penjelasan guru. Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata lain sulit untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama.

Kelima, generasi Z terbiasa bersentuhan dengan teknologi tinggi dengan aksesibilitas cepat, misalnya ponsel pintar. Rentang perhatian manusia makin pendek ada di kisaran 8 detik (Glum, 2015). Keenam, generasi Z berinteraksi secara kompleks dengan media seperti ponsel pintar, televisi, laptop, desktop, dan iPod. Sering kita amati fenomena seorang peserta didik mengetik dengan laptop sambil melacak informasi lewat ponsel pintar sekaligus menonton televisi. Ketujuh, generasi Z lebih suka membangun eksistensi di media sosial daripada di lingkungan nyata dan cenderung memilih menggunakan aplikasi seperti Snapchat, Secret, Whisper, dan WhatsApp.

Tipe guru

Setelah kita mengetahui karakteristik generasi Z yang hidup di era pembelajaran abad 21, lantas timbul pertanyaan bagi kita yang berprofesi sebagai guru, apakah kita termasuk ke dalam kriteria guru abad 21? Jika guru sering melakukan refleksi dalam pembelajaran, mungkin timbul pertanyaan dalam diri, apakah mereka peserta didik pernah mengikuti pembelajaran yang mudah dipahami dan menyenangkan?

Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran. Cara guru bertindak dan bekerja sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman, dan sistem kepercayaan terhadap pembelajaran itu sendiri. Ketiga hal tersebut membentuk pola pikir atau paradigma yang melandasi setiap tindakan guru, apakah dia akan menjadi guru yang efektif atau menjadi guru yang tidak efektif. Mari kita mengenal 4 jenis tipe guru, guru seperti apakah kita?

Tipe pertama disebut guru medioker (mediocre teacher). Guru tipe medioker sering menjengkelkan bagi sebagian besar peserta didik. Ciri guru medioker adalah monoton, mata lebih banyak melihat buku dan membacanya, selalu duduk atau berdiri di depan ruang kelas, pendapatnya seolah-olah merupakan kebenaran mutlak, dan peserta didik lebih banyak mendengar suara guru. Mungkin jika dihitung persentase apakah aktivitas mengajar lebih banyak mendengarkan peserta didik atau lebih banyak menceramahi peserta didik?

Guru tipe medioker hanya menggugurkan kewajiban, susah menerima kritik, dan menutup diri. Guru tipe ini bisa berdampak negatif secara luas, kurang disenangi peserta didik dan orang tua, sampai menurunnya rasa hormat kepada guru. Dampak luas kepada peserta didik adalah timbul rasa malas dan bosan di sekolah, sebagai pelariannya akan mengekspresikan energinya di luar sekolah yang bisa berpotensi negatif. Guru medioker akan digilas zaman dan menjadi bahan gunjingan generasi Z.

Tipe kedua disebut guru yang baik (good teacher). Guru dalam kategori ini selangkah lebih baik. Guru tipe baik memiliki kemampuan ceramah dan menjelaskan berdasarkan hasil analisis, bukan sekadar membaca ulang dan menghafal meskipun dilihat dari gaya mengajarnya masih cenderung berpusat guru.

Selain itu, gaya mengajarnya juga masih bersifat teacher center. Suatu fakta sekaligus merupakan tragedi di mana masih banyak guru yang memahami materi pembelajaran dengan baik, namun gagal memahami peserta didik. Guru tipe ini sebatas terampil memahami materi pembelajaran (content knowledge) dan mentransfer pengetahuan yang sebenarnya bisa digantikan oleh teknologi. Guru tipe ini juga harus segera berubah dari sekadar menuangkan pengetahuan menjadi berorientasi mengembangkan keterampilan baru abad 21 dengan cara yang baru dalam memfasilitasi pembelajaran.

Tipe ketiga disebut guru superior (demonstrates). Apabila guru dapat membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif dan kreatif, semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, maka ia termasuk guru yang superior. Interaksi pembelajaran tidak lagi hanya terjadi guru dengan peserta didik, namun di antara peserta didik dan peserta didik dengan sumber belajar.

Guru superior suka memanfaatkan media pembelajaran sehingga materi pembelajaran mudah diingat dan dipahami oleh peserta didik. Guru superior sudah mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis peserta didik namun dirinya tetap aktif.

Tipe keempat disebut great teacher (inspires). Guru dengan tipe great sangat dibutuhkan oleh bangsa dan dirindukan selalu oleh peserta didik. Guru tipe ini seolah-olah memiliki x-factor di mana setiap proses pembelajarannya selalu dilandasi oleh panggilan jiwa, ibadah, dan merasa berdosa apabila tidak mampu menginspirasi peserta didiknya.

Great teacher banyak melakukan refleksi diri dan berupaya terus untuk membangun kompetensinya. Guru tipe ini sepenuh hati dan bermurah hati, tampil memesona namun canggih dalam artinya memiliki literasi TIK yang baik, pandai beranalogi, bermetafora, dapat menyelami perasaan peserta didik, ramah dan berwibawa. Bayangkan jika Anda seorang guru yang selalu dirindukan oleh peserta didik sepanjang hari di mana pun dan kapan pun.

Guru inspiratif yang memesona

Guru harus sering melakukan refleksi diri dan evaluasi karena abad 21 menuntut peran guru yang makin tinggi dan optimal. Sebagai konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman makin tertinggal sehingga tidak bisa memainkan perannya secara maksimal dalam mengemban tugas dan menjalankan profesinya. Guru abad 21 memiliki karakteristik spesifik dibanding dengan guru pada era sebelumnya. Karakteristik guru abad 21 akan tercermin dengan aksi penampilan memesona di depan peserta didik. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi guru inspiratif abad 21 yang memesona?

Pertama, guru harus bisa menjadi teman belajar (co learner) yang menyenangkan, pandai membuat analogi materi yang sulit dengan padanan sehingga mudah dipahami. Contoh seorang guru ingin menjelaskan peredaran darah yang sehat maka diibaratkan dengan lalu lintas yang lancar tanpa kemacetan.

Kedua, pandai membuat metafora atau perumpamaan sebagai strategi sehingga peserta didik mudah menangkap esensi dari suatu materi. Misalnya guru bisa menggunakan cerita untuk menumbuhkan kesadaran penggunaan teknologi yang bijaksana. Metafora dapat dipergunakan di awal, di tengah maupun akhir pembelajaran. Contoh pernyataan yang mengandung metafora; "jika engkau berhenti belajar, maka jiwamu akan merasakan sebagaimana tubuhmu jika engkau berhenti makan dan minum".

Ketiga, canggih. Guru memesona harus terlihat canggih sehingga generasi Z merasa ada sesuatu yang perlu dipelajari dari gurunya dan terkagum-kagum. Contoh, guru bisa mendemonstrasikan penggunaan teknologi dan merupakan pengalaman menakjubkan bagi peserta didik. Program animasi flash ditunjukkan kepada anak-anak dari gambar kupu-kupu bisa dirancang menjadi terbang.

Sudah pasti apabila guru yang canggih selalu dikerubuti peserta didik yang selalu menantikan hal-hal yang baru dari gurunya. Cara di atas bisa saja dianggap hal biasa oleh peserta didik di sekolah yang sudah maju, karena itulah guru perlu mengimbangi dan beberapa langkah lebih maju dari peserta didik. Inilah pentingnya guru menyelami dan mengerti benar kegemaran peserta didik. Kecanggihan tidak harus bersentuhan teknologi termasuk misalnya guru bisa bermain sulap, bermain musik, bernyanyi, mendemonstrasikan trik-trik dan sebagainya.

Keempat, humoris namun tegas dan disiplin. Guru yang humoris membawa suasana lebih akrab dan dekat, menyebabkan suasana riang namun tetap tegas dan disiplin kapan waktunya belajar dan kapan bersikap humor.

Kelima, guru pandai berempati dan menyayangi peserta didik. Tidak semua peserta didik berasal dari keluarga yang beruntung secara ekonomi atau banyak yang mengalami kondisi keluarga yang kurang harmonis. Guru harus mengenal satu persatu latar belakang dan bahkan menjadi tempat bernaung dan berlindung. Tugas guru adalah membuat peserta didik belajar nyaman, merasa terlindungi dan bahkan bisa membantu menyelesaikan persoalan peserta didik di sekolah maupun di rumah.

Keenam, memiliki rasa kesepenuhhatian dan menyadari apa yang dilakukan adalah panggilan jiwa. Guru perlu bermurah hati sehingga kelas-kelas kita menjadi tempat yang menyejukkan bagi peserta didik dan termotivasi untuk menjadi generasi tangguh dan baik. Beban hidup guru tidak boleh terekspresikan negatif di depan peserta didik, justru memperlihatkan sosok tangguh yang patut diteladani.

Jika Anda seorang guru yang memiliki ciri seperti contoh di atas, maka saya ucapkan selamat dan jika Anda bertanya, apakah saya ingin menjadi guru inspiratif abad 21 yang memesona? Maka saya akan menjawab dengan tegas, ya" saya ingin menjadi "Great Teacher"!. Sebagai seorang guru saya akan berusaha dengan sekuat tenaga bagaimana predikat itu bisa melekat kepada saya. Semoga Allah SWT merahmati guru-guru yang telah mendidik saya dan semua rekan-rekan guru hebat di seluruh Indonesia.

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah." (HR. Muslim). Wallahua'lam Bisshawab. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved