Senin, 13 April 2026

Tribunners

Mengeskalasi Muruah Bangka Selatan di Panggung Nasional

Hettiara sukses membawa nama daerah Bangka Selatan dalam panggung nasional dengan menjuarai lomba bidang komik digital dalam FLSN tingkat nasional

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rusmin Sopian - Ketua GPMB Bangka Selatan 

Oleh:  Rusmin Sopian - Ketua GPMB Bangka Selatan

MATAHARI baru terbangun dari mimpi panjangnya. Cahaya terangnya terlihat masih malu-malu menyinari persada.

Narasi dalam grup literasi Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan terasa indah, sebagaimana indahnya cahaya terang matahari yang ikhlas menyinari semesta. Sebuah kabar gembira tersampaikan. Siswi SMAN 1 Toboali, Hettiara, sukses membawa nama daerah Bangka Selatan dalam panggung nasional dengan menjuarai lomba bidang komik digital dalam FLSN tingkat nasional di Jakarta.

Prestasi yang ditorehkan warga Negeri Junjung Besaoh ini tentunya mengeskalasi nama daerah dalam pergaulan di tingkat nasional. Prestasi terhormat ini menambah daftar panjang prestasi yang ditorehkan anak Negeri Junjung Besaoh dalam level nasional. Tercatat belasan warisan budaya takbenda ( WBTB) dalam lembar negara di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menambah daftar panjang prestasi yang dieskalasi para pamong budaya dan penggiat budaya negeri ini untuk martabat negerinya.

Dari sejarah tempo dulu yang dapat kita baca dari berbagai buku, catatan, cerita bertutur dan referensi ilmiah dengan tegas dan lugas ditulis, bagaimana rasa patriotisme di kalangan masyarakat Junjung Besaoh ini. Raden Keling, pemimpin rakyat daerah ini pada zaman itu, harus menewaskan Mr. Brown yang merendahkan martabat rakyat daerah ini. Sementara itu, pada 22 Desember 1825, Raden Ali dengan peralatan terbatas mampu mengambil alih Benteng Toboali yang dikuasai Belanda.

Bagi kedua pendekar bangsa asal Toboali ini, martabat bangsa dan daerah Toboali harus dijunjung tinggi kendati nyawa menjadi taruhannya. Sejarah telah menceritakan kepada kita, tentang perjuangan Raden Keling (yang masih bertalian keluarga dengan Sultan Badaruddin ) yang merupakan petinggi di Toboali pada tahun 1812-1819. Raden Keling merupakan incaran Inggris karena membunuh seorang Inspektur Tambang bernama Brown.

Raden Keling juga memimpin pertempuran dengan Belanda di Toboali. Sebagai pembantu Sultan Mahmud Badaruddin untuk daerah Pulau Lepar dan Toboali, Raden Keling dengan dibantu oleh Raden Ali dan Raden Badar membuat Belanda kocar-kacir. Belanda baru dapat menaklukkan Toboali menjelang ekspedisi terbesar ke Palembang di bawah pimpinan Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda Mayor Jenderal Baron De Kock.

Kehebatan perang di Toboali waktu itu digambarkan oleh Kolonel Du Peron (saat itu berpangkat kapten) secara realistis. Dari 300 orang anggota garnisun hanya 8 orang yang sehat. Untuk itu terpaksa menarik pengawal-pengawal dari pasukan perahu kotak dan dari pasukan Raja Akil.

Selama 7 bulan berada di Toboali, 2/3 bagian dari sebuah kompi infanteri yang anggotanya 183 tewas. Hampir seluruh detasemn infanteri yang terdiri dari 30 anggota ikut tewas pula.

Pada sisi lain kita juga sangat paham, tahu, dan ingat dengan R Abdullah. Mengemban amanah sebagai Wedana Toboali, R Abdullah memprakarsai pembangunan sebuah gedung pertemuan. Gedung pertemuan yang diberi nama Gedung Nasional ini berhasil dikerjakan dalam kurun waktu dua tahun dan selesai pada tahun 1951.

Dengan semangat gotong royong yang merupakan roh dan jiwa masyarakat daerah ini, Gedung Nasional yang merupakan gedung nasional pertama yang dibangun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sukses dan hingga kini berdiri dengan gagah di Toboali dengan diarsiteki oleh putra Toboali, M Yusuf Bahir, yang saat itu bekerja sebagai karyawan PN Timah Toboali dan Lie Yung sebagai kontraktor pembangunan.

Demikian pula dengan Komite Perjuangan Pemuda Toboali (KPPT) yang menggelorakan semangat pembentukan Kabupaten Bangka Selatan. Bagi kawan-kawan di KPPT, Bangka Selatan menjadi sebuah daerah otonom baru adalah harga mati untuk martabat negerinya, Bangka Selatan.

Martabat sebuah daerah harus tetap terjaga dengan baik. Martabat sebuah daerah harus dinutrisikan lewat prestasi dan karya para warganya.

Menjaga martabat sebuah daerah adalah tanggung jawab semua pihak. Martabat sebuah daerah menjadi simbol dalam pergaulan di tingkat regional dan nasional sehingga membuat sebuah daerah diperhitungkan daerah lainnya.

Lewat prestasi seni dan budaya negeri hebat ini, Negeri Junjung Besaoh tereskalasi ke panggung nasional, sejajar dengan daerah lainnya. Terima kasih untuk adik kita, warga Bangka Selatan, Hettiara, yang telah mengajarkan kepada kami sebuah episode kehidupan tentang menjaga martabat daerah ini, Negeri Junjung Besaoh. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved