Tribunners

Soal Sahabat Politik

sahabat politik yang patut diajak kolaborasi dan koalisi, sejatinya mereka yang siap berdedikasi, berdikari dan memanggul empati

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Masmuni Mahatma - Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Masmuni Mahatma - Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung

BELAKANGAN ini, dalam politik, yang menonjol (abadi) adalah kepentingan, bukan nilai-nilai dan kebajikan. Kepentingan seperti "bumbu" utama untuk menyedapkan langkah menuju perebutan kekuasaan. Itulah fenomena politik akhir-akhir ini yang kian memprihatinkan. Dengan demikian, wajar "anggapan" terus berhamburan bahwa dalam politik memang tidak ada kawan atau lawan abadi. Sebaliknya, yang abadi, sekali lagi, adalah kepentingan.

Kepentingan, dalam perspektif politik, selalu identik dengan "hasrat" dan "orientasi pragmatisme" demi meraih kekuasaan semata. Dari jalur ini, perilaku politik kadang benar-benar "liar" dan melompati artistika nalar sehat laiknya masyarakat biasa. Tak perlu heran bila banyak "manusia politik" seperti hidup dengan perangai "parlente," mungkin cenderung hedonis, dan utopis. Tampak ambigu untuk berada pada ruang dan level "kebersahajaan" sebagai umat Tuhan.

Lantaran tarikan kepentingan pragmatis itu, sering kali "politikus" abai mengambil pelajaran dan bekal berharga dalam hidup. Mereka terjerumus ke dalam "sirkus" hidup yang lucu-lucu dan tak jarang ditertawakan. Ada yang tiba-tiba "dikencani" KPK, "dipacari" kepolisian, "dipapah" kejaksaan, dan lain-lain. Hidup mereka seakan-akan terbalik 180 derajat, yang tadinya kaya raya, penampilan necis, klimis, seketika tersesat dan (mungkin) melarat. Atau, dalam bahasa lain, "dijauhkan" dari kondisi bugar secara sosial.

Alur Politik

Sebagian besar masyarakat, hampir mafhum alur politik (praktis) sekarang ini. Memang menggoda, atau bahkan membuat banyak orang tergoda. Spirit ini jua yang melatari tak sedikit yang hobi politik untuk selalu mendesain propaganda, agitasi, dan retorika. Ini realitas. Patut dicermati seteliti mungkin sehingga alur politik dapat dipahami secara rasional dan proporsional. Sebab alur politik, tak bisa ditebak. Kadang menyuguhkan tanjakan, sering pula menghadirkan hal-hal di luar dugaan.

Alur politik pun tak bisa dijauhkan dari dinamika atau gelombang kepentingan. Dalam konteks ini, ketika kepentingan mendominasi pikiran dan ambisi, yang akan mengemuka adalah nalar "keterbalikan." Sering kali sahabat jadi yang terkhianat, lawan tiba-tiba bagian dari kemesraan. Keluarga bisa jadi musuh, dan orang lain yang sama pandangan maupun kemauan langsung dianggap "sedarah." Fenomena yang tidak asing di lingkaran alur politik praktis-pragmatis.

Dari fenomena semacam itu, alur politik juga senantiasa penuh teka-teki. Tak jarang banyak perkiraan, perhitungan, atau keyakinan meleset sekian puluh derajat. Konsekuensinya, bukan sekadar mencengangkan, tetapi benar-benar mengharukan. Yang kurang punya bekal mental kuat akan tergerus tarikan utopisme berlebihan. Dengan mudah mengorbankan prinsip-prinsip kejujuran dan kebenaran. Bahkan rela menapikan kedalaman suara nurani kemanusiaan, hanya untuk konstruksi kepentingan kesementaraan.

Di sisi lain, alur politik sering kali melepaskan diri dari paradigma kesetiakawanan dan amanah ketuhanan. Barangkali ini salah satu bukti bahwa komitmen politik bukan wujud dari aktualisasi kebajikan universal, tetapi semata-mata "asap persekongkolan" yang terhidang secara parsial. Wajar kalau dalam politik yang abadi hanya kepentingan dengan pelbagai bumbu pragmatisme. Bahkan yang kekal dalam wataknya adalah "penyanderaan" kekuasaan belaka.

Memilih Sahabat

Tujuan dan target politik tidak akan pernah bisa dikerjakan tanpa kolaborasi dan koalisi dengan kekuatan sosial lain. Politik itu, secara praktis, adalah "mekanisme" memilah, menata, dan mengikat aspirasi demi merengkuh kepentingan. Bahwa ketika kepentingan direngkuh, tiap pihak mulai berbeda arah langkah dan orientasi, bagi pehobi politik dianggap hal biasa. Demikian realitas politik dengan pelbagai eksplorasinya di ruang publik. Deru suka dukanya memang tak disangka dan tidak terkira. Tampak ringan namun selalu menyimpan aneka "rahasia" tersendiri.

Berkolaborasi dan koalisi, sederhananya adalah pola mencari dan memilih sahabat demi menguatkan gerak serta laju penambangan kuasa politik. Sekira yang ditanamkan sebatas memanen dan menikmati manipulasi kepentingan, percekcokan tak akan terhindarkan. Selalu muncul dan menyuguhkan disorientasi maupun tindihan tendensi. Sebaliknya, bila yang diinternalisasi konstruksi pengkhidmatan atas dasar nilai-nilai kerukunan, dan keharmonisan, maka kebajikan pasti jadi keniscayaan.

Untuk itu, sahabat politik yang patut diajak kolaborasi dan koalisi, sejatinya mereka yang siap berdedikasi, berdikari dan memanggul empati. Bukan pihak yang hidup dari dan untuk sekadar ambisi tanpa sedikit pun berpijak terhadap suara nurani. Sebab ketika mengabaikan suara nurani, kesadaran maupun perilaku sosial mudah tervirusi dan terjauhkan dari amanah ilahi. Agama mengajarkan, bahwa suara nurani, adalah sumbu manusia "menyehatkan" eksistensi diri.

Sahabat politik yang baik dan mencerahkan, bukan mereka yang ketemu dan bertamu di persimpangan. Itu baru "pengenalan" dan "perangsangan." Belum bisa dijadikan ukuran dan rujukan. Namun sahabat yang secara kesadaran, emosi dan spirit benar-benar atas kesetiaan dari kesungguhan saling menumbuhkan maupun membesarkan, itulah patut didambakan. Sebab mereka senantiasa berpijak dari keterbukaan, kedewasaan, dan kearifan, demi kualitas kerukunan, termasuk dalam konteks politik serta demokrasi yang berkeadaban. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved