Tribunners
Cuaca Panas: Antara Problematika dan Hikmah
Mengeluh dan bahkan mengutuk keadaan bukanlah jalan satu-satunya untuk menanggapi cuaca yang saat ini sangat panas
Oleh: Reza Mardiyanti, S.Sos. - Alumnus Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung, Staf Administrasi UPTD SMPN 4 Belinyu
INDONESIA memiliki dua musim, yakni musim kemarau (panas) dan musim hujan. Saat ini Indonesia sedang dilanda musim kemarau. Cuaca terasa sangat panas dan menyengat kulit. Hal ini juga terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Kecamatan Belinyu.
Beberapa titik di wilayah Kecamatan Belinyu berada di pinggiran laut, hal ini juga memicu suhu meningkat dengan pesat, ditambah pula dengan angin yang lebih kencang dari biasanya membuat debu bertebaran di udara. Beberapa hal ini dimungkinkan terjadi karena memang adanya perubahan iklim sehingga kasus polusi udara juga makin meningkat dan memperparah keadaan.
Beberapa contoh yang terjadi baru-baru ini terjadi kebakaran lahan yang merambat akibat pembakaran lahan untuk berkebun sehingga menimbulkan dampak bagi lahan di sekitarnya, termasuk perkebunan kelapa sawit terkena imbasnya. Suasana ekstrem ini juga bukan hanya tentang masalah lingkungan semata, melainkan pula terkait dengan masalah ekonomi dan sosial.
Bagaimana tidak? Meskipun cuaca ekstrem kita harus tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Yang berkebun akan tetap berkebun, yang bekerja di perusahaan tetap harus bekerja, yang bekerja di instansi pendidikan, kesehatan, dan lain-lain tetap harus bekerja. Padahal cuaca panas yang ekstrem ini tetap memengaruhi kinerja di masing-masing bidang.
Bagaimana jika diambil salah satu contoh sekolah yang berada di dekat pesisir pantai dengan cuaca panas dan disertai angin kencang. Debu berhamburan berputar mengikuti arah angin, untuk melakukan kegiatan di luar kelas saja, misalnya senam atau upacara bendera, terkena dampaknya. Pembelajaran di kelas juga kurang fokus karena cuaca panas melebihi kualitas angin yang dihasilkan dari beberapa kipas angin yang biasa digunakan.
Ditambah lagi dengan kekeringan air sehingga kebutuhan air untuk buang air kecil dan buang air besar sangat terbatas, apalagi untuk menyirami tanah atau halaman sekolah sangatlah minim. Meskipun sempat diterapkan solusi untuk bahu-membahu membawa air dari rumah menggunakan botol untuk mengumpulkan air dalam bak, atau menyirami bunga dan halaman akan tetapi tak bisa ditangani dengan maksimal.
Selain itu juga di beberapa titik lokasi sedang ada perbaikan jalan dan selokan sehingga pasir atau tanah yang ada pada perbaikan jalan tersebut menghasilkan debu yang terbawa oleh angin. Terlebih, pengendara kendaraan roda dua ataupun roda empat harus lebih berhati-hati dalam menggunakan jalan. Selain posisi jalan dan selokan yang sedang tahap perbaikan, juga panas aspal yang terkena sinar matahari dikhawatirkan akan memengaruhi ban motor/mobil sehingga perlu adanya kewaspadaan dalam laju kecepatan kendaraan dalam melakukan perjalanan.
Beberapa dampak dari cuaca panas bisa saja terjadi kepada kita seperti dehidrasi, iritasi pada kulit dan mata, mudah lelah, dan juga memungkinkan sakit kepala disertai mimisan. Beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk terhindar atau mengurangi dampak tersebut, yakni minum air bersih dan sejuk yang cukup agar terhindar dari dehidrasi, berusaha menghindari kontak langsung dengan sinar matahari (setidaknya menggunakan topi, payung, atau helm dan masker saat berkendara motor), mengenakan baju yang lembut dan mudah menyerap keringat dengan baik, tidak keluar rumah/ruangan apabila tidak ada kepentingan yang mendesak, mengenakan kacamata hitam/gelap saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah mata menjadi perih ataupun silau karena panas, dan lain-lain.
Cuaca panas ini juga bukan hanya berdampak negatif, melainkan ada juga beberapa dampak positif (menguntungkan), misalnya di beberapa bidang ekonomi, yakni pemilik usaha es dan minuman segar terbilang cukup menggiurkan di tengah cuaca yang seperti ini. Pemilik usaha layang-layang, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar, bisa laku di kalangan masyarakat, harganya juga bervariasi.
Untuk ukuran yang besar, layang-layang tersebut dapat mencapai harga Rp100 ribu per buah. Di beberapa titik wilayah, banyak layang-layang ukuran besar (yang sering kita sebut layang-layang gueng) yang diterbangkan sebagai sarana hiburan di tengah cuaca panas dan berangin ini. Angin yang cukup kencang teratur ini akan lebih memudahkan layangan tersebut diterbangkan.
Berbagai dampak negatif dan positif tersebut sangat memengaruhi manusia, baik secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Untuk itu, semua pihak diharapkan mampu bekerja sama sesuai perannya masing-masing. Mengeluh dan bahkan mengutuk keadaan bukanlah jalan satu-satunya untuk menanggapi cuaca yang saat ini sangat panas, akan tetapi ada banyak hikmah dan manfaat lain dari hal ini yang lebih patut disyukuri dengan baik. Apa pun permasalahan lebih mungkin bisa diselesaikan dengan baik berkat kerja sama berbagai pihak untuk bisa menyelesaikannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230904_Reza-Mardiyanti-Alumnus-Universitas-Bangka-Belitung.jpg)