Tribunners

Tentang Sahabat Kehidupan

Sahabat kadang bisa menjadi salah satu ukuran terkait keberadaan maupun kualitas diri seorang hamba.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Wakil Rektor 2 IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Wakil Rektor II IAIN SAS Babel

DALAM menjalani kehidupan, tak seorang pun rela berada dan mengada sendirian. Semua manusia hidup senantiasa ingin menikmati dan menguatkan kebersamaan, baik lantaran sekadar berbagi cerita atau memang hendak meluruskan cipta dan karya sebagai hamba. Terlebih lagi seluruh manusia diciptakan oleh Allah SWT itu sebagai khalifah di muka bumi. Wajar kalau manusia harus bertumbuh sekaligus mengembangkan diri, baik untuk konteks personal maupun demi kemaslahatan komunal.

Supaya mampu mengemban amanah kekhalifahan, tiap manusia memerlukan cara, pola, motivasi, spirit, cita-cita, termasuk support antarsesama. Dalam istilah lain, tanpa disadari, sesungguhnya manusia membutuhkan sahabat seturut makna dan fungsi sosialnya sendiri. Apalagi, kata para filsuf, manusia adalah makhluk rasional, butuh "eksistensi" yang tak ringan. Demi kedigdayaan eksistensialitas itu, tiap manusia terus-menerus harus memompa, mengeksplorasi, mentransformasi potensi, bakat, dan kehendak sosial yang dianugerahkan Allah SWT.

Sahabat maupun persahabatan adalah niscaya dan bagian dari bekal kehidupan. Begitu pentingnya nilai dan esensi persahabatan, tiap manusia dianjurkan untuk merajut interaksi antarsesama makhluk Tuhan seoptimal mungkin. Sebab bersahabat, kata Ibn Miskawaih (1998 : 134) merupakan bagian cinta dan kasih sayang. Maka, lanjut Miskawaih, ada baiknya menjalin persahabatan itu dikonstruksi dan diparfumi kebaikan sehingga pelbagai dimensinya akan lahir, tumbuh, dan berkembang juga demi kebaikan.

Bekal kehidupan

Siapa pun kita, tetap sama, yakni sebagai hamba. Manusia biasa, makhluk Tuhan yang lemah, penuh keterbatasan, tidak mempunyai daya lebih mengarungi lautan kehidupan. Kecuali atas kehendak, pertolongan, hidayah dan anugerah-Nya. Secara ikhtiari, kewajiban kita jelas, yaitu terus mencari, memilih, dan mengambil bekal untuk bisa menumbuhkan kehidupan. Bekal yang bukan berupa benda, materi, atau makanan, melainkan bekal berbentuk nilai, spirit, kehangatan, kasih sayang dan kerinduan berkemanusiaan.

Dalam rangka mengarungi kehidupan sebaik mungkin, belum tentu kita jalani sendiri. Secara sosiologis, tiap diri senantiasa butuh lingkungan, teman, keluarga, dan sahabat agar dapat berinteraksi serta berkoneksi. Karena hidup itu tidak stagnan dan pasif. Hidup itu bertumbuh dan dinamis. Hidup senantiasa melatih kita produktif. Hidup menuntut kita tidak boleh berpangku tangan. Hidup, filosofinya, dari dan untuk kejuangan. Demikian amanah Tuhan, minimal ketika bersumpah "demi masa" (QS. Al-'Asr: 1-3) sehingga kita menemukan bekal kehidupan, yakni berbuat kebajikan atas dasar kesemestaan.

Di ayat lain Allah SWT menegaskan bahwa kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbeda-beda, sejatinya untuk saling menghangatkan dan mendewasakan. Bukan menjadi nafsi-nafsi, sendiri-sendiri, menutup diri (eksklusif), tetapi perlu terbuka, peka rasa, peka suka, dan peka selera (inklusif). Dalam bahasa Al-Qur'an, ini disebut "lita'arofu," yakni saling mengenali, mengedukasi, memuliakan dan mencintai (QS. Al-Hujurat : 13). Inilah konstruksi paradigmatik-quranik membekali diri dalam kehidupan. Sharih dan mencahayai kedirian sebagai khalifah Tuhan.

Dengan saling mengenali dan mendewasakan, kita akan mendapatkan bekal kehidupan yang baik dan mencerahkan. Bekal yang pelan tetapi pasti akan prospektif untuk masa depan keduniaan sekaligus keakhiratan. Bekal yang tidak akan menggelincirkan kita dari konstruksi dan orientasi ketakwaan. Dan inilah alur bekal persahabatan yang kelak akan menyehatkan lahir maupun batin, di hadapan sesama maupun di pengadilan Tuhan. Sebab dengan bekal hidup semacam ini, tiap diri akan rajin introspeksi berbasis amanah ilahi.

Sahabat kehidupan

Perspektif bekal kehidupan di atas, disadari atau tidak, akan mengantarkan tiap diri mengenali betul mana sahabat untuk menceriakan hidup dan siapa yang "memanipulasi" kebajikan. Dengan demikian, eksistensi persahabatan menjadi jembatan merapikan kualitas hidup dan laju peradaban. Bukan sebaliknya, menjadi sahabat batu lompatan, apalagi sahabat politik berbasis kepentingan yang acapkali memunculkan pengkhianatan.

Oleh karena itu, mengenali sahabat dalam menjalani kehidupan, perlu cermat dan kritis sehingga kehadiran dan keberadaan sahabat mampu dijadikan bekal memompa, mensterilkan, menyuburkan nilai kebajikan maupun kehambaan. Bukan semata-mata dibaluri kepentingan politis-pragmatis dan hedonistik, yang sering mendistorsi keharmonisan. Sebab dari disorientasi ini, berulang kali menyeruak pengkhianatan dengan berbagai modus dan tendensinya. Sekali lagi, kejelian memilah, memilih, dan menginternalisasi persahabatan dalam hidup, salah satu kunci penataan harmoni insaniyah-ilahiah.

Raja Ali Haji (2000: 8), dalam gurindam bertutur "cahari olehmu akan sahabat/yang boleh dijadikan obat." Sahabat bukan semata-mata melengkapi "perangkat" dalam interaksi dan koneksi, melainkan harus sebagai obat dari dan untuk kehidupan yang religius. Kanjeng Nabi Muhammad Saw mengajarkan, untuk mengenali kualitas diri seseorang, lihat cara dan siapa sahabat dekatnya. Sahabat kadang bisa menjadi salah satu ukuran terkait keberadaan maupun kualitas diri seorang hamba. Meniru filosofi leluhur Madura, "akanca ben oreng alem paste milo ro'omma ka-aleman. Akanca ben oreng korang sehat kalakoan, paggun milo ka beuna keya."

Bahkan, Raja Ali Haji menegaskan, "cahari olehmu akan kawan/pilih segala orang yang setiawan." Terang sekali bahwa soal persahabatan itu menyangkut karakteristik kesetiaan, bukan tendensi berlebih dan pengkhianatan. Persahabatan, perkawanan, bukan sekadar melengkapi aspek sosiologis kehidupan. Lebih dari itu, demi "teologi kemanusiaan," menguatkan iman, ketakwaan, kedewasaan, dan kematangan hidup keagamaan. Karena hidup hari ini, merupakan jaminan ketenteraman dan kedamaian di masa depan.

Seperti petuah leluhur, "sahabat baik adalah mereka yang setia dalam suka, duka hingga akhir hayat bukan berkhianat karena urusan dunia dan abai pada naluri akal sehat sehingga mampu mengambil bekal dari dan untuk kelangsungan hidup bermasyarakat." Raja Ali Haji (2000: 7) menegaskan, "jika hendak mengenal orang yang berakal/di dalam dunia mengambil bekal. Bahkan Ibnu Athaillah (2015 : 151) menguatkan, sahabat terbaikmu sesungguhnya mereka yang terus mengharapmu bukan semata untuk memperoleh keuntungan darimu. Itu sama sekali bukan sahabat sejati. Naudzubillah. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved