Tribunners

Habituasi Membaca

memasyarakatkan gerakan membaca adalah tugas kita semua sebagai anak bangsa untuk kemajuan daerah, bangsa, dan negara ini

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rusmin Sopian - Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan 

Oleh: Rusmin Sopian - Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan

BERDASARKAN data tingkat gemar baca yang dirilis oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2023, rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca empat sampai lima bahan bacaan per tiga bulan. Tingkat kegemaran membaca masyarakat menunjukkan tren positif hingga meraih skor 63,9 persen, namun berbagai usaha aktif masih dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan tingkat literasi dan mempersiapkan generasi muda Indonesia agar dapat bersaing menjadi masyarakat global.

Kita sepakat bahwa kecintaan terhadap literasi baca atau pustaka bukan semata warisan genetik. Kemampuan literasi tidak tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan melalui proses habituasi atau pembiasaan yang sarat akan spirit. Karena itu, usaha menggiatkan daya literasi baca bagi seluruh anak bangsa seyogianya terus digelorakan tanpa henti.

Pemerintah sudah berupaya untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya di sekolah serta kehidupan anak bangsa. Upaya yang dilakukan seperti mengeluarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 ayat (5) mengenai prinsip penyelenggaraan pendidikan melalui budaya membaca. Lalu, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang menginisiasi kegiatan membaca non-teks pelajaran 15 menit.

Setiap orang pasti memerlukan wawasan. Wawasan yang luas dan banyak dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan memperkaya ilmu. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkannya, seperti mengobservasi, bereksperimen, menonton, menulis, dan membaca.

Membaca merupakan kegiatan melihat, mengambil informasi, dan belajar dari bacaan dengan maksud tertentu. Dengan banyak membaca tentu kita sebagai pembaca banyak memperoleh informasi, pengetahuan sehingga memperkaya wawasan kita. Membaca mengaitkan pembaca dengan wawasan.

Soal bahan bacaan, bangsa Indonesia pernah mengalami surplus penyediaan bahan bacaan berupa buku. Setidaknya ini yang pernah ditulis oleh Kepala Perpusnas pertama RI, Mastini Harjo Prakoso, yang dimuat pada Majalah Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia (HPCI), yang menyebutkan bahwa Indonesia pernah menjadi negara yang produktif dalam menerbitkan berbagai judul buku.

Hal itu juga terkait dengan semangat Presiden pertama RI Soekarno yang memang sangat gemar membaca dan mendukung penuh untuk menjadikan penerbitan termasuk juga aktivitas membaca, pemberantasan buta huruf, sebagai prioritas utama. Terlihat pada tahun 1963, banyak terbitan buku di Indonesia bahkan pihak swasta sudah mulai berani membangun berbagai usaha penerbitan dan buku di Indonesia. Bahkan ini pernah menjadi perhatian Amerika Serikat suntuk membeli buku terbitan Indonesia dengan membuka kantor cabang Perpustakaan Nasional Amerika Serikat di Indonesia.

Tak hanya Amerika Serikat, Badan Literasi Belanda Koninklijk Instituut voor Taal -, Land - en Volkenkunde (KITLV) memusatkan untuk mengakuisisi terbitan Indonesia di bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan. Australia juga membuka perwakilan kantor Perpustakaan Nasional menunjuk agennya untuk membeli ragam buku terbitan Indonesia khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan sosial.

Saat ini gerakan literasi membaca sudah mengakar hingga ke pelosok negeri. Menembus kampung-kampung terjauh bahkan terluar. Ini sebuah habituasi membaca yang patut kita hargai dan apresiasi dan aplaus terutama untuk para penggiat literasi membaca.

Jumlah buku dan bahan bacaan pun melimpah ruah. Jumlah penulis buku pun beranak pinak hingga menembus kampung-kampung.

Sementara itu, jumlah klub buku, komunitas membaca hingga perpustakaan keliling menjamur. Bahkan Perpustakaan Nasional berada di lingkungan pusat pemerintahan negara, di Jalan Merdeka Barat, sebagai simbol peradaban sebuah bangsa.

Tentunya dengan dukungan yang kuat dari pemerintah dan bukan sekadar lip service semata untuk narasi pencitraan semata yang hanya untuk kepentingan sesaat. Gerakan membaca mestinya menjadi lifestyle atau gaya hidup bangsa, dan itu harus dimulai secara simultan dan terus-menerus tanpa henti. Bukan hanya di ruang kelas sekolah, melainkan di ruang-ruang terbuka, di ruang-ruang publik yang mudah diakses publik. Pada sisi lain, pemerintah pusat bisa memberikan dana insentif untuk daerah atau sekolah serta institusi yang berhasil menciptakan gerakan membaca sebagai gaya hidup.

Gerakan literasi berupa membaca adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa, menciptakan anak bangsa yang berkualitas tinggi, melahirkan anak bangsa yang berpengetahuan berwawasan luas. Dan sungguh berbahagialah seorang pemimpin yang mampu menggerakkan literasi membaca sebagai sebuah legacy untuk diwariskan kepada generasi penerus. Dan sungguh berbahagialah seorang pemimpin yang mampu menjadi pusat membaca sebagai ikon kota/daerah yang dipimpinnya sebagai bagian dari peradaban sebuah daerah dan kota.

Dan memasyarakatkan gerakan membaca adalah tugas kita semua sebagai anak bangsa untuk kemajuan daerah, bangsa, dan negara ini. Kalau demikian, ayo kita membaca! Membaca itu membahagiakan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved