Jumat, 10 April 2026

Tribunners

Mengelola Kecemasan Menjelang Tahun Politik

Kurangnya pemahaman tentang isu-isu politik dan kegiatan politik, tidak jarang menyebabkan masyarakat menjadi cemas, bingung

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Arief Azizy - Penggiat Jaringan GusDurian Kediri 

Oleh: Arief Azizy - Penggiat Jaringan GusDurian Kediri

MEMASUKI tahun politik, fenomena munculnya ujaran kebencian, hoaks, dan black campaign selalu mewarnai tahun politik. Fenomena semacam ini makin menjadi-jadi. Bagi mereka yang aktif di media sosial dari waktu ke waktu pasti disibukkan dengan hal semacam itu. Memang, hidup di zaman disrupsi sangatlah tidak mudah, ledakan informasi yang masif membuat sebagian kita kadang kebingungan, bahkan lebih dari hal tersebut kita menghadapi kecemasan.

Ya, diakui atau tidak, hidup di tengah arus informasi 5.0 merupakan tantangan tersendiri. Lebih-lebih memasuki tahun politik, kita makin harus bekerja lebih keras supaya tidak terseret arus informasi. Menjelang perhelatan besar hajat demokrasi, kita dihadapkan pada informasi dan dinamika politik yang sangat pelik. Tak heran, sebagian dari kita kebingungan dalam menghadapi hajat besar demokrasi soal pilih memilih pemimpin bangsa.

Kurangnya pemahaman tentang isu-isu politik dan kegiatan politik, tidak jarang menyebabkan masyarakat menjadi cemas, bingung, dan bahkan apatis. Literasi politik yang menyentuh masyarakat masih kurang sehingga kesadaran politik tidak dibarengi dengan variabel lain, yakni literasi politik. Dalam konteks saat ini, memang penting adanya literasi politik yang di mana dapat dipahami sebagai kemampuan warga dalam mendefinisikan kebutuhan yang menyangkut pemilu.

Tak sedikit juga dari masyarakat yang mengalami merasa cemas dan emosional pada saat memasuki tahun politik. Berbagai macam studi psikologi yang menunjukkan bahwa, kecemasan selalu muncul pada tahun-tahun politik atau menjelang pemilu. Hal ini terjadi bukan hanya di Indonesia saja, namun juga terjadi di berbagai wilayah belahan dunia.

Pada umumnya, kecemasan mengacu pada sebuah keadaan kekhawatiran yang berkepanjangan, di antaranya disebabkan oleh ketidakpastian tentang ancaman di masa depan. Ancaman yang datang dari masa lalu besar kemungkinan memengaruhi ketidaksadaran sehingga pengaruhnya terhadap risiko yang akan datang.

Secara psikologis, kecemasan adalah emosi alami yang lahir dan sangat penting sekali untuk keberlangsungan hidup setiap manusia. Berbeda halnya dengan kecemasan, ketakutan merupakan salah satu respons akut dan berkembang secara bertahap terhadap proses ancaman yang datang secara langsung, serta hal ini dapat diidentifikasi.

Memasuki tahun politik, berbagai macam riset dilakukan secara mendalam, bahkan berbagai data ini mendukung dalam proses mempersiapkan kontestasi politik. Lebih-lebih soal hal yang berkaitan dengan masalah psikologis, American Psychological Association melakukan survei "Stress di Amerika". Hampir separuh lebih responden mengidentifikasi Pemilu 2020 menghasilkan temuan bahwa tahun tersebut menjadi pemicu stres yang sangat signifikan di Amerika. Prevalensi gejala kecemasannya pun di antara seluruh populasi adalah 3 kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Tentu saja, hal ini patut kita waspadai bersama untuk mengelola dengan baik. Bahwa kita tahu bagaimana kecemasan memasuki tahun politik bisa menjadi suatu hal yang memiliki prevalensi yang rendah. Segala bentuk kekhawatiran kita mengenai dampak hasil pemilu terhadap kehidupan dan masyarakat kita, semuanya berpotensi berdampak pada kesejahteraan kita sebagai pemilih. Hal ini tentu terlepas dari siapa yang akan mendulang suara dari kita.

Meditasi atas ketidakpastian politik

Meminjam istilah dari Donna Zajonc dalam The Politics of Hope, untuk membangkitkan politik harapan pada suatu bangsa harus mulai merangkak keluar dari anarkisme, tradisionalisme, dan apatisme terhadap proses partisipasi pemilihan pimpinan publik. Kita perlu mengetahui bersama bahwa dalam dinamika politik secara psikologis tampak yang muncul adalah sebuah harapan. Politik harapan merupakan bagian dari usaha merawat optimisme dalam situasi yang krisis dengan cara saling ketergantungan dengan realitas yang ada.

Singkatnya, sebuah usaha dalam merawat optimisme dan asa demokrasi di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan cara pandang kita terhadap politik ketakutan yang seharusnya segera dengan cepat diubah dengan cara pandang menjadi politik harapan. Sampai sini, kita paham bagaimana konstruksi politik pembangunan juga sangat penting adanya, mengingat pengembangan-pengembangan ruang yang lebih inklusif sangat diperlukan.

Salah satu usaha yang tepat adalah menghindari konsumsi berlebih dalam media sosial, ya bolehlah mengikuti arus informasi yang ada secukupnya saja. Politik bergerak melampaui ketidakpastian yang sering sekali membawa kita pada kecewa, bahkan cemas. Bisa juga mengunjungi situs-situs atau platform meditation yang tersedia di Google. Banyak konten dan bahan meditasi yang dapat membantu kita dalam memeditasi atas kekecewaan kita terhadap politik ketidakpastian.

Perlu kita sifati bersama dengan bijak, bahwa dampak daripada tahun politik sangat kita bisa rasakan. Penuh kejutan, meriah, dan sering juga menebar ketidakpastian gagasan kepada khalayak. Hingga hari ini, kondisi politik kita sangat masih baik-baik saja, mengingat tahun ini belum mulai tampak isu politik identitas yang tahun lalu bergema. Harapannya, semoga tidak ada politik identitas pada tahun politik kali ini. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved