Tribunners
Dampak AI dalam Pembelajaran yang Bermakna
Keterampilan berpikir kritis siswa tidak dapat didorong oleh AI karena keterbatasannya
Oleh: Yuni Fitriyah - Mahasiswa Magister Universitas Pendidikan Indonesia
DALAM beberapa tahun terakhir, artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berkembang pesat dan telah diintegrasikan ke berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Artificial intelligence menghadirkan peluang baru untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan matematika. Pengintegrasian AI dalam kegiatan pembelajaran dapat mempersonalisasi pengalaman belajar setiap siswa serta mampu menciptakan proses pembelajaran yang efisien.
Namun, ada kekhawatiran bahwa AI dapat menghalangi siswa merasakan proses pembelajaran yang bermakna dan bersifat menyenangkan sehingga memaksimalkan siswa dalam menerima informasi dan pengetahuan baru untuk meningkatkan kemampuannya. Artificial intelligence yang melulu digunakan dalam pembelajaran dapat membatasi perkembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan interaksi sosial di kalangan siswa.
Keterampilan berpikir kritis siswa tidak dapat didorong oleh AI karena keterbatasannya. Sebab, secara umum platform AI mengandalkan algoritma dan pola yang telah ditentukan untuk menyampaikan konten dan mengevaluasi kinerja siswa. Meskipun hal ini bermanfaat untuk memberikan umpan balik secara langsung dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan, namun dapat menghambat pengembangan keterampilan berpikir kritis yang melibatkan analisis, sintesis, dan evaluasi informasi untuk membentuk penilaian independen. Siswa memerlukan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai perspektif, mengajukan pertanyaan, dan terlibat dalam debat, yang mungkin tidak difasilitasi oleh AI secara memadai.
Sebagai contoh, AI membantu siswa menjawab soal matematika menantang tanpa membebani pikiran mereka dengan proses pemecahan masalah yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan American Psychological Association, siswa yang berpartisipasi dalam diskusi dan debat langsung dengan teman atau pendidik menunjukkan pemikiran kritis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang hanya berinteraksi dengan platform pembelajaran berbasis AI.
Selain itu, penggunaan AI dalam pembelajaran memberikan kecenderungan dalam menghambat perkembangan kreativitas siswa. Dalam pembelajaran bermakna, kreativitas mendorong siswa untuk berpikir di luar kebiasaan, mengeksplorasi ide-ide baru, dan memecahkan masalah secara inovatif. Namun, ketergantungan AI pada pola dan algoritma yang telah ditentukan dapat menghambat siswa untuk berpikir kreatif. Siswa mungkin tidak mencari solusi alternatif atau mengembangkan metode mereka sendiri karena sistem AI dirancang untuk memberikan jawaban yang benar berdasarkan data yang ada.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Educational Computing Research menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam aktivitas langsung dan proyek kolaboratif di ruang kelas tradisional menunjukkan tingkat kreativitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang sepenuhnya bergantung pada platform pembelajaran berbasis AI.
Selain itu, penggunaan AI dalam pembelajaran dapat mengurangi jumlah interaksi sosial yang terjadi di antara siswa. Interaksi antarsiswa merupakan salah satu komponen penting dalam mewujudkan pembelajaran bermakna yang bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang interaksi sosial dan hubungan emosional. Interaksi manusia memainkan peran penting dalam menumbuhkan empati, keterampilan komunikasi, dan kerja tim di kalangan siswa. Meskipun dapat memberikan pengalaman belajar yang dipersonalisasi, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan guru manusia dalam hal dukungan dan bimbingan emosional.
Siswa yang memiliki hubungan yang kuat dengan gurunya cenderung lebih terlibat dan termotivasi untuk belajar, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Education Association. Bimbingan, umpan balik yang dipersonalisasi, dan interaksi tatap muka adalah komponen yang mungkin sulit ditiru oleh AI.
Pada akhirnya, meskipun AI dapat merevolusi pendidikan dengan memberikan pengalaman belajar yang personal dan efisien, ia harus digunakan sebagai alat pelengkap dan bukan hanya sekedar alat pengajaran. Karena keterbatasan AI dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan interaksi sosial, pendidik harus memastikan bahwa siswa menerima pengalaman pembelajaran yang signifikan mendorong perkembangan intelektual, kreatif, dan sosial mereka. Mereka dapat melakukan ini dengan menyeimbangkan metode pengajaran dan interaksi manusia dengan AI. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230930_Yuni-Fitriyah-Mahasiswa-Magister-Universitas-Pendidikan-Indonesia.jpg)