Kamis, 9 April 2026

Berita Pangkalpinang

Beras dan Rokok Kretek Picu Inflasi di Babel September 2023, BI Perkuat Program dengan GNPIP 

Komoditas seperti beras dan ikan menjadi penyumbang inflasi selama September 2023 di Kepulauan Bangka Belitung.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: khamelia
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Deputi Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Bangka Belitung, Agus Taufik 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Komoditas seperti beras dan ikan menjadi penyumbang inflasi selama September 2023 di Kepulauan Bangka Belitung.

Gabungan dua kota yakni Pangkalpinang dan Tanjungpandan mengalami inflasi 0,90 persen (mtm) atau 3,55 persen (yoy).

Inflasi bulanan (mtm) gabungan dua kota di Bangka Belitung utamanya disumbangkan oleh komoditas beras, cumi-cumi, dan ikan bulat. Sedangkan, inflasi tahunan (yoy) terutama bersumber dari komoditas beras, angkutan udara, dan rokok kretek filter.

Secara spasial, Deputi Kepala KPwBI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Agus Taufik menyebut, Kota Pangkalpinang mengalami inflasi bulanan 0,61 persen (mtm) atau secara tahunan 2,70 persen (yoy) dengan IHK 115,72. 

"Inflasi bulanan (mtm) terutama bersumber dari komoditas beras, rokok kretek filter, dan ikan selar. Sedangkan inflasi tahunan (yoy) terutama bersumber dari komoditas beras, rokok kretek filter, dan angkutan udara," jelas Agus Taufik dalam rilis kepada Bangkapos.com, Selasa (3/10/2023).

Sementara itu, lanjut Agus Taufik, Kota Tanjungpandan, mengalami inflasi bulanan 1,41 persen (mtm) atau secara tahunan 5,03 persen (yoy) dengan IHK 121,63. 

"Inflasi bulanan terutama bersumber dari komoditas beras, ikan bulat, dan cumi-cumi. Sedangkan andil inflasi tahunan bersumber dari komoditas angkutan udara, beras, dan ikan bulat," tuturnya.

Agus menegaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bangka Belitung terus memperkuat program-program pengendalian inflasi daerah antara lain melalui operasi pasar atau pasar murah, termasuk pasar murah bersubsidi, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras oleh Bulog, sidak pasar, serta perluasan Kerja sama Antar Daerah (KAD). 

"Hingga September 2023, telah terlaksana 204 kali operasi pasar atau pasar murah dan SPHP beras di 7 kabupaten dan kota di wilayah Bangka Belitung. 

"Untuk mengatasi tren kenaikan harga beras, berbagai program juga telah dilakukan antara lain melalui skema kerjasama buy to sell komoditas beras yang melibatkan Bulog, Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) lokal,  dan Pemerintah Daerah di Belitung Timur," pungkasnya.

Kata Agus, Bank Indonesia juga terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mendorong program-program pengendalin inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) antara lain melalui peningkatan luas tanam dan produktivitas komoditas pangan dan hortikultura seperti aneka cabai, bawang merah, sayur mayur, dan ikan air tawar.  

Upaya-upaya tersebut melibatkan kelompok tani, pondok pesantren, kelompok wanita tani, PKK, dan mitra lainnya guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar Bangka Belitung. 

"Salah satunya melalui program Kelurahan Tanggap Inflasi di Kelurahan Sinar Bulan dan Kelurahan Bukit Besar, Pangkalpinang yang melibatkan 2 (dua) KWT yang berfokus pada tanaman hidroponik dan budidaya ikan lele," tuturnya.

Hingga September 2023, Agus menyebut, kedua KWT tersebut telah melaksanakan 34 kali panen masing-masing sebesar 673,5 kg dan 171,8 kg. 

"Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat menjaga angka inflasi Bangka Belitung pada tahun 2023 dapat terjaga di kisaran target yang ditetapkan pemerintah yaitu 3+1 persen," bebernya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved