Tribunners
Sekaten dan Keberlanjutan UMKM
Selain memperkuat identitas budaya Solo, festival Sekaten membantu pengusaha lokal untuk tumbuh dan berkembang
Oleh: Dr. Edy Supriyono, M.Si. - Analis Ekonomi Politik Universitas Sebelas Maret
SOLO yang juga dikenal dengan nama Surakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang kaya budaya dan tradisi. Memang tidak bisa dimungkiri, banyak kegiatan budaya baik nasional maupun internasional secara rutin dilakukan di Solo. Salah satu yang sangat terkenal adalah perayaan tahunan yang disebut Sekaten, yakni sebuah festival dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Selain menjadi acara kebudayaan dan keagamaan, Sekaten juga memiliki dampak positif terhadap ekonomi lokal, khususnya dalam meningkatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Solo Raya khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.
Sekaten adalah festival yang berlangsung selama sepekan, dimulai pada malam Jumat Kliwon dan berakhir pada malam Jumat Kliwon berikutnya, dalam penanggalan Jawa. Tepatnya sejak tanggal 6 hingga 12 Rabiulawal kalender Islam atau tanggal 6 hingga 12 Mulud dalam Kalender Jawa Sultan Agungan (pariwisataindonesia.id) dan biasanya diperpanjang sampai dengan satu bulan khusus pasar malamnya (saat ini masih berlangsung). Acara ini diadakan setiap tahun pada bulan Maulud, yang merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sekaten memiliki akar sejarah yang dalam dan telah menjadi bagian penting dari budaya Solo selama berabad-abad. Sekaten merupakan wahana rasa syukur dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh Keraton Mataram Islam bersama masyarakat. Sekaten juga merupakan wahana interaksi keluarga raja dan rakyatnya utamanya saat pelaksanaan gunungan dan penabuhan gamelan Guntur Sari dan Guntur Madu.
Berdampak Positif
Pusat perayaan festival Sekaten biasa diadakan di Masjid Agung Surakarta dan Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Festival ini mencakup berbagai kegiatan, seperti pameran, pasar malam, pertunjukan seni, prosesi religious (sedekah gunungan keraton), penabuhan gamelan Guntur Sari dan Guntur Madu, serta penampilan budaya Islam (seperti hadroh) dan kajian keagamaan.
Selama Sekaten, Alun-alun Utara dipenuhi dengan tenda yang menjual berbagai barang, mulai dari makanan tradisional serta modern dan minuman tradisional hingga kerajinan tangan dan pakaian maupun kebutuhan rumah tangga lainnya serta panggung hiburan/permainan. Sementara itu, penampilan hadroh dan pengajian dilaksanakan di serambi Masjid Agung Surakarta, penabuhan gamelan di pendopo kanan kiri halaman Masjid Agung, sedangkan sedekah gunungan dimulai dari pusat keraton dan diakhiri di Masjid Agung Surakarta.
Sekaten memiliki dampak positif yang signifikan terhadap UMKM di Solo Raya dan Jawa Tengah, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa dampak salah satunya adalah peningkatan penjualan UMKM. Selama Sekaten, ribuan pedagang UMKM menjajakan dagangannya dan ribuan pengunjung setiap hari datang dari berbagai daerah. Mereka berasal baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Jakarta, bahkan dari luar Jawa, membanjiri Alun-alun Utara Solo. Hal ini menciptakan peluang besar bagi UMKM untuk meningkatkan penjualan mereka. Penjual makanan tradisional, kerajinan tangan, dan barang-barang suvenir umumnya melaporkan peningkatan signifikan dalam pendapatan mereka selama festival ini.
Sekaten juga menjadi tempat promosi produk lokal. Sekaten menjadi platform yang sangat baik untuk mempromosikan produk lokal. Para pelaku UMKM dapat menampilkan produk-produk unggulan mereka kepada ribuan pengunjung, yang bisa menjadi pelanggan setia di masa depan.
Selanjutnya, Sekaten menumbuhkan ekonomi lokal. Dengan meningkatnya permintaan produk selama Sekaten, UMKM sering kali harus mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja sementara, seperti penjual makanan, pelayan, dan tukang parker serta peningkatan pembelian di Pasar Klewer yang berada di samping Masjid Agung. Ini menciptakan peluang pekerjaan sementara untuk warga sekitar dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Butuh Keberlanjutan
Dalam hal ini, penulis melihat dampak positif Sekaten pada UMKM yang tidak hanya terjadi selama festival berlangsung, tetapi keberlanjutan pasca-Sekaten. Beberapa pelanggan yang pertama kali menemukan produk lokal melalui Sekaten biasanya akan terus membeli produk tersebut sepanjang tahun, yang tentunya hal ini mendukung pertumbuhan bisnis lokal.
Selain peningkatan penjualan langsung, Sekaten juga mendorong kolaborasi antara UMKM yang bukan hanya dari Solo Raya saja, tetapi lebih luas cakupannya. Para pedagang dan perajin lebih sering berkolaborasi dalam penyediaan makanan, pembuatan kerajinan, dan promosi bersama. Hal ini memungkinkan mereka untuk bersaing dengan lebih baik dan memaksimalkan manfaat dari perayaan Sekaten. Hal ini menunjukkan adanya keberlanjutan sirkulasi bisnis pasca- Sekaten.
Dengan demikian, makna Sekaten di Solo adalah bukti nyata bagaimana festival tradisional dapat berdampak positif pada ekonomi lokal. Dalam hal ini, Sekaten telah menjadi pendorong utama dalam meningkatkan penjualan dan sarana kolaborasi UMKM di Solo Raya dan sekitarnya. Selain memperkuat identitas budaya Solo, festival Sekaten membantu pengusaha lokal untuk tumbuh dan berkembang. Peran pemerintah dalam konsistensi dukungan yang terus-menerus terhadap acara Sekaten, ibarat mempromosikan dan mendukung UMKM lokal, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Solo dan sekitarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230908_Sekaten-di-Solo.jpg)