Kamis, 9 April 2026

Pasukan Udara Inggris Bakal Bantu Israel, Alannya Ada 10 Warga Inggris yang Disandera

Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly mengkonfirmasi pada hari Senin bahwa pemerintah yakin sebanyak 10 warga negara Inggris disandera di Gaza.

Penulis: Teddy Malaka CC | Editor: M Zulkodri
(AFP/MAHMUD HAMS) via Kompas.com
Rumah sakit di Gaza hancur dibom oleh militer Israel hingga menyebabkan 500 warga yang terluka dan berlindung di rumah sakit tersebut tewas. Sejumlah warga Palestina ikut membantu mencari korban di direruntuhan gedung Rumah Sakit Arab Al-Ahli yang hancur dibombardir Israel, Selasa (17/10/2023). 

BANGKAPOS.COM - Pasukan Udara Khusus Inggris sedang bersiap untuk membantu Israel dalam upaya apa pun untuk menyelamatkan hingga 10 warga sipil Inggris yang ditahan oleh Hamas di Gaza.

Beberapa sumber militer mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa personel SAS bekerja dengan anggota pasukan elit Sayeret Matkal Israel dan Pasukan Delta AS dalam upaya potensial untuk menyelamatkan lebih dari 200 sandera dari berbagai negara yang diyakini ditahan oleh Hamas di tempat persembunyian dan terowongan.

“Dipahami bahwa peristiwa di Israel selatan telah memicu perubahan dalam kesiapan pasukan khusus Inggris,” kata salah satu sumber.

“Satu skuadron SAS dalam operasi pelatihan pekan lalu telah menyelesaikan detasemennya beberapa hari lebih awal sebagai bagian dari rencana penempatan yang tidak ditentukan,” tambah sumber itu.

Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly mengkonfirmasi pada hari Senin bahwa pemerintah yakin sebanyak 10 warga negara Inggris disandera di Gaza.

Hanya tiga misi penyelamatan sandera yang diyakini telah dilakukan oleh pasukan khusus Inggris sejak tahun 2011.

Peristiwa tersebut terjadi di Kenya, Nigeria dan Yaman.

Enam pengerahan pengumpulan intelijen dilakukan dalam periode waktu yang sama, termasuk satu pengerahan di Ukraina sebelum invasi Rusia tahun lalu.

“Cara Hamas menyandera para sandera sepertinya mereka telah menyebarkan mereka ke wilayah Gaza secara luas,” Justin Crump, seorang veteran militer dan kepala eksekutif kelompok keamanan dan intelijen Sibylline, mengatakan kepada surat kabar tersebut.

Dia menambahkan bahwa Hamas ingin menjaga para sandera tetap hidup dan akan memberi mereka makanan dan air, serta memenuhi kebutuhan medis mereka, karena mereka dianggap sebagai “alat tawar-menawar” dalam setiap negosiasi dengan Israel. (*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved