20 Sapi di Bangka Tengah Sempat Terserang LSD, 1.200 Sapi Sudah Vaksinasi DPKP
Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sempat menyerang 20 sapi.
Penulis: Nurhayati CC | Editor: Hendra
BANGKAPOS. LCOM, BANGKA -- Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sempat menyerang 20 sapi.
Untuk mencegah meluasnya penyakit ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah telah melakukan vaksinasi LSD.
"Dulu pernah, sudah lama, kini sudah sembuh jadi antisipasi kita dengan vaksinasi ini," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah, Dian Akbarini, Minggu (22/10/2023).
Pada pertengahan bulan Oktober 2023 ini, sudah ada sekitar 1.200 ekor sapi yang dilakukan vaksin gratis LSD.
"Stok kan ready di provinsi, kalau ada yang akan kita vaksin nanti kita ambil sesuai kebutuhan kita," ungkap Dian.
Dari total populasi hewan ternak di Bangka Tengah sebanyak 6.000 ekor, ditargetkan tersuntik vaksin sebanyak 90 persen.
"Target kita semua hewan disuntik, kalau di pusat diarahkan 90 persen dari populasi kita. Kalau mau vaksin kan banyak hal yang harus dipersiapkan, sapi yang lagi sakit tidak bisa divaksin. Kalau mau disuntik harus dikandang, disiapkan," jelas Dian.
Diakuinya penyuntikan vaksin LSD pada sapi butuh sumberdaya manusia (SDM) sebanyak tiga orang di lapangan.
"Ada dokter satu yang nyuntik satu yang megang dan satu yang menenangkan sapi. Kalau sapi berkeliaran, sulit menyuntik," kata Dian.
Untuk itu DPKP berharap para peternak ikut adil dalam mencapai target vaksinasi LSD, dengan cara menyiapkan sapi sebelum disuntik.
"Kalau sudah dikandangin peternak, jadi kita harap kerjasama dari peternak juga," harap Dian.
Apa itu LSD?
Dikutip dari Balai Besar Veteriner Wates Kementerian Pertanian, lumpy skin disease (LSD) merupakan penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV).
Virus tersebut merupakan virus bergenetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae.
LSDV umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau.
Virus ini juga dapat menjangkiti hewan ternak lain seperti kambing dan domba.
Kendati demikian, belum ada laporan terkait hal itu.
Masa ikubasi LSD berkisar antara 1-4 minggu.
Meski tingkat mortalitas atau hewan yang meninggal akibat penyakit ini di bawah 10 persen, tingkat morbiditas atau yang terjangkit sekitar 45 persen.
Penularan LSD
Hewan ternak tertular LSD dapat secara langsung ataupun tidak langsung.
Penularan LSD secara langsung melalui kontak dengan lesi kulit atau virusnya terbawa melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen, susu, atau intrauterine (pembuahan).
Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakan kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik.
Adapun penularan secara mekanis melalui artropoda atau serangga seperti nyamuk (Aedes dan Culex), lalat, migas penggigit, dan caplak.
Gejala LSD
Gejala klinis penyakit ini dipengaruhi oleh umur, ras, dan status imun hewan ternak.
Gejala utama LSD adalah lesi kulit berupa benjolan atau nodul berukuran satu sampai tujuh sentimeter yang biasanya ditemukan pada area leher, kepala, kaki, ekor, dan ambing.
Kendati demikian, nodul-nodul tersebut dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh jika tingkat keparahannya sudah berat. Kemunculan nodul umumnya diawali dengan demam hingga lebih dari 40,5 derajat celsius.
Nodul tersebut jika dibiarkan terus menerus, akan menjadi lesi nekrosis (menyerang sel atau jaringan tubuh) dan ulseratif (peradangan kronis).
Diagnosis LSD
Diagnosis LSD Diagnosis LSD di lapangan diawali dengan pengamatan gejala klinis dan didukung oleh data historis lokasi peternakannya.
Kemudian diagnosis yang jelas dan tepat hanya dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium yang umumnya menggunakan Polmerase Chain Reaction (PCR)
Sampel terbaik untuk uji lab adalah dari lesi kulit.
Selain itu, sampel lainnya yakni darah serta swab hidung dan air liur.
Uji lain yang dapat digunakan dengan tes serologis atau tes dengan mencari antibodi yang terdapat di dalam darah.
Tes tersebut seperti Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), Indirect Fluorescent Antibody Test (IFAT), Indirect Immunofluorescence Test (IIFT), Virus Neutralization Test (VNT), Serum Neutralization Test (SNT), dan uji Imunohistochemistry (IHC).
Pada pemeriksaan post mortem ditemukan nodul-nodul pada otot, membran mukosa mulut, hidung, saluran pencernaan, paru-paru, hingga pada testis dan vesika urinaria.
Selain itu, juga ada diagnosis banding LSD, yakni pseudo-lumpy skin disease yang disebabkan oleh Bovine Herpesvirus-2.
Gejala klinisnya lebih ringan dan berlangsung lebih singkat dibanding LSD.
Diagnosis banding itu diuji dari masalah atau penyakit seperti dermatophilosis, ringworm, gigitan serangga, rinderpest, demodekosis, infestasi hypoderma bovis, bovine papular stomatitis, urtikaria, cutaneous tuberculosis, dan onchocercosis.
Pengobatan dan pencegahan LSD
Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus terhadap LSD.
Pengobatan yang dapat dilakukan bersifat simptomatik untuk mengobati gejala klinis yang muncul.
Selain itu, pengobatan yang dilakukan bersifat suportif untuk memperbaiki kondisi tubuh hewan ternak yang terinfeksi.
Pencegahan secara spesifik yang dapat dilakukan adalah dengan vaksinasi.
Sebagian besar vaksin LSD adalah live attenuated (vaksin hidup dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan), namun juga tersedia dalam bentuk inaktif.
Komplikasi LSD
Meskipun tidak bersifat zoonosis atau tidak menular kepada manusia, namun LSD menimbulkan komplikasi yang besar pada hewan ternak.
- Kehilangan berat badan karena hewan tidak bernafsu makan
- Berkurangnya produksi susu
- Mandul yang bersifat sementara atau permanen
Kerusakan pada kulit.
Pencegahan LSD
Selain itu, adapun cara pencegahan lainnya sebagaimana disebutkan di Distanpangan Provinsi Bali, antara lain:
Menjaga kondisi tubuh ternak agar tetap sehat dengan mencukupi kebutuhan pakan dan menyediakan kandang yang nyaman bagi ternak.
Mengupayakan agar kandang dalam kondisi bersih, kering dan hangat.
Menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya, membersihkan sampah dan kotoran ternak setiap hari agar tidak menjadi sarang serangga pembawa virus penyebab LSD.
Melakukan penyemprotan (spraying) kandang dengan anti serangga dan merendam ternak (dipping) dalam larutan insektisida secara berkala.
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita/Nurhayati/Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220621-sapi1.jpg)