Tribunners
Santri dan Islamisasi di Pulau Bangka
Dewasa ini, peran santri dalam memperluas ajaran Islam di Pulau Bangka juga sangat tampak.
Oleh: Sari Sa'ban - Guru Mengaji dan Penggiat Literasi Asal Dusun Limbung, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka
SEORANG peneliti bernama Johns berpendapat, bahwa kata "santri" berasal dari Tamil yang memiliki arti guru mengaji. Sementara itu, menurut mayoritas orang Jawa, kata "santri' berasal dari bahasa Jawa yakni centrik yang memiliki arti seorang yang selalu setia mengikuti gurunya dan selalu ikut serta ke mana pun gurunya pergi. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), santri adalah orang yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh atau lebih dikenal dengan orang saleh.
Jika kita mengulas tentang islamisasi di Indonesia, tidak lepas dari peran besar kiai dan santri. Dengan kegigihan, ketekunan, dan semangat yang tinggi, mereka mampu membuat sebuah perubahan yang nyata bagi Indonesia.
Bukan hanya itu, merdekanya Indonesia juga hasil campur tangan para kaum sarungan ini. Misalnya pada masa kolonialisme, santri mampu membuktikan jati dirinya sebagai kekuatan utama dalam mengusir penjajah. Mereka tidak segan-segan mengorbankan jiwa dan raganya guna memperjuangkan Indonesia yang merdeka. Setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 agustus 1945, para santri pun terpanggil untuk mempertahankannya.
Sejarah juga mencatat bahwa Ir Soekarno, sang proklamator kemerdekaan, adalah murid setia Cokroaminoto, pendiri Sarekat Islam (SI). Sementara itu Mohammad Hatta adalah putra dari Muhammad Djamil, tokoh agama yang terkemuka di Bukittinggi. Masa remaja kedua tokoh ini dihabiskan dalam lingkungan yang sangat religius.
Di sisi lain, Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman sebagai seorang santri dan kader Muhammadiyah merupakan contoh sempurna bagi kaum santri dalam hal mengaplikasikan hubbul wathan yang berujung kepada sebuah kemerdekaan yang paripurna. Tidak hanya itu, sikap moderat dan iklusivisme mereka juga termanifestasi dalam tujuh kata dalam Piagam Jakarta sebelum direvisi yang berbunyi "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".
Lebih mengerucut lagi, proses islamisasi di Pulau Bangka tak lain juga merupakan bukti nyata dalam dedikasi santri terhadap tersebarnya Islam. Dalam makalah yang berjudul 'Islamisasi di Pulau Bangka', Drs. Zulkifli Harmi, M.A. dalam 'Seminar Nasional Sejarah Masuknya Islam di Bangka Belitung' memaparkan bahwa awal mula masuknya Islam ke Pulau Bangka tidak lepas dari dedikasi seorang ulama asal Banjar yaitu K.H. Muhammad Afif, keturunan ketiga (cicit) dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ulama yang tersohor di Banjar dan pengarang kitab Sabîlal Muhtadîn, kitab Tasawuf yang dipakai oleh pondok pesantren di Indonesia.
K.H. Muhammad Afif sendiri tidak lain adalah ayah dari Syekh Abdurrahman Siddik, seorang ulama yang juga terkenal di Pulau Bangka. Tanah pertama yang diinjak oleh ulama asal Pulau Borneo tersebut adalah Mentok sekitar abad XIX pada dekade setelah 1860-an.
Merupakan kebiasaan para penuntut ilmu, setelah belajar bertahun-tahun di pesantren mereka wajib menyampaikan apa yang telah didapatkan meskipun hanya satu huruf. Hal tersebut berdasarkan hadis nabi "sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat" (HR. Bukhari). Sedikit demi sedikit K.H. Muhammad Afif menyebarkan misi dakwahnya di surau-surau. Banyak warga yang belajar kepadanya, mendengarkan dakwahnya atau dikenal dengan istilah ngaji dudok. Bahkan, dakwahnya bukan hanya di Mentok saja, melainkan merembet ke daerah Kotawaringin, Bakam, dan Puding Besar.
Dalam kitab Irsyadiyah karangan Syekh Abdurrahman Siddik menyebutkan bahwa dalam menyebarkan dakwahnya, beliau ditemani oleh Gusti Mas Muda atau dikenal dengan gelar Gusti Kancil. Mereka berdakwah di Bangka kurang lebih selama 33 tahun. Tepatnya pada tahun 1897, Kiai Muhammad Afif pulang ke Banjar. Tinggallah Gusti Kancil yang terus memperjuangkan misi dakwahnya di daerah Puding Besar dan sekitarnya. Menurut cerita, beliau kerap mendapat tawaran untuk dikawinkan kepada putri masyarakat tempat beliau dakwah. Walhasil, keturunannya pun banyak yang menjadi ulama besar di antaranya cucunya, almarhum Haji Suhaimi, imam Masjid Jamik Pangkalpinang dan cicitnya, K.H. Hasan Basri, sesepuh Pondok Darussalam, Pangkalpinang.
Sebagai regenerasi, Syekh Abdurrahman Siddik, putra dari K.H. Muhammad Afif, merasa terpanggil untuk menggantikan posisi sang ayah. Setelah naon di Makkah, bahkan sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman Siddik mulai bergeliat dakwah di Pulau Bangka. Berkat jasanya dalam menyebarkan syiar Islam, nama beliau pun dijadikan nama sebuah universitas di Desa Petaling, yakni Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS). Salah satu peninggalannya adalah mimbar masjid di Desa Kemuja yang masih utuh. Konon, mimbar tersebut beliau bawa langsung dari Banjar.
Dewasa ini, peran santri dalam memperluas ajaran Islam di Pulau Bangka juga sangat tampak. Bahkan masyarakat pun mulai berbondong-bondong untuk memondokkan putranya ke pesantren-pesantren besar di Pulau Jawa seperti Pondok Pesantren Sidogiri, salah satu pondok pesantren tertua di Pulau Jawa dan Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah yang keduanya terletak di Kota Pasuruan. Dakwah yang mereka lakukan juga bervariasi seperti tablig akbar, pengajian alumni, dan safari Ramadan ketika libur panjang di bulan Ramadan. Dengan berbagai agenda tersebut, mereka terus berusaha untuk menjadikan Pulau Bangka sebagai pulau yang agamis. Tentunya dengan misi menjadikan Pulau Bangka sebagai baldatun tayyibatun wa rabbun ghâfur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230925_Sari-Saban-Guru-Mengaji.jpg)