Berita Bangka Tengah

Budidaya Kepiting Sistem Crab Box Apartement di Bangka Tengah, Akademisi UBB Ungkap Keunggulannya

Pemerintah kabupaten Bangka Tengah melakukan budidaya kepiting bakau dengan sistem crab box apartemen.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Crab Box Apartemen untuk mengembangkan Budidaya Kepiting Bakau 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah kabupaten Bangka Tengah melakukan budidaya kepiting bakau dengan sistem crab box apartemen.

Dosen Managemen Sumberdaya Perairan (MSP) Universitas Bangka Belitung (UBB) sekaligus Penggiat Mangrove, Arthur M Farhaby menjelaskan secara ilmiah, kepiting  bakau (Scylla) adalah sejenis kepiting yang hidup di ekosistem hutan bakau dan estuaria, juga dikenal sebagai mangrove crab atau mud crab. 

"Secara morfologi, ia dapat dikenali lewat seluruh tubuhnya yang tertutup oleh cangkang yang bulat dan tebal. Capit kepiting berukuran cukup besar. Selain itu, kepiting memiliki warna relatif yang hampir sama dengan warna lumpur, yaitu coklat kehitam-hitaman pada karapasnya dan putih kekuning-kuningan pada abdomen (bagian perut). Ciri yang membedakan antara kepiting jantan dan betina adalah bentuk abdomennya," jelas Athur, Kamis (9/11/2023).

Pada kepiting jantan, memiliki abdomen yang berbentuk agak lancip menyerupai segitiga sama kaki, sedangkan pada kepiting betina dewasa agak membundar dan melebar. 

Kepiting ini sangat erat hubungannya dengan ekosistem mangrove sebab sebagian dari siklus hidupnya memang memanfaatkan kawasan tersebut sebagai daerah mencari makan, daerah perlindungan, dan daerah untuk kawin. 

"Setelah itu kepiting akan ke arah muara atau ke arah laut untuk bertelur dan menetaskan telurnya. Ada 4 spesies kepiting bakau yang diketahui saat ini yaitu kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau “red/orange mud crab, kepiting baau hijau (Scylla serrata) atau giant mud crab, kepiting vakau ungu (Scylla tranquebarica), dan kepiting Bbkau putih (Scylla paramamosain," ungkap Arthur. 

Dia menjelaskan mengenai sistem crab box apartemen, keuntungannya semua kondisi ekosistemnya termasuk kualitas perairannya dapat terkontrol.

"Meminimalisir sifat kanibalisme antar kepiting karena kepiting saat berganti kulit (moulting) dia akan melepaskan semua cangkangnya dan menjadi lunak, pada saat inilah kepiting menjadi rentan. Kita dapat mengatur dan melihat kepiting mana yang sudah siap panen, biasanya kepiting setelah ganti kulit akan bertambah beratnya menjadi kurang lebih 2x ukuran awal dari hasil penelitian pribadi," lanjutnya, 

Sehingga menurutnya budidaya kepiting bakau dengan sistem apartemen lebih menguntungkan.  

"Selain lebih mudah dikontrol, sistem apartemen vertikal juga lebih menghemat tempat. Pembesaran membutuhkan waktu kisaran 3 bulan (3 kali moulting). Dari ukuran 20 hingga 30 gram perekor selama  tiga bulan dapat mencapai ukuran 300 hingga 400 gram per ekornya. Hasil yang didapat dari kegiatan mahasiswa yang saya bimbing melalui PPK ORMAWA di riding Panjang menunjukkan bahwa sekali ganti kulit bisa bertambah 2 kali lipat ukuran tubuh awalnya," katanya.

Untuk mengoptimalkan budidaya kepiting, dia menyarankan perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi untuk memulai memikirkan dan menemukan cara untuk membudidayakan kepiting bakau tersebut. 

"Saat ini bibit kepiting bakau masih didapat dari alam sehingga jika ada gangguan lingkungan di alam (ekosistem mangrove) maka akan berakibat terhadap keberlangsungan usaha pembesaran kepiting bakau," kata Artur. 

Menurutnya, perlu adanya kepastian dari pemerintah terkait dengan pemasaran hasil panen dari para pembudidaya nantinya sehingga keberlanjutan usaha kepiting bakau ini dapat terus berlanjut, dan diharapkan menjadi alternatif penghasilan bagi masyarakat Bangka Belitung pasca tambang.

"Harga kepiting bakau yang relatif stabil menjadi pilihan paling logis bagi masyarakat Babel dikarenakan potensinya yang masih cukup menjanjikan termasuk olahannya seperti kepiting soka (soft crab)," saran Artur. 

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita) 
 

 

Sumber: bangkapos.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved