Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Penasaran Keunikan Pedasnya Cabai Rawit Lokal Babel, UBB Jadi yang Perdana Lakukan Riset

Keunikan cabai rawit lokal Bangka Belitung yang digadang-gadang memiliki tingkat kepedesan melebih cabai jenis lain kini sedang dilakukan penelitian.

Tayang:
Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/dok
Salah satu kebun cabai yang ada di Kecamatan Lubuk Besar, Bangka Tengah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Keunikan cabai rawit lokal Bangka Belitung yang digadang-gadang memiliki tingkat kepedesan melebih cabai jenis lain kini sedang dilakukan penelitian.

Sejauh ini, belum banyak literatur yang membahas mengenai cabai rawit lokal serta apa yang menjadikannya dianggap masyarakat Babel lebih pedas ketimbang jenis cabai yang lain.

Untuk menjawab rasa penasaran itu, dilakukan penelitian perdana oleh Universitas Bangka Belitung (UBB).

Dosen Jurusan Agroteknologi UBB, Maera Zasari mengatakan bahwa saat ini dia bersama dengan salah seorang mahasiswa bimbingannya sedang melakukan penelitian terkait hal itu.

“Tujuan penelitian itu kita untuk mendata dan mendokumentasikan berbagai jenis cabai rawit lokal yang ada di Bangka Belitung,” ucap Maera, Rabu (8/11/2023).

Diakuinya, selama ini memang belum pernah diangkat (penelitian) mengenai cabai rawit lokal sehingga menjadi perhatian untuk dievaluasi jenis-jenis atau keragaman cabai lokal tersebut.

“Bagaimana variasi bentuknya, daun, buah dan tanamannya. Selanjutnya baru kami akan merambah ke rasa untuk mengetahui tingkat kepedasannya,” jelasnya.

Kebun cabai milik petani lokal di daerah Tuatunu, Pangkalpinang. Foto diambil Jumat (3/11/2023).
Kebun cabai milik petani lokal di daerah Tuatunu, Pangkalpinang. Foto diambil Jumat (3/11/2023). (Bangkapos.com/Dokumentasi)

Baca juga: Pengepul Cabai di Balunijuk Akui Adanya Penurunan Stok Cabai Akibat Petani Lokal Gagal Panen

Maera berujar bahwa saat ini penelitian tersebut sedang dalam proses pengumpulan data berupa jenis-jenis tanaman cabai rawit lokal untuk di dokumentasikan.

Kendati demikian, berdasarkan pengamatan-pengamatan yang dilakukan sebelum-sebelumnya, diketahui memang banyak ragam cabai rawit lokal Bangka Belitung.

“Ada yang bentuk buahnya bulat yang menurut informasi para petani itu lebih pedas dibanding yang (bentuknya) ramping atau lancip. Ini yang akan kita lakukan pengujian, jadi valid,” terangnya.

Seorang petani cabai di Tuatunu, Pangkalpinang, memanen cabai di kebunnya, Jumat (3/11/2023).
Seorang petani cabai di Tuatunu, Pangkalpinang, memanen cabai di kebunnya, Jumat (3/11/2023). (Bangkapos.com/dokumentasi)

Baca juga: Harga Jual Cabai Petani Lokal Bangka Belitung ke Pengepul Berkisar Rp65 Ribu hingga Rp90 Ribu

Lebih lanjut, dilakukan juga dokumentasi untuk mengetahui ragam jenis cabai rawit lokal Bangka Belitung sesuai dengan ciri-ciri morfologinya.

“Jadi misalnya di Kecamatan Kelapa banyak cabai rawit lokal, di situ akan kami identifikasi ragamnya. Misalnya di Kelapa sama dengan di Dendang (Kecamatan Dendang, Belitung Timur) ciri-cirinya sama, karakterisasinya sama seperti warna, penampilan, bentuk buah dan lain sebagainya sama, maka dihitung satu,” tambahnya.

Sementara itu, untuk pengujian tingkat kepedasan akan dilakukan dengan dua cara yakni secara manual menggunakan sampel subjek sejumlah orang serta pengujian melalui laboratorium.

“Pertama pengujiannya akan menggunakan sampel orang untuk uji cita rasa. Setelah itu nantinya akan divalidasi dari uji lab, misalnya kandungan caisaicin,” jelasnya.

Capsaicin sendiri merupakan zat bioaktif pada cabai yang menimbulkan rasa pedas dan panas.

“Opini kita bahwa itu pedas karena tingkat capsaicin nya yang tinggi. Tapi itu jangan disimpulkan dulu, kalau belum dievaluasi di lab. Jangan-jangan selain capsaicin ada lagi zat lain (yang menyebabkan pedas-red),” imbuhnya.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved