Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners

Solidaritas Sahabat Alumni

Kasus Kang Enuh mencerminkan kualitas-kualitas persahabatan sejati itu masih terpelihara

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
John de Santo - Pendidik dan Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka, Berdomisili di Yogyakarta 

Oleh: John de Santo - Pendidik dan Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka, Berdomisili di Yogyakarta

LEBIH dari sebulan belakangan ini, warganet dihebohkan oleh kisah seorang pria bernama Enuh Nugraha (46), yang menjadi ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) “istimewa”. Istimewa karena Kang Enuh, demikian sapaannya, adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Teknik Kelautan 1997. Secara kebetulan, ia ditemukan ketika sedang menggelandang di jalan lingkar Demak, oleh aktivis sekaligus YouTuber Suharyo Adi Putro alias Mas Adi, yang mengelola akun Sinau Urip pada 7 Oktober 2023.

Setelah Mas Adi mewawancarai, memandikan, menggantikan pakaian, dan memberinya makan, Kang Enuh kembali ke jalanan. Mas Adi kemudian menayangkan pertemuan mereka di akun Sinau Urip dan langsung mendapatkan tanggapan luas, terutama dari alumni ITB yang merupakan rekan-rekan Kang Enuh.

Teman-teman itu pun bergerak mengumpulkan dana dan mencari keberadaan Kang Enuh. Sebulan kemudian (10/11), Kang Enuh kembali ditemukan di wilayah Rembang. Ia dibawa ke Kudus, ke rumah Mas Adi untuk menunggu jemputan oleh 3 sahabat seangkatan yang selalu ia sebut nama, yakni Kang Semedi, Irfan, dan Aditya. Mereka pulang ke Bandung bersama Kang Enuh untuk memulai proses perawatan rehabilitasi di RSJ Cisarua. Apa pesan di balik kisah yang mengharukan?

Momen pertemuan

Momen pertemuan dengan tiga sahabat lamanya yang jauh-jauh dari Bandung untuk menjemputnya, mengharukan. Kang Enuh sempat meneteskan air mati ketika mengetahui keberadaan mereka. Wajahnya semringah. Artinya, walau dalam kondisinya yang seterpuruk itu, ia masih mengenal para sahabatnya dan berterima kasih karena mereka masih mengingatnya.

Menurut teman-temannya, Kang Enuh adalah mahasiswa berprestasi ketika di bangku kuliah. Ia seorang programmer komputer yang andal dan sering dimintai bantuan oleh teman-temannya untuk mata kuliah tertentu, bahkan di luar jam kuliah, Kang Enuh masih memberi les pelajaran matematika kepada anak-anak tetangga.

Sudah lama teman-temannya mencari Kang Enuh, karena ia tidak pernah menghadiri reuni kampus. Ternyata ia ditemukan sebagai ODGJ yang menggelandang dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari makanan dari tempat-tempat sampah. Kawan-kawannya tidak tega mengetahui keadaannya. Mereka bertekad membantunya agar sembuh dan bisa bekerja kembali. Sebelum jatuh sakit, Kang Enuh bekerja sebagai perencana di sebuah perusahaan China.

Tidak seperti ODGJ lain yang agresif, suka berontak atau menyerang, dan tidak bisa berkomunikasi, Kang Enuh justru tenang, patuh, dan mampu berkomunikasi meskipun terbata-bata dan bingung. Ia mengingat nama-nama temannya, dan tempat penelitiannya. Soal-soal matematika yang diajukan kepadanya, dapat ia jawab dengan benar. Dari gejala ini, teman-temannya optimistis, bahwa Kang Enuh masih bisa sembuh dari sakit mentalnya, jika ia mendapatkan pengobatan yang benar.

Sahabat sejati

Tentang persahabatan itu sendiri, seorang guru sekolah dasar pernah mengingatkan, bahwa dalam hidup ada dua tipe sahabat. Pertama, ia sebut sahabat meja (table friends) dan yang kedua ia namakan sahabat sejati (true friends). Kedua jenis sahabat ini memang berbeda kualitasnya.

Sahabat meja adalah sahabat yang mendatangi Anda ketika dalam keadaan senang dan berpesta mengelilingi meja perjamuan. Mereka hadir untuk mendapatkan bagian sukacita Anda. Adapun true friend atau sahabat sejati adalah sahabat yang mendatangi Anda ketika Anda dalam keadaan susah dan terpuruk. Mereka ingin berbagi kesedihan dan dukacita Anda.

Kang Enuh sedang berada dalam keadaan susah. Ia mengalami sakit mental dan menghilang dari rumah saudaranya dan hidup menggelandang. Teman-teman yang pernah senasib dan seperjuangan masih merindukan dan berusaha mencarinya. Rasa solider mendorong mereka mengulurkan bantuan setelah mengetahui keberadaan sahabatnya, meskipun ia sendiri tidak mengharapkan bantuan itu. Itulah sahabat sejati.

Jadi, sahabat sejati adalah mereka dengan sejumlah kualitas yang menjadi syarat untuk membangun hubungan pertemanan yang kuat, bertahan, dan bermakna. Sejumlah kualitas itu dapat penulis rincikan sebagai berikut.

Pertama, kejujuran dan autentisitas. Sahabat sejati itu jujur dan autentik di dalam perkataan dan tindakan tindakan. Mereka transparan dan bisa dipercaya dalam berinteraksi karena mereka tidak berpura-pura menjadi orang lain. Mereka nyaman dengan diri sendiri dan tidak merasa perlu untuk memakai topeng atau berpura-puru menunjukkan minat atau empati terhadap orang lain.

Kedua, kejujuran dan keandalan. Sahabat sejati itu jujur, apa adanya dan bisa diandalkan. Mereka menepati janji, melaksanakan komitmen, dan selalu siap sedia, kapan saja dibutuhkan. Mereka mandiri dan bisa diandalkan dalam pemberian dukungan dan dorongan ketika salah seorang di antara mereka membutuhkan bantuan.

Ketiga, penghargaan dan empati. Sahabat sejati saling menghargai dan berempati. Mereka memahami dan menghargai perbedaan masing-masing, dan mereka tidak menilai atau mengecam sahabatnya karena perbedaan keyakinan, nilai, atau pengalaman. Mereka murah hati, penuh kasih, dan mudah memahami serta berupaya memandang dari sudut pandang sahabatnya.

Keempat, komunikasi dan mendengar aktif. Para sahabat sejati berkomunikasi secara terbuka dan jujur satu sama lain. Mereka selalu aktif saling mendengarkan tentang berbagai kebutuhan, keprihatinan, dan perasaan masing-masing. Mereka selalu ingin mendengarkan, meskipun mereka mungkin tidak setuju.
Kelima, berbagi minat dan nilai. Para sahabat sejati berbagi nilai dan minat yang sama. Mereka senang menghabiskan waktu bersama, terlibat dalam berbagai kegiatan yang mereka sukai bersama dan mengeksplorasi pengalaman-pengalaman baru. Mereka juga berbagi rasa humor dan mereka tidak takut untuk menertawakan kekonyolan mereka masing-masing.

Keenam, dukungan dan dorongan. Sahabat-sahabat sejati memberikan dukungan dan dorongan satu sama lain. Mereka merayakan kesuksesan sahabat mereka, dan memberi hiburan dan dukungan selama masa-masa sulit, sekaligus memberikan ruangan yang aman dan suportif bagi satu sama lain untuk terus bertumbuh dan bereksplorasi.

Ketujuh, waktu dan usaha. Para sahabat sejati menginvestasikan waktu dan upaya dalam relasi mereka. Mereka berusaha untuk tetap dekat, rutin bertemu, dan mengikuti berbagai kegiatan bersama. Mereka memprioritaskan hubungan mereka di dalam kehidupan.

Kesimpulan

Sahabat sejati memiliki gabungan kualitas yang membuat hubungan menjadi kuat, bertahan lama, dan berarti. Kualitas-kualitas itu mencakup kejujuran dan autentisitas, kepercayaan dan keandalan, rasa hormat dan empati, komunikasi dan aktif mendengarkan, berbagi minat dan nilai, memberi dukungan dan dorongan, serta mengorban waktu dan upaya.

Kasus Kang Enuh mencerminkan kualitas-kualitas persahabatan sejati itu masih terpelihara di tengah kehidupan yang makin individualistis akibat persaingan. Apa yang ditunjukkan oleh alumni ITB Program Studi Kelautan ini menjadi cermin bagi kita untuk berkaca. Proses pendidikan yang kita jalani selama masa kuliah, terutama ketika sedang merantau, tak sekadar memberi kesempatan untuk menimba ilmu, tetapi juga peluang untuk menjalin persahabatan yang tak lekang oleh waktu. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved