Tribunners
Iman dan Makna Kesalihan
Tanpa amal salih, iman yang dimiliki siapa pun mustahil sekali bertumbuh dengan baik.
Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung
IMAN, dalam perspektif tradisi filsafat, sejatinya merupakan "jalan rasional" mengonstruksi dan mengaktualisasi kesalihan seorang hamba. Dari dan dengan iman, seorang hamba akan menemukan peta perilakunya menuju kebajikan. Melalui kebajikan, cepat atau lambat, ia dapat menaburkan aroma nilai-nilai ilahiah untuk sesama di alam semesta.
Seorang hamba yang imannya berkualitas akan melahirkan amal perbuatan atau perilaku sosial menyejarah. Seperti diteladankan Nabi Muhammad Saw, baik dari aspek perkataan, aktivitas sosial, persahabatan, kekeluargaan, dan keumatan sehingga Allah SWT menggelari Nabi Muhammad Saw pemilik iman terkuat, penyandang budi pekerti empatik, pengampu perangai meneduhkan, dan pemangku "khuluqin adzim"; moralitas kesalihan yang amat luhur.
Iman bukan hal irasional. Akan tetapi, kata sebagian filsuf, iman itu rasional. Iman senantiasa logis, dari ruang dan konteksnya. Sebab siapa saja yang memilih beriman, otomatis akan melahirkan dan menerima risiko dari segala yang ia perbuat. Sekecil atau seringan apa pun hal yang dilakukan, ia akan menemukan konsekuensi tersendiri, langsung maupun tidak. Maka iman, disadari atau tidak, ikut menentukan kesalihan seorang hamba.
Iman dan Amal Salih
Iman, dari pemaknaan di atas, menyangkut keberadaan dan kelangsungan setiap hamba. Seorang hamba beriman tidak akan abai atau lepas dengan amal salih. Sebab, amal salih menjadi "napas," "pakaian," dan "urat gerak," mereka yang beriman. Tanpa amal salih, iman yang dimiliki siapa pun mustahil sekali bertumbuh dengan baik. Sebaliknya, bisa mudah tandus, meranggas, kerontang, kekeringan, dan menghambat laju produktif kehambaan.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan iman dan amal salih tidak bisa dipisahkan, mesti seiringan dan sekelindan (QS. Al-Baqarah: 82, 25; QS. Al-Maidah: 69; QS. Al-Qashash: 67; QS. Al-Kahfi: 88 ). Semua selalu dan mempunyai "nalar kesenyawaan" esensialistik.
Keduanya satu kesatuan, dalam konteks makna maupun eksistensi. Iman merupakan fundamen primer, amal salih ialah cahaya yang menyala dan mengitarinya. Iman itu akar, amal salih adalah dahan dan buahnya. Tanpa iman, amal salih "kurang bergizi," dan tanpa amal salih, iman benar-benar kehilangan orientasi. Tanpa iman, amal salih hanya "lampiran," tanpa amal salih, iman tak ubahnya "angan-angan."
Adalah benar manakala Sachiko Murata dan William C. Chittick (2005: 431) mensinyalir bahwa mereka yang dikategorikan orang salih senantiasa hidup dari dan untuk harmoni dengan Dzat Nyata serta membangun kesalihan melalui aktivitas mereka. Pola dan mentalitas mereka pemanggul kebajikan, perekat nilai-nilai surgawiyah, bukan pendistorsi kehangatan dalam interaksi sosio-keumatan dan sosio-kebangsaan.
Lebih dari itu, tiap-tiap diri yang beriman dan senantiasa mentransformasi amal salih, mereka bagian "tulang punggung" agama. Tatapan, gerak, dan nada ucap keseharian mereka itu wujud dari kesadaran, keluasan, dan keluwesan hidup berbasis substansi ilahiah. Dalam istilah sufisme, mereka menjadi "mata," "tangan," "kaki," "hidung," "telinga," dan "lidah" Ilahi Rabbi untuk mengedukasi sekaligus mempercantik kesemestaan. Mereka tiada henti menaburkan kebajikan, tidak memedulikan lagi sekat sosial maupun kebangsaan.
Fitrah Orang Salih
Lebih lanjut, Sachiko Murata dan William C. Chittick (2005: 430) mengurai bahwa semua hamba (muslim) yang mencapai pemenuhan "fitrah" kelak di akhirat akan menjati orang-orang salih. Sebab kesalihan sejatinya merupakan kualitas surgawiyah maupun ilahiah. Siapa yang tergolong orang salih, tak mungkin membawa dan menaburkan keburukan, kejelekan, kefasikan, kezaliman, kemunafikan, kecongkakan, dan sejenis. Itulah "fitrah" orang salih, penyandang kualitas surgawi dan komitmen ilahiah dalam kelangsungan (ke)hidup(an).
Fitrah orang salih juga identik dengan "akhlak ilahiah", yakni pemaaf yang menggetarkan. Ia akan memaafkan perilaku tiap diri dengan segala keperkasaan yang melekat pada-Nya. Namun tidak pernah henti memberikan jalan keluar atas kemelut yang dialami tiap-tiap orang beriman dengan skala masing-masing. Ia memaafkan, mengalirkan "kebaikan", tetapi tetap memberikan "warning" dengan kelembutannya sendiri sehingga tiap diri beriman akan wawas diri, hati-hati, dan introspektif.
Melalui transformasi "akhlak ilahiah" atau pemaaf yang menggetarkan, orang salih sesungguhnya bisa menakar jarak, pola, dan mentalitasnya di hadapan Allah maupun sesama. Dalam konteks ini, mereka akan positif dan optimal mengeksplorasi serta mengedukasi antara raja' maupun khouf kepada-Nya. Mereka akan istikamah mengolah potensi ilahiah dan insaniyah-nya, terutama demi kebersahajaan hidup di lingkungan sesama.
Bahkan, melalui bekal "akhlak ilahiah" ini, orang salih tidak akan abai terhadap prinsip kenabian. Seperti, mengedepankan keterbukaan daripada pengkhianatan, memprioritaskan kejujuran dari kelicikan dan kebohongan, apa pun konsekuensi logis, serta meninggalkan kepura-puraan kemudian menggantinya dengan ketulusan menjalani hidup. Sebab ia akan sungguh mengendalikan "fitrah" dirinya untuk akhirat. Barang siapa mengenal akhirat, kata Raja Ali Haji, tahulah ia dunia yang mudarat. Masyaallah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221108_Masmuni-Mahatma-Warek-II-IAIN-SAS.jpg)