Selasa, 7 April 2026

Tribunners

Pentingnya Pembelajaran Berorganisasi di Sekolah

Intinya berorganisasi itu sangat penting untuk masa depan siswa karena itulah kunci kehidupan. Masa depan tidak dibangun dengan apatisme

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Andre Pranata - Guru SMPN 2 Lubuk Besar 

Oleh: Andre Pranata - Guru SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

DEWASA ini, banyak sekali kasus tawuran antarpelajar yang menelan korban jiwa tidak sedikit. Penyebabnya adalah egoisme antarkelompok yang masih sangat tinggi ditambah dengan pencarian jati diri remaja yang bergejolak. jadi jika ada gesekan sedikit, menimbulkan kebakaran hebat. Hal tersebut tentu saja sangat jauh dari jiwa-jiwa Pancasila yang ditanamkan dan dipelajari sedari dini.

Ironis memang, namun ini harus segera dicarikan solusinya sesegera mungkin. Jika tidak, generasi penerus akan menjadi korbannya. Masa depan tidak dimulai dengan pembiaran terciptanya generasi haus akan darah. Selain peran dari orang tua dan masyarakat, peran sekolah juga sangat vital dalam hal ini. Tidak bisa hal ini dibiarkan berlarut-larut sehingga tidak menghasilkan solusi yang konkret demi masa depan generasi penerus bangsa.

Bergejolaknya covid-19 turut memperparah keadaan moralitas anak bangsa. Yang seharusnya belajar secara konvensional ke sekolah, tetapi karena hal tersebut siswa dipaksa berhadapan dengan gawai setiap hari tanpa diperkenankan untuk bersosialisasi demi kesehatan. Siswa yang dalam hal ini kurang mampu untuk memfilter tontonan dan konten apa saja yang boleh mereka lihat pasti akan terpengaruh konten yang ditontonnya.

Diperparah dengan orang tua yang lalai untuk mengontrol gawai anaknya. Bahkan banyak orang tua yang gaptek sehingga kontrol terhadap gawai anaknya sangat kurang sekali. Selain orang tua, sekolah juga punya peran dalam hal ini terutama pasca-covid-19, sekolah seharusnya memulihkan mentalitas, moralitas, dan psikologis siswa.

Berbagai treatment seperti pengaktifan kembali ekstrakurikuler bisa dilakukan sehingga siswa yang kecanduan gawai akan beralih ke permainan realitas dan menimbulkan kembali jiwa sosialisme siswa yang bobrok pasca-Covid-19. Siswa diwajibkan memilih ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginannya. Dengan begitu akan timbul jiwa kebersamaan dan jiwa soliditas di kalangan siswa. Selain itu, bisa juga melatih empati siswa. Seharusnya sekolah menyediakan fasilitas yang baik untuk menampung hal tersebut, terutama menyediakan pembina ekskul yang menyenangkan dan sesuai dengan keahliannya.

Selain ekstrakurikuler, treatment yang bagus selanjutnya adalah menghidupkan kembali fungsi OSIS sebagai wadah keluh kesah siswa di sekolah. OSIS adalah lambang demokrasi siswa. Segala keinginan siswa bisa ditampung dan dicurahkan pada OSIS. Terlepas direalisasikan atau tidak, itu urusan belakang. Yang penting ada organisasi yang siap menampung aspirasi siswa.

Di OSIS, siswa belajar berorganisasi dengan baik. Belajar bagaimana menjadi legislator yang baik dan menjadi fasilitator yang baik antarsiswa dan guru ataupun pemangku kepentingan di sekolah. Jika ada yang berkata OSIS tidak berguna, pernyataan itu sangat keliru karena OSIS merupakan mercusuar sekolah, sebagai pelaksana kebijakan sekolah dan lambang merdekanya siswa.

Di OSIS, mereka diajarkan untuk berani, memiliki jiwa kepemimpinan, mampu berbicara, demokratis, dan memiliki sudut pandang yang luas. Apabila di lapangan terdapat kesalahan dan melanggar aturan yang dilakukan oleh anggota OSIS maka itu hanya oknum saja yang tidak mengerti bagaimana menjadi anggota OSIS yang baik.

Dari uraian tersebut maka peran OSIS di sekolah sangat penting untuk mereduksi egoisme antarkelompok dan mengutamakan kedamaian, bukan mementingkan siapa yang paling hebat. Tidak ada salahnya anak-anak yang bermasalah di sekolah dimasukkan menjadi anggota OSIS.

Masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan sekolah untuk mengajak siswa untuk berorganisasi. Sekolah bisa melakukan komunikasi dengan orang tua dan masyarakat terkait pengadaan organisasi di sekolah. Dengan begitu, solusi konkret bisa direalisasikan bersama sehingga mengurangi siswa melakukan kegiatan negatif di lingkungannya.

Intinya berorganisasi itu sangat penting untuk masa depan siswa karena itulah kunci kehidupan. Masa depan tidak dibangun dengan apatisme dan individualistik. (*) 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved