Tribunners

Mahasiswa dan Kehidupan sebagai Aktivisme

Mahasiswa justru harus tertarik juga untuk menggeluti wilayah yang beliau sebut sebagai aktivisme sunyi

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Herza, M.A. - Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Herza, M.A. - Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung

MENJADI mahasiswa yang memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi terhadap kehidupan praktis atau yang biasa disebut sebagai mahasiswa aktivis, apakah hanya bisa diimplementasikan melalui aktivitas unjuk rasa ataupun demonstrasi? Melalui orasi di jalanan dan/atau depan gedung instansi pemerintahan dengan suara yang ditransmisi oleh toa? Apakah hanya cara itu yang bisa ditempuh agar rekan mahasiswa layak disebut sebagai aktivis?

Tulisan ini akan menjawab pertanyaan di atas dengan mengadopsi dan/atau mencoba mengartikulasikan ulang pesan yang disampaikan oleh Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB) sekaligus Guru Besar Ilmu Politik UBB, Prof. Dr. Ibrahim, M.Si. dalam salah satu momen ketika beliau memberikan sambutan di hadapan beberapa mahasiswa dan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBB (sambutan disampaikan pada 18 Desember 2023). Pada momen yang dimaksud, dalam penyampaiannya ada dua konsep penting terkait aktivisme yang diungkapkan, yakni aktivisme riuh dan aktivisme sunyi.

Mengenal Aktivisme Riuh dan Aktivisme Sunyi

Prof. Dr. Ibrahim, M.Si. menyampaikan bahwa selama ini yang dominan menghuni kesadaran teman-teman mahasiswa, khususnya yang terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan (ormawa), memahami diksi aktivisme sebagai jalan yang ditempuh oleh intelektual untuk bersikap kritis yang cenderung beroposisi dengan instansi pemerintahan atau rezim kekuasaan.

Poin pentingnya, Prof. Dr. Ibrahim, M.Si. menegaskan, jika dalam mengartikan dan mengartikulasikan aktivisme mahasiswa sebatas pandangan dan aktivitas sebagaimana yang penulis uraikan sebelumnya itu, maka itu adalah sebuah pandangan yang keliru. Menurut beliau, pandangan dan cara artikulasi aktivisme yang identik dengan demonstrasi atau orasi di ruang publik, memang merupakan salah satu jenis aktivisme, yang disebut sebagai aktivisme riuh.

Namun demikian, tidak tepat jika kita membatasi makna aktivisme ini pada aktivisme riuh semata. Ada satu versi aktivisme yang juga patut diperhitungkan sisi manfaatnya untuk kehidupan praktis, yakni yang disebut sebagai aktivisme sunyi. Mahasiswa justru harus tertarik juga untuk menggeluti wilayah yang beliau sebut sebagai aktivisme sunyi ini.

Aktivisme sunyi bisa dimaknai sebagai jalan dan/atau aktivitas yang dimainkan oleh intelektual (dalam hal ini misalnya mahasiswa) yang berorientasi untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan praktis di luar kampus, dan bahkan cenderung berimplikasi terhadap transformasi sosial, dengan tidak menonjolkan aksi heroik di ruang publik secara terang-terangan, atau tidak sebatas cara-cara yang identik dengan aktivisme konvensional.

Intelektual yang menjalankan aktivisme ini cenderung berorientasi pada bagaimana menciptakan program atau kegiatan yang bisa berimplikasi langsung untuk perbaikan kehidupan masyarakat. Intelektual dalam aktivisme sunyi tidak mempersoalkan jika harus membangun komunikasi yang baik, berteman dan dekat dengan pemerintah atau pimpinan kampus, ketika itu bisa membantu mereka dalam merealisasikan aktivitas dan program yang bisa berkontribusi untuk dunia praktis.

Contoh konkret dari perwujudan aktivisme sunyi ini bisa dalam berbagai versi, termasuk ketika mahasiswa suka dan aktif dalam kegiatan-kegiatan pengabdian dan penelitian kepada masyarakat dengan dana hibah dari kementerian atau kampus. Lebih suka menghasilkan publikasi tulisan, baik itu artikel ilmiah atau artikel opini yang substansinya mendiseminasi gagasan untuk perbaikan kondisi aktual yang terjadi di dunia praktis.

Aktivisme sunyi bisa juga disematkan kepada teman-teman mahasiswa yang aktif membangun kerja sama dengan pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dalam membantu mereka supaya lebih berdaya. Ada banyak lagi versi aktivisme jenis ini yang memang secara perwujudan aktivitasnya berbeda sekali dengan aktivitas-aktivitas yang disebut sebagai aktivisme riuh. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved