Senin, 13 April 2026

Berita Pangkalpinang

Akademisi Nilai Distribusi Beras SPHP Minimalisirkan Terjadinya Keresahan Kekurangan Beras

Lonjakan harga beras di awal Tahun 2024 tidak hanya terjadi di Bangka Belitung, namun secara nasional.  

Penulis: Sela Agustika | Editor: nurhayati
istimewa
Stok beras di gudang Perum Bulog Cabang Bangka 

BANGKAPOS.COM,BANGKA --  Lonjakan harga beras di awal Tahun 2024 tidak hanya terjadi di Bangka Belitung, namun secara nasional.  

Dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bangka Belitung (UBB) Devi Valeriani mengungkapkan gejolak kenaikan harga beras tentunya memicu kekhawatiran besar di kalangan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah terhadap kebutuhan dan ketersediaan pangan.  

Harga beras terus mengalami peningkatan, BPS mencatat kenaikan harga beras 16,24 persen secara year on year (yoy) pada Januari 2024.     Kata

Program pemerintah mendistribusikan beras SPHP menjadi upaya untuk meminimalkan terjadinya keresahan kekurangan beras dan meyakinkan masyarakat penerima manfaat bahwa stok beras cukup.  

"Dilakukannya peningkatan penyaluran beras SPHP untuk merespons kenaikan harga beras saat ini sehingga diharapkan kedepannya dapat mendukung stabilitas harga beras Pemerintah menyalurkan program bantuan pangan beras dalam periode Januari sampai Juni 2024 sebesar 10 kg per bulan untuk setiap keluarga penerima manfaat (KPM),” ujar Devi, Kamis (22/2/2024). 

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan harga beras akan naik lagi, lantaran ada defisit produksi beras sekitar 4 juta ton. 

Namun walaupun disinyalir defisit produksi, stok beras untuk pemenuhan kebutuhan Tahun 2024 akan tercukupi. 

Devi menyebutkan, pemicu kenaikan harga beras secara nasional disebabkan karena adanya penundaan masa tanam pada akhir Tahun 2023, sehingga jadwal panen mundur, walaupun stok beras dinyatakan aman.  

Selain itu berkurangnya intensitas produksi beras sendiri dipicu oleh perubahan iklim ekstrim yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 2023 yang lalu.

Selanjutnya akan terjadi gagal panen karena iklim yang bisa berubah secara mendadak dalam beberapa waktu terakhir ini.

Krisis produksi beras tersebut akhirnya berdampak pada kelangkaan dan memicu adanya kenaikan harga yang melejit di pasaran.  

Secara ekonomi ketika terjadi ketidak sesuaian perkiraan produksi beras maka akan menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang berujung pada ekspektasi naiknya harga beras.   (Bangkapos.com/Sela Agustika)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved