Kamis, 7 Mei 2026

7 Cara Tepat Mengatasi Anak yang Susah Diatur

Memberi perhatian kepada anak akan membuat mereka merasa dihargai dan dicintai, sehingga mereka cenderung lebih patuh dan terbuka....

Tayang:
PEXELS/Kampus Production
Ilustrasi cara mengatasi anak yang susah diatur 

BANGKAPOS.COM -- Menghadapi anak yang susah diatur menjadi tantangan sendiri bagi orang tua.

Setiap orangtua tentunya memiliki gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya, ada yang agresif, pasif, lembut, tegas, dan lainnya.

Metode interaksi orangtua dengan anak tanpa disadari akan memengaruhi kemampuan dan kemauan anak untuk mendengarkan apa kata orangtua, yang tercermin dari cara anak berbicara kepada ayah-ibunya.

Setiap anak memiliki karakter masing-masing. Ada anak yang mudah menurut perintah orangtua, adapula yang susah diatur.

Namun, pada intinya adalah setiap anak istimewa dengan setiap karakternya masing-masing.

Sebagai orangtua, menghadapi anak yang susah diatur memang menjadi tantangan dan kerap menguras kesabaran.

Lantas, bagaimana cara mengatasi anak yang susah diatur? Simak ulasannya berikut ini sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

1. Membuat aturan bersama anak

Praktisi Psikologi Anak, Aninda, S.Psi, M.Psi.T., menuturkan, cara mengatasi anak yang susah diatur adalah membuat aturan yang melibatkan anak. Aturan tersebut tidak hanya berlaku bagi anak, namun semua anggota keluarga wajib mematuhinya.

“Cara mengatasi anak yang susah diatur, bisa dengan membuat aturan secara bersama-sama, termasuk konsekuensi yang terjadi jika aturan tersebut tidak dilaksanakan dengan baik,” ujarnya saat dikonfirmasi Kompas.com, dikutip Jumat (23/2/2024).

Melansir dari Verwell Family, anak-anak sebetulnya menyukai aturan dan batasan.

Anak-anak merasa aman ketika orangtua dapat menjadi pemimpin yang baik, serta dapat menetapkan dan menegakkan aturan.

2. Memberi Perhatian Lebih pada Anak

Memberi perhatian kepada anak akan membuat mereka merasa dihargai dan dicintai, sehingga mereka cenderung lebih patuh dan terbuka.

Ajaklah mereka berbicara, dengarkan omongan mereka, dan tunjukkan minat pada aktivitas yang mereka lakukan.

Dengan menjalin ikatan emosional yang kuat, anak akan merasa nyaman dan lebih mudah diatur.

3. Beri konsekuensi dan insentif

Seperti disampaikan Aninda sebelumnya, anak-anak harus diberikan konsekuensi jika tidak melaksanakan aturan yang sudah ditetapkan bersama.

Konsekuensi tersebut juga berlaku bagi seluruh anggota keluarga lainnya.

“Hal ini akan membentuk rasa tanggung jawab pada diri anak untuk mengikuti aturan dan berkomitmen menjalaninya,” kata Aninda.

Selain konsekuensi, anak-anak juga dapat diberikan insentif agar memotivasi mereka mengikuti aturan, dilansir dari Verywell Family. Insentif tersebut dapat berupa pujian dan hadiah.

4. Beri teladan

Terpisah, Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi, menjelaskan, ada beragam penyebab anak menjadi susah diatur. Salah satunya adalah orangtua tidak memberikan contoh seperti yang diinstruksikan.

“Bisa saja, anak tidak bisa diatur karena dia melihat bahwa yang mengatur, tidak melakukan hal yang sama seperti diinginkan,” jelasnya. Karenanya, Bunda Romy, sapaan akrabnya menuturkan orangtua hendaknya memberikan teladan bagi anak. Sebab, anak adalah peniru ulung.

5. Instruksi yang jelas

Bunda Romy menuturkan, penyebab lain anak susah diatur bisa jadi karena mereka kurang memahami kegiatan yang diinginkan orangtua maupun manfaat bagi dirinya.

“Anak tidak mau diatur karena kurang pemahamannya atau kurang memberikan manfaat untuk dia kalau dia melakukan hal itu,” jelasnya.

Karenanya, ia menganjurkan orangtua untuk memberikan penjelasan kepada anak mengenai alasan dan manfaat di balik kegiatan anak-anak.

Misalnya, sebelum meminta anak bangun pagi, orangtua harus menjelaskan manfaat bangun pagi bagi anak.

“Sebelum diharuskan melakukan sesuatu, diajarkan lebih dulu kenapa hal itu harus dilakukan, apa manfaatnya untuk dia, kenapa dia harus melakukan hal itu setiap hari. Penjelasan itu akan membantu dia untuk mengerti bahwa kegiatan tersebut penting untuk dirinya sendiri,” tutur Bunda Romy.

6. Berikan instruksi tegas

Melansir dari Verywell Family, cara orangtua memberikan instruksi kepada anak juga juga penting.

Orangtua hendaknya bersikap tegas dan lugas serta hanya memberikan satu instruksi dalam satu waktu.

Gunakan suara yang tenang dan pastikan orangtua mendapatkan perhatian anak sebelum berbicara.

7. Bahasa positif

Orangtua dianjurkan menggunakan bahasa positif kepada anak.

Fokuslah pada hal yang bisa dilakukan anak, bukan pada apa yang tidak bisa mereka lakukan.

Jadi, alih-alih mengatakan, “Jangan menonton TV sampai kamarmu bersih," sebaiknya diganti dengan kalimat "Kamu bisa menonton TV setelah kamarmu bersih." (*/ Kompas.com/)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved