Berita Viral
Sosok Devara Putri, Caleg DPR RI Otak Pembunuhan Indriana, Segini Perolehan Suara di Pemilu 2024
Sosok Devara Putri, Caleg DPR RI yang singkirkan saingan cinta dengan menyewa pembunuh bayaran. Segini perolehan suara di pemilu 2024
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: fitriadi
BANGKAPOS.COM--Devara Putri Prananda, seorang calon anggota DPR RI dari Partai Garuda, menjadi sorotan publik setelah terlibat dalam kasus pembunuhan seorang wanita bernama Indriana Dewi.
Lebih memprihatinkan lagi, Devara Putri diduga menjadi otak di balik pembunuhan tersebut.
Tindakan keji Devara Putri ini melibatkan pembayaran kepada seseorang untuk membunuh pesaingnya dalam hubungan asmara dengan Didot Alfiansyah, kekasihnya.
Baca juga: Otak Pembunuhan Bermotif Cinta Segitiga Devara Putri Prananda Caleg DPR Dipecat dari Partai Garuda
Devara Putri Prananda bersama Didot Alfiansyah dan pembunuh bayaran Muhammad Reza Swastika, menjalani rekonstruksi pembunuhan Indriana Dewi Eka.
Pada kronologi pembunuhan, mereka mengajak korban pergi jalan-jalan dari Jakarta ke Sentul, Bogor, menggunakan mobil Avanza yang disewa.
Di sana, Reza menJerat leher korban dengan ikat pinggang hingga tewas.
Diketahui Devara Putri Prananda maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Garuda Dapil Jawa Barat IX.
Saat Pileg 2024, ia ternyata mengumpulkan 226 suara.
Perolehan suara itu berdasarkan data real count KPU dengan data masuk 67,38 persen, atau penghitungan 8.366 dari 12.416 TPS, yang dapat dipantau langsung di laman pemilu2024.kpu.go.id, Minggu (3/3/2024).
Perolehan suara Devara Putri Prananda dalam Pileg 2024 terbilang rendah dibanding caleg lain dari Partai Garuda.
Dikutip TribunJakarta dari goodkind.id, Devara Putri Prananda mempunyai misi mengusulkan program kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat yang tidak mampu.
Lalu pendidikan terakhir Devara Putri Prananda adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Devara Putri Prananda bersekolah di sebuah SMK swasta kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Devara Putri yang sebelumnya terhormat foto sebagai caleg kini Terlihat menggunakan baju tahanan berwarna biru.
Tangan Caleg DPR RI dari Partai Garuda tersebut tampak terpasang borgol.
Dalam kasus ini, motifnya diduga terkait cemburu dalam segitiga asmara antara Didot Alfiansyah, Devara Putri Prananda, dan Indriana Dewi Eka.
Dipecat dari Partai Garuda
Devara Putri Prananda sudah dipecat dari Partai Garda Republik Indonesia atau Partai Garuda.
Pemecatan Devara disampaikan Sekjen DPP Partai Garuda, Yohanna Murtika pada Minggu (3/3/2024).
"Perihal perkara itu sudah kami cabut keanggotaannya (Devara), kami dari internal pastinya memberikan peringatan keras kepada semua kader yang terlibat pelanggaran hukum," kata Yohanna.
Devara mengatakan kasus yang ditangani Polda Jawa Barat itu dikarenakan sikap pribadinya, dan tidak berkaitan dengan partai.
"Karena itu urusan pribadi, bukan masalah partai. Tapi kami tetap berempati perihal kasus tersebut. Semoga masalahnya cepat terselesaikan," pungkasnya.
Kronologi Pembunuhan
Korban Dibunuh di Bogor.
Devara Putri Prananda menyuruh kekasihnya Didot Alfiansyah (24) untuk membunuh Indriana Dewi Eka.
Didot Alfiansyah lalu meminta bantuan kepada temannya Muhammad Reza Swastika untuk menghabisi Indriana Dewi Eka.
Dalam melancarkan aksinya, Didot Alfiansyah dan Reza pura-pura mengajak korban pergi jalan-jalan dari Jakarta ke Sentul, Bogor, menggunakan mobil Avanza yang disewa, Selasa (20/2/2024).
Ketika tiba di kawasan Bukit Pelangi Sentul, Reza menjerat leher korban dengan ikat pinggang selama 15 menit sampai korban tewas.
Setelah melakukan aksi keji itu, Didot Alfiansyah dan Reza berangkat ke Jakarta menjemput Devara Putri Prananda sambil membawa jasad korban.
Keesokannya atau pada Rabu (21/2/2024) sekitar jam 12.30 WIB, para pelaku membawa jasad korban menuju Pangandaran melalui Tol Cipali Cirebon.
Sesampainya di Kuningan, mobil tersebut rusak dan akhirnya ditowing atau diangkut ke bengkel.
Selama di dalam mobil, mulut korban ditutup masker seolah-olah terlihat tidur.
Jasad korban berada di dalam mobil selama empat hari.
Pada Jumat (23/2/2024) sekitar jam 02.00 WIB, Didot Alfiansyah dan Devara Putri Prananda mengeluarkan jasad korban dari mobil.
Mereka membuangnya ke jurang di belakang Tugu Gajah Kota Banjar.
Jasad korban ditutup dengan selimut.
Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Jabar Kombes Pol Surawan mengatakan, pembunuhan dilatarbelakangi cinta segitiga antara Didot Alfiansyah, Devara Putri Prananda, dan Indriana.
"Ya, kira-kira seperti itu (cinta segitiga). Jadi karena cemburu pelaku melakukan ini (pembunuhan)," ujar Surawan usai olah TKP di Jalan Bukit Pelangi Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jabar, Jumat (1/3/2024).
Surawan menjelaskan, Didot Alfiansyah dan Devara Putri Prananda merupakan sepasang kekasih.
Keduanya sudah berpacaran selama 5 tahun.
Namun, di saat bersamaan, ternyata Didot Alfiansyah juga tengah menjalin hubungan dengan Indriana.
Hubungan yang sudah berlangsung selama tujuh bulan itu rupanya diketahui oleh Devara Putri Prananda.
Devara Putri Prananda kemudian meminta Didot Alfiansyah untuk memilih dirinya atau Indriana Dewi Eka.
Jika Didot Alfiansyah memilih dirinya, maka Devara Putri Prananda meminta kekasihnya itu untuk menghilangkan Indriana Eka Dewi dari bumi.
"Perempuan (DP) ini lah yang meminta pelaku (MR) untuk melakukan pembunuhan terhadap korban," ujarnya.
Fakta-fakta Pembunuhan Indriana Dewi
Sejumlah fakta terungkap dalam perkara pembunuhan yang diduga dikarenakan cinta segitiga hingga memakan korban seorang perempuan bernama Indriana Dewi Eka Saputri (24).
Fakta itu disampikan ketua RT 6 RW 14 kelurahan Cipinang Besar Utara, kecamatan Jatinegara, yang diketahui berada di wilayah kediaman Indriana beserta satu kakaknya dan kedua orangtuanya.
Fakta pertama adala pihak keluarga dalam hal ini ibu korban sempat dikirim makanan sate persis satu hari sebelum pihak kepolisian datang ke kediaman korban untuk memberitahu jenazah terduga korban ditemukan.
Sate tersebut dikirim pada malam hari oleh seorang perempuan yang menggunakan atribut lengkap ojek online (Ojol) dan memberitahu kalau sate tersebut dipesan oleh Indriana yang diperkirakan pada malam itu sudah meninggal dunia.
“Malam hari dikirimin sate sama perempuan ngakunya ojol yang dipesan sama Indriana, terus besok paginya polisi baru datang ke lokasi mengabarkan ada temuan jenazah,” kata Eko.
Eko menjelaskan sate tersebut kemudian diterima oleh sang ibu korban.
Hanya saja tidak dikonsumsi lantaran sudah kenyang dan kemudian disimpan.
Hingga pada keesokan paginya, pihak kepolisian datang ke kediaman korban untuk memberitahu perihal informasi dugaan mayat Indriana dan mengetahui informasi adanya pengiriman makanan tersebut, sate tersebut langsung dibawa pihak kepolisian sebagai barang bukti.
“Sate nya tidak makan jadinya, karena kenyang ibunya katanya, terus pas polisi datang dan tahu ada informasi itu langsung dibawa, takutnya itu sate ada racun atau gimana kan tidak tahu, jadinya buat bukti data penyelidikan,” ujarnya.
Sudah Meninggal, Tapi Bisa Balas Pesan WhatsApp
Pihak keluarga mengatakan akun WhatsApp anak kedua itu masih aktif saat diperkirakan sudah meninggal dunia.
Eko menjelaskan hal itu terbukti saat sang ibu mengirim pesan ke nomor WhatsApp korban pada dua hari sebelum keluarga mengetahui jenazah Indriana ditemukan dan saat itu sudah diperkirakan meninggal empat hari lalu.
Sehingga alasan itu yang membuat awal pihak keluarga tidak berpikiran khawatir ataupun curiga dengan aktivitas Indriana yang diketahui sebelumnya sempat izin ingin pergi bersama rekan-rekannya ke kawasan Bogor.
“Masih bales chat kok WhatsApp nya (Indriana) di chat apapun sama ibunya dibales, makanya ibunya tidak khawatir beberapa hari belum pulang ke rumah,” jelasnya.
Justru Eko mengungkapkan kecurigaan dari pihak keluarga timbul dari pemikiran sang kakak kandung dari Indriana.
Kakak kandungnya yang berinisial R itu curiga lantaran ketikan atau balasan text WhatsApp dari Indriana yang berbeda dari biasanya.
Ia pun menduga jika berdasarkan waktu perkiraan jenazah meninggal dunia, kondisi Indriana seharusnya sudah meninggal dunia, dan tidak dapat membalas chat WhatsApp.
“Kalau dilihat dari rentan waktu meninggal dunia, Indriana itu udah meninggal, gamungkin bisa balas WhatsApp, dugaannya ya yang balas itu teman dekat pria korban, mungkin hafal ketikannya juga,” imbuhnya.
Bahkan Eko mengungkapkan saat pihak Kepolisian datang ke kediaman Indriana untuk memberitahu informasi telah ditemukannya jenazah, kemudian mengarahkan sang ibu untuk mengirim pesan ke nomor WhatsApp korban pun masih juga dibalas.
“Sampai polisi mengarahkan chat aja juga masih dibales,” pungkasnya.
Infromasi itupun kini tengah dijadikan pihak kepolisian untuk membantu sebagai data perkara.
(Wartakota/Tribunjakarta.com/Tribunjabar.com)
| Profil H Safrani Cikmin, Sekretaris DPRD yang Didesak Mundur Oleh Bupati Lahat Perkara LKPJ |
|
|---|
| Sosok dan Jejak Nus Kei, Ketua Golkar Tewas Ditikam OTK, Rumahnya Pernah Diserang Kelompok John Kei |
|
|---|
| Nus Kei Ketua Golkar Tewas Ditikam saat Tiba di Bandara, Kakak Korban Banting Pelaku Sebelum Kabur |
|
|---|
| Wanita ASN dan Polisi Kepergok Selingkuh yang Digerebek Keluarga Kini Nasibnya di Tangan Disnaker |
|
|---|
| Wanita ASN Terciduk Selingkuh dengan Oknum Polisi Ternyata PPPK, Digerebek Keluarga di Kontrakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240304-Sosok-Devara-Putri.jpg)