Sabtu, 11 April 2026

Lakukan Penelitian Penyebab Hiu Paus Terdampar, Ini Sebabnya

Fenomena ikan hiu paus kerap terdampar di Pantai Selatan Jawa, terjawab sudah

Istimewa/A Hartoko dan D Pringgenies. FPIK Undip 2024
Penguburan hiu paus yang terdampar 

BANGKAPOS.COM -- Fenomena ikan hiu paus kerap terdampar di Pantai Selatan Jawa, terjawab sudah. Hal itu terkait dengan fenomena ‘air dingin’ di Samudera Hindia, yang terjadi karena proses upwelling atau naiknya masa air laut dingin dari laut dalam ke permukaan laut.

Fenomena ini terjawab setelah Prof Dr Ir Agus Hartoko dan Prof Dr Ir D Pringgenies dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro dalam beberapa tahun terakhir aktif meneliti ikan hiu paus terdampar di sejumlah tempat di Pantai Selatan Jawa, termasuk di Pantai Congot Selatan Jogyakarta.

“Ternyata hiu paus itu mengikuti adanya fenomena ‘air dingin’ di Samudra Hindia.  Fenomena itu terjadi karena adanya proses upwelling, di mana masa air laut dingin dari laut dalam naik ke permukaan laut, sehingga kemudian hiu paus terdampar di pantai tersebut,” ujar Agus Hartoko, dalam rilis yang diterima Bangkapos.com, Minggu  (10/03/2024) petang.

Pantai Selatan Jawa sendiri menurut Agus  berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Berdasarkan analisis data satelit sub-surface temperature (Copernicus Marine Environment Monitoring Service-CMEMS) pada tiga lapisan kedalaman laut, masing-masing 125 meter, 100 meter, 75 meter dan di permukaan laut,  ternyata  temperatur berkisar antara 18 hingga 23 derajat Celcius.

Pada sisi yang lain, lanjut Agus, fenomena hiu paus terdampar di pantai dapat ditelusuri dalam pengetahuan ‘samudramanthana’ atau pengadukan samudra. Hal mana  dapat dimaknai sebagai interaksi antar-mahluk  yang ada di laut,  dan interaksi proses oseanografis, atau dapat dimaknai juga sebagai interaksi ‘jagat kecil’ dan ‘jagat besar’.

Fenomena hiu paus terdampar, seperti pernah terjadi pada 19 September 2020 di Pantai Congot Selatan Jogyakarta, menarik perhatian peneliti. Ikan hiu paus dikenal sebagai hewan terbesar di lautan, disebut megafauna di samudra. Panjang hiu paus  bisa mencapai 15m dan berat mencapai 15 ton.  Megafauna ini telah ada sejak 333 juta tahun lalu.

Menurut Agus, berdasarkan metoda DNA-barcoding telah dibuktikan bahwa spesies hiu paus yang terdampar di Pantai Congot Yogyakarta ini adalah Rhincodon typus. Jenis ikan hiu paus itu bertulang rawan atau Elasmobranchia.

“Dari bedah perut dan pengambilan sampel isi perut hiu paus yang bervolume sekitar 1 ton itu, kemudian  dilakukan analisa morfologi dan taksonomi. Ternyata makanannya biota kecil yang dikenal sebagai plankton,” tandas Agus. 

Dikemukakannya, untuk memastikan jenis atau spesies makanan alami hiu paus tersebut penelitian dilanjutkan dengan analisa molekuler dengan metoda DNA-barcoding. Hal ini merupakan pembuktian ilmiah pertama di Indonesia, yang selama ini dalam status diduga. 

Diperoleh kepastian bahwa makanan utamanya adalah jenis udang renik atau udang kecil yang memang tidak bisa besar yang bernama latin Solanocera crasicornis.

Cetacea -paus,dugong, hiu-paus mega-fauna samudra ternyata hewan herbivor, non-carnivorous menghasilkan jenis lemak dengan kandungan omega-3 terbaik, pada lapisan perut ‘bluber’ nya. 

Dalam studi ini dapat dibuktikan temuan adanya kesamaan jumlah unsur pasangan guanine-cytosine (GC-genome pairs) pada DNA hiu paus ternyata sama dengan GC-pairs pada makanan alaminya,  yaitu udang renik Solanocera crasicornis. 

Terakhir Agus menjelaskan jika temuan ini sangat berarti bagi studi potensi pengembangan Epigenetic-regulation, DNA repairs mechanism dalam rangka penyesuaian jenis makanan (feeding adjustment), penyesuaian suhu badan hiu paus karena perubahan temperature air laut (thermoregulation) selama pengembaraan antar samudra (oceanic migration) dari kutub Selatan (South Pole). 

“Hiu paus dikenal sebagai hewan berumur panjang antara 50 hingga 100 tahun. Bagi peneliti lain untuk bidang medis yang sedang dikembangkan diantaranya yaitu aging study, immune system, DNA repair system karena perubahan lingkungan lautan,” tukas Agus Hartoko

(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho/Rilis)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved