Sabtu, 9 Mei 2026

Profil Tokoh

Profil Meutya Hafid Ketua Komisi 1 DPR Soroti Peretasan PDN yang Tidak Ada Back Up Data: Kebodohan

Pusat data nasional (PDN) diretas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya data di PDN tidak bisa dipulihkan kembali karena tidak memiliki

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: fitriadi
Kompas.com
Profil Meutya Hafid Ketua Komisi 1 DPR Soroti Peretasan PDN yang Tidak Ada Back Up Data: Kebodohan 

BANGKAPOS.COM -- Dalam rapat antara Komisi I DPR, Kominfo, dan BSSN di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/6/2024), Meutya Hafid menyoroti kasus peretasan pusat data nasional (PDN).

Pusat data nasional (PDN) diretas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Akibatnya data di PDN tidak bisa dipulihkan kembali karena tidak memiliki back up data. 

Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memanggil Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) guna mengklarifikasi.

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (Purn) Hinsa Siburian mulanya menyebut mereka memiliki masalah dalam tata kelola.

"Kita ada kekurangan di tata kelola. Kita memang akui itu. Dan itu yang kita laporkan juga, karena kita diminta apa saja masalah kok bisa terjadi, itu salah satu yang kita laporkan," ujar Hinsa.

Mendengar pengakuan Hinsa, Meutya menegaskan persoalan peretasan PDN bukanlah masalah tata kelola.

Dia menyebut pemerintah melakukan kebodohan dengan tidak mem-back up data PDN.

"Kalau enggak ada back up, itu bukan tata kelola sih, Pak, kalau alasannya ini kan kita enggak hitung Surabaya, Batam back up kan, karena cuma 2 persen, berarti itu bukan tata kelola, itu kebodohan saja sih, Pak," tukas Meutya. "

Iya," ucap Hinsa.

"Punya data nasional dipadukan seluruh kementerian harusnya, untung katanya ada beberapa kementerian belum comply, belum gabung. Masih untung orang Indonesia," kata Meutya.

Meutya menyebut Imigrasi lah yang paling patuh menyetor data ke PDN, sehingga mereka yang paling tidak selamat dalam kasus peretasan ini.

Dia kembali mengulang bahwa masalah dalam peretasan PDN ini bukan tata kelola, melainkan kebodohan pemerintah.

"Yang paling patuh Imigrasi saya dengar. Itu yang paling enggak selamat. Intinya jangan bilang lagi tata kelola, Pak."

"Karena ini bukan masalah tata kelola, ini masalah kebodohan. Punya data nasional tidak ada satupun back up berarti kan?" imbuh Meutya.

Diketahui, sudah sepekan Pusat Data Nasional (PDN) belum pulih dari mengalami serangan siber dengan “Ransomware” yang terjadi Kamis (20/6/2024).

Serangan itu tidak hanya mengakibatkan gangguan terhadap sejumlah layanan, tetapi membuat data milik 282 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di PDN terkunci dan tersandera peretas.

Tim dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Polri dan juga Telkom selaku pihak pengelola PDN, sudah berupaya mengembalikan data-data tersebut.

Namun, sejumlah upaya yang dilakukan tidak berhasil melawan serangan ransomware dari peretas.

Pemerintah akhirnya mengaku gagal memulihkan data-data yang tersimpan di PDN.

"Kita berupaya keras melakukan recovery resource yang kita miliki. Yang jelas data yang sudah kena ransomware sudah tidak bisa kita recovery."

"Jadi sekarang menggunakan sumber daya yang masih kita miliki,” ujar Direktur Network dan IT Solution Telkom Herlan Wijanarko, Rabu (26/6/2024).

Di tengah upaya investigasi dan pemulihan data yang dilakukan sebelumnya, tim gabungan menemukan pesan berisi permintaan tebusan dari peretas.

Pemerintah diminta membayar senilai 8 juta dollar AS atau setara Rp 131 miliar, jika ingin data-data yang tersimpan di PDN dibuka oleh peretas.

Namun, pemerintah menolak negosiasi itu.

“Ya pemerintah kan enggak mau menebus, sudah dinyatakan tidak akan memenuhi tuntutan Rp 131 miliar,” ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong.

Menurut Usman, keputusan ini diambil setelah memastikan data yang terenkripsi oleh peretas masih berada di dalam server PDN.

Selain itu, BSSN juga sudah mengisolasi dan memutus jaringan server PDN, sehingga peretas tidak dapat mengakses dan mengambil data tersebut.

“Sudah diamankan data itu, sudah enggak bisa diutak-atik oleh dia, termasuk juga oleh kita.

Karena sudah kita tutup kan,” kata Usman. Seiring dengan itu, Pemerintah sudah memutuskan untuk pasrah kehilangan data-data tersebut.

Profil Meutya Hafid

Meutya Hafid memiliki nama lengkap Meutya Viada Hafid.

Ia merupakan Ketua Komisi 1 DPR RI dari fraksi Partai Golongan Karya, daerah pemilihannya Sumatera Utara 1.

Meutya Viada Hafid lahir pada 3 Mei 1978 di Bandung, Jawa Barat.

Namun, Meutya Viada Hafid besar di Jakarta.

Meutya Viada Hafid merupakan anak dari pasangan Anwar Hafid dan Metty Hafid.

Riwayat Pendidikan

  • SDN 02 MENTENG. Tahun: 1984 - 1990
  • SMPN 1 CIKINI. Tahun: 1990 - 1993
  • CRESCENT GIRLS SCHOOL. Tahun: 1993 - 1996
  • MANUFACTURING ENGINEERING, THE UNIVERSITY OF NEW SOUTH WALES SIDNEY. Tahun: 1996 - 2000
  • Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Tahun: 2015 - 2018

Riwayat Pekerjaan

  • MPR / DPR RI, Sebagai: ANGGOTA. Tahun: 2014 - 2019
  • MPR / DPR RI, Sebagai: ANGGOTA . Tahun: 2009 - 2014
  • Metro TV, Sebagai: Jurnalis . Tahun: 2001 - 2008

Riwayat Organisasi

  • PP GOLKAR , Sebagai: Ketua Bidang Hub Luar Negeri. Tahun: 2016 - 2019
  • KPPG, Sebagai: Ketua Bid Hukum, HAM dan Kebijakan Publik. Tahun: 2016 - 2021
  • Ormas MKGR, Sebagai: Ketua Bidang Strategi Opini dan Propaganda. Tahun: 2015 - 2020

Disebut Calon Kuat Menteri Luar Negeri Prabowo

Meutya Hafid disebut-sebut sebagai calon kuat Menteri Luar Negeri Prabowo Subianto.

Meski kabar sudah merebak, Meutya Hafid sendiri mengaku belum mendapatkan mandat apapun.

Hal ini disampaikan Meutya di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Minggu (23/6/2024).

"Saya belum tahu, belum tahu. Belum lah, kita nunggu lah. Kan prerogatifnya ada di Pak Prabowo sebagai presiden terpilih."

"Jadi itu keputusan nanti di Pak Prabowo. Jadi sampai saat ini saya nggak tahu seperti apa," kata Meutya

Meutya Hafid mengatakan pihak yang paling mengetahui pembahasan menteri ialah Prabowo dan ketum-ketum parpol pendukung yang tergabung Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Selain itu Meutya Hafid juga menepis jika ada kabar dirinya akan menjadi Menteri Luar Negeri di pemerintahan yang akan datang.

"Yang tahu Ketua Umum dan juga Pak Prabowo. Karena hal-hal seperti itu dibicarakan langsung oleh para Ketum dengan Pak Prabowo," ujar Meutya.

"Nggak (kabar jadi Menlu), belum, belum ada pembicaraan. Belum ada obrolan."

"Semuanya masih wait and see lah menunggu. Tergantung presiden terpilih dan para ketua umum tentunya," katanya lagi.

(Bangkapos.com/Kompas.com/Sripoku.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved