Kamis, 7 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Alobi Foundation Lakukan Pelepasliaran Trenggiling dan Musang Pandan ke Habitat Aslinya

Pelepasliaran hewan yang dilindungi dan terancam punah tersebut dilakukan bersama dengan DLH Bangka Barat dan PT Timah dikawasan Hutan Konservasi

Tayang:
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: Hendra
(Ist) 
Alobi Foundation melakukan pelepasliaran trenggiling. 

BANGKAPOS.COM,BANGKA- Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan dan Alobi Foundation mengembalikan atau pelepasliaran satu ekor trenggiling (Manis Javanica) dan satu ekor musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus) ke habitat alaminya, Rabu (3/7/2024). 

Pelepasliaran hewan yang dilindungi dan terancam punah tersebut dilakukan bersama dengan DLH Bangka Barat dan PT Timah dikawasan Hutan Konservasi di Kabupaten Bangka Barat, Sabtu (29/6/2024) lalu,

Founder Alobi, Langka Sani mengatakan Trenggiling berjenis kelamin betina yang dilepasliarkan, merupakan hasil serahan masyarakat ke BKSDA Sumsel dan Alobi Foundation pada Sabtu (15/6/2024) lalu. 

"Untuk upaya konservasi dan telah melalui proses rehabilitasi di pusat penyelamatan satwa Alobi Bangka Belitung reklamasi Timah Air Jangkang, dan saat ini sudah dinyatakan siap untuk tahap pelepasliaran," ujar Langka Sani. 

Manis javanica atau yang dikenal dengan Trenggiling merupakan jenis Mamalia bersisik dari Family Manidae yang dilindungi Undang-Undang, sebagaimana Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa, yang tercantum dalam Permenlhk No.106 Tahun 2018. 

Status konservasi Trenggiling menurut IUCN Redlist, termasuk Critically Endangered yaitu spesies yang berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

"Ancaman terbesar terhadap spesies Trenggiling, ialah hilang dan rusaknya habitat alami mereka. Masifnya perburuan liar untuk diperdagangkan secara ilegal sampai di tingkat International, satwa ini dicari terutama karena sisiknya," jelasnya.

Langka Sani mengungkapkan trenggiling merupakan species satwa yang menjadi perhatian dunia pada saat ini, dikarenakan ancaman yang berasal dari manusia terhadap spesies trenggiling begitu meluas.

"Bahkan diadakan hari trenggiling sedunia mulai tahun 2012 sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, tentang kondisi buruk yang melanda spesies ini yang terus diperingati tiap tahun pada hari Sabtu ke-3 di bulan Februari," bebernya.

Sementara itu dengan pelepasliaran bersama beberapa pihak, diungkapkan Langka Sani sebagai bentuk kolaborasi dalam melindungi dan melestarikan satwa. 

"Populasi satwaliar Bangka Belitung di alam liar saat ini sudah sangat menghawatirkan, menuju kepunahan akibat hilangnya habitat alami mereka karena ulah manusia," ungkapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).  

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved