Tribunners

Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi

Pembangunan perguruan tinggi Konghucu di Bangka Belitung adalah isu yang kompleks dan sensitif

Editor: suhendri
ISTIMEWA
H. Firmantasi, S.Ag., M.H. - Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang 

Oleh: H. Firmantasi, S.Ag., M.H. - Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang

BICARA tentang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tentunya kita akan dibawa pada satu kenyataan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang pluralis, yaitu masyarakat yang memiliki beragam latar belakang etnis, budaya, dan agama yang hidup berdampingan saling menghormati dan toleransi. Kelompok etnis seperti Melayu, Tionghoa, Bugis, dan Jawa, yang masing-masing dengan budaya dan tradisi yang unik. Selain mayoritas penganut agama Islam, terdapat juga komunitas Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu yang cukup signifikan. Setiap kelompok agama memiliki tempat ibadah dan melaksanakan kegiatan keagamaan masing-masing.

Berdasarkan bahasa dan tradisi, masyarakat Bangka Belitung menggunakan berbagai bahasa daerah selain bahasa Indonesia, dan menjalankan tradisi serta adat istiadat yang beragam, mencerminkan kekayaan budaya. Untuk kerukunan dan toleransi, meski berbeda, masyarakat Bangka Belitung umumnya hidup dalam kerukunan dan saling menghormati. Toleransi dan dialog antarumat beragama serta antaretnis adalah kunci dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan.

Kita sepakat bahwa pendidikan merupakan fondasi utama bagi perkembangan individu dan masyarakat. Bagi individu, pendidikan membuka pintu menuju pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang esensial untuk kehidupan. Melalui pendidikan, seseorang dapat mengembangankan potensi diri, meningkatkan kualitas hidup, dan mencapai aspirasi pribadi maupun profesional.

Di tingkat masyarakat, pendidikan berperan sebagai katalisator kemajuan sosial dan ekonomi. Masyarakat yang terdidik akan cenderung lebih inovatif, produktif, dan mampu menghadapi tantangan global yang lebih baik. Pendidikan juga memainkan peran penting dalam mempromosikan toleransi, keadilan, kesetaraan sehingga menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan inklusif. Dengan memberikan akses pendidikan yang merata dan berkualitas, kita tidak hanya membangun individu yang cerdas dan kompeten, tetapi juga membentuk masyarakat yang kuat, maju, dan beradab.

Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31, yang menjamin setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SNP) mengatur prinsip-prinsip dasar pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan agama yang diakui secara resmi oleh negara, termasuk pengakuan Konghucu sebagai agama resmi. Atas dasar inilah yang melatarbelakangi masyarakat Konghucu untuk mendirikan Perguruan Tinggi Konghucu di Bangka Belitung.

Tentunya hal itu menimbulkan pro dan kontra dari setiap lapisan masyarakat kita. Ada beberapa alasan pihak yang mendukung pendirian perguruan tinggi ini dilatarbelakangi pentingnya kesetaraan dalam akses pendidikan bagi kelompok agama. Hal ini merupakan langkah penting untuk memperkuat identitas dan warisan budaya Konghucu di Indonesia. Selain itu, perguruan tinggi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Bangka Belitung.

Saat ini, sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga menengah di wilayah Bangka Belitung mengalami kekurangan guru agama Konghucu. Hal ini berdampak pada kualitas pendidikan dan pengajaran nilai-nilai moral serta etika Konghucu yang tidak optimal. Kekurangan tenaga pendidik agama Konghucu juga menghambat perkembangan spiritual dan karakter siswa yang beragama Konghucu.

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, kebutuhan akan tenaga pendidik yang kompeten dan berkualitas dalam pendidikan agama Konghucu makin mendesak.

Sebaliknya, pihak yang menolak pembangunan ini berpendapat bahwa perguruan tinggi Konghucu mungkin akan memperkeruh hubungan antarumat beragama di Bangka Belitung sendiri. Ada kekhawatiran sebagian masyarakat akan adanya potensi segregasi dan diskriminasi berdasarkan agama dalam lingkungan pendidikan. Selain itu, beberapa alasan penolakan yaitu pendirian perguruan tinggi ini tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal yang lebih mendesak.

Kontroversi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam mengelola keragaman di Indonesia. Di satu sisi,pembangunan perguruan tinggi Konghucu dapat menjadi simbol penting dari inklusi dan penghormatan terhadap keberagaman. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, ini juga akan berpotensi memperburuk ketegangan sosial dan budaya.

Oleh karena itu, beberapa solusi diperlukan untuk menghindari kontroversi ini, di antaranya dilakukan dialog terbuka antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat untuk mencari solusi yang saling menguntungkan. Dialog ini harus didasarkan pada prinsip saling menghormati dan mengakui hak setiap kelompok untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Pemerintah termasuk Kementerian Agama di dalamnya akan melakukan pengawasan dan memastikan bahwa perguruan tinggi ini akan dikelola secara profesional dan sesuai dengan standar pendidikan nasional. Selain itu, pemerintah juga akan melakukan pengawasan ketat untuk mencegah potensi diskriminasi dan memastikan integrasi yang harmonis dengan masyarakat lokal. Lebih lanjut, meningkatkan program edukasi multikultural di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi akan membantu mempromosikan toleransi dan pemahaman antarbudaya. Pendidikan ini penting untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keragaman.

Pembangunan perguruan tinggi Konghucu di Bangka Belitung adalah isu yang kompleks dan sensitif. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang hati-hati dan inklusif untuk memastikan bahwa pendidikan dapat dinikmati oleh semua warga negara tanpa diskriminasi. Melalui dialog, pengawasan, dan edukasi yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil dan harmonis, serta menghormati keragaman budaya dan agama, yang pada akhirnya diharapkan akan memperkuat kerukunan dan memperkaya budaya bangsa.

Secara keseluruhan, pendirian perguruan tinggi Konghucu di Bangka Belitung dapat dilihat sebagai salah satu langkah maju dalam mewujudkan prinsip kesetaraan dan inklusi dalam sistem pendidikan nasional. Dengan pendekatan yang tepat dan kerja sama semua pihak, perguruan tinggi ini memiliki potensi untuk menjadi simbol penting dari penghormatan terhadap keragaman budaya dan agama di Indonesia. Hal ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi komunitas Konghucu, tetapi juga akan memperkaya warisan budaya nasional dan memperkuat fondasi masyarakat yang harmonis dan beradab. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved