Bangka Pos Hari Ini
Bendera Pusaka Dibalut Tenun Mentok, Pengasingan Bung Karno Disertai Kehadiran Bendera Pusaka
Kehadiran bendera merah putih yang pertama kali dikibarkan itu tidak dietahui banyak orang karena tersimpan rapi di rumah warga setempat.
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno menjalani masa pengasingan selama kurang lebih enam bulan, tepatnya Februari-Juli 1949, di Kota Mentok Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Banyak kisah yang tersimpan selama masa pengasingan tersebut.
Beberapa di antara kisah itu dituliskan Dato' Akhmad Elvian, DPMP, CECH, Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia dalam artikel berjudul A.M Yusuf Rasidi, Sang Merah Putih, dan Kembali ke NKRI. Dalam artikel itu pula, Akhmad Elvian menyebut Bung Karno turut membawa Bendera Pusaka atau Sang Saka Merah Putih saat menjalani pengasingan di Kota Mentok. Kehadiran bendera merah putih yang pertama kali dikibarkan itu tidak dietahui banyak orang karena tersimpan rapi di rumah warga setempat.
“Bendera pusaka disimpan dengan sangat hati-hati di rumah A.M Yusuf Rasidi di Kota Mentok,” tulis Akhmad Elvian.
Kepada Bangkapos.com, Senin (22/7), Akhmad Elvian menceritakan bahwa kedatangan Bung Karno ke Pulau Bangka meningkatkan semangat juang dan rasa cinta rakyat Bangka terhadap Republik Indonesia, Bung Karno sering berbicara di muka umum, mimbar Jumat, menerima delegasi dari kelompok-kelompok politik setempat, di tempat pengasingannya di Mentok. Bersama para pemimpin Republik di Bangka Bung Karno mengunjungi pasar, menghadiri acara-acara olahraga, ikut dalam pesta panen dan bahkan menghadiri pesta pernikahan A.M Yusuf Rasidi, anggota dewan Bangka pro-Republik.
Abang Muhammad Yusuf Rasidi atau A.M Yusuf Rasidi sendiri merupakan tokoh Bangka yang sangat cinta dengan Republik. Dia pernah menjadi anggota Dewan Bangka (Bangka Raad) pada rentan tahun sekitar 1947-1949. Komposisi Dewan Bangka (Bangka Raad) terdiri dari Sembilan orang Tionghoa, Empat belas orang pribumi dan Dua orang Eropa. Salah seorang anggota Dewan Bangka yang berasal dari pribumi adalah A.M Yusuf Rasidi.
Dalam buku ‘Kenangan Manis dari Menumbing, A.M Yusuf Rasidi dinikahkan dengan seorang gadis bernama Soleha binti Said Yazan. Bung Karno lah yang jadi promotornya dan undangannya pun tidak tanggung tanggung, 5.000 orang. Kata Elvian, menjadi promotor tersebut berarti orang yang ikut menggagas acara pernikahan termasuk yang menyelenggarakan.
Dijelaskan Akhmad Elvian dalam artikelnya, bersamaan dengan kedatangan Bung Karno ke pulau Bangka, banyak khalayak yang tidak mengetahui, bahwa Bendera Pusaka Sang Merah Putih, juga dibawa Bung Karno ke pulau Bangka dan disimpan dengan sangat hati-hati di rumah A.M Yusuf Rasidi di Kota Mentok.
Kepercayaan Bung Karno kepada A.M Yusuf Rasidi karena Bung Karno memahami sepak terjang A.M Yusuf Rasidi yang sangat nasionalis dan republiken, terutama sebelum pengasingan Bung Karno ke pulau Bangka.
Dan pada saat Bung Karno kembali ke Yogyakarta pada Tanggal 6 Juli 1949 atau setelah ditandatanganinya perundingan Roem-Royen, Bendera Pusaka Sang Merah Putih diminta kembali oleh Bung Karno kepada A.M Yusuf Rasidi untuk dibawa kembali oleh Bung Karno ke Yogyakarta.
“Yang terakhir naik tangga (pesawat) sewaktu meninggalkan Bangka untuk kembali ke Yogyakarta ialah pak Karno. Di atas puncak tangga beliau berdiri tegak dan memandang berkeliling. Tangan kiri beliau memegang sebuah bungkusan dari tenunan Mentok yang di dalamnya terdapat Bendera pusaka, sedangkan tangan kanan beliau melambai-lambai kepada rakyat di pinggir lapangan,” kata Akhmad Elvian
Sempat dirobek
Sedikit berbeda, Ramzi, Juru Pelihara Wisma Ranggam, rumah yang dihuni Presiden Soekarno selama pengasingan di Kota Mentok, turut menceritakan kehadiran Bendera Pusaka Merah Putih saat Bung Karno menjalani masa pengasingan. Menurutnya, Bendera Pusaka dibawa ke Bangka dalam keadaan tidak utuh dan diam-diam.
“Jadi bendera pusaka itu sempat dibawa ke Bangka. Karena kedaulatan kita belum diakui Belanda, sang saka itu dirobek, dipisah antara merah dan putihnya,” kata Ramzi kepada Bangkapos.com, Kamis (18/7).
Dilanjutkannya, Bendera Pusaka itu diambil seseorang dan dijahit dengan jarak 2 cm, kemudian disempurnakan oleh Fatmawati. Setelah itu, Soekarno kemudian memerintahkan orang kepercayaannya bernama Soejono Hadinoto untuk membawa sang saka secara diam-diam dari Yogyakarta menuju ke Bangka.
“Bahkan saat membawa itu, tas barang bawaannya sempat diperiksa oleh Belanda, namun tidak ditemukan bendera sang saka itu,” ungkapnya.
Ramzi mengatakan Bung Karno menjalani pengasingannya di Pulau Bangka pada 6 Februari 1949 sampai 6 Juli 1949. Kala itu, Bung Karno dibawa dari Perapat, Sumatera Utara ke Pulau Bangka.
Kehadiran Bung Karno di Pulau Bangka melengkapi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang sudah lebih dulu datang ke Pulau Bangka. Mereka adalah Moh Hatta, Ali Sostroamidjojo, Moh. Roem, Assat, Suryadarma dan A.G. Pringgodigdo yang datang pada Desember 1948. Bung Karno tiba di Bangka bersama K.H Agus Salim yang sebelumnya juga diasingkan di Perapat.
Aman, Damai, dan Lengkap
PENGASINGAN Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno dan sejumlah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia di Pulau Bangka pada tahun 1949 bukan tanpa alasan. Selain kondisi sosial, dimana tidak ada gejolak seperti di Pulau Jawa pada waktu itu, Bangka juga dinilai memiliki fasilitas yang cukup lengkap.
Demikian disampaikan Ali Usman, sejarawan Bangka Belitung, saat berbincang dengan Bangka Pos pada Selasa (23/7). Dia menyebut Pulau Bangka menjadi daerah yang dianggap damai setelah Pemerintah Belanda datang dan menumpaskan perlawanan Pahlawan 12 pada waktu itu.
“Bangka dianggap aman dan minim terjadi perlawanan,” kata Ali Usman.
Kemudian, dari fasilitas, sarana dan pra sarana di Bangka pada waktu itu juga terbilang lengkap. Pun Ali Usman merinci maksud lengkap secara fasilitas tersebut.
“Fasilitas apa yang dimaksud, fasilitas seperti tempat tempat inap atau hotel. Di Bangka sendiri, khususnya di Mentok itu ada, mulai dari Wisma Ranggam dan Menumbing. Artinya fasilitas utama itu ada,” ujarnya.
Kemudian, secara ekonomi, Pulau Bangka juga dinilai cukup. Maksudnya, kata Ali Usman, selama diasingkan di Bangka, mereka pemimpin-pemimpin Indonesia itu harus tercukupi kehidupannya. Mengingat pada waktu itu Pemerintah Belanda sudah menguasai timah, maka secara ekonomi maka mereka sudah bisa dikatakan mampu untuk membiayai kehidupan para pemimpin Indonesia tadi.
“Jadi sudah lengkap Bangka tadi. Mulai dari keamanan oke, fasilitas oke, dan dana operasional pun oke,” kata Ali Usman.
Pengaruh luar biasa
Lebih lanjut, Ali Usman menyebut kehadiran Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh-tokoh lainnya pada waktu itu diterima masyarakat Bangka. Khususnya masyarakat Mentok yang sudah familiar dengan wajah beliau.
“Jadi kehadiran beliau itu benar-benar menjadi magnet bagi masyarakat Bangka pada waktu itu,” ujarnya.
Menurut Ali Usman, pengaruh itu pada dasarnya tidak ditimbulkan kehadiran Bung Karno saja. Pada 22 Desember 1948, Ali Usman mengatakan Bung Hatta datang ke Bangka. Disusul Mohammad Roem, dan Ali Sastroamidjojo pada 31 Desember, kemudian Soekarno pada 6 Februari 1949.
“Itu menjadi magnet baru bagi masyarakat,” tegas Ali Usman. (u2/x1)
| Kisah Ngadiono Penumpang Bus ALS Selamat dari Tabrakan, Ajak Istri Lompat dari Jendela hindari Api |
|
|---|
| DPKP Bateng Klarifikasi, Punya Izin Kementan PT PSM Tak Wajib Miliki Kebun Sawit Inti 20 Persen |
|
|---|
| Terungkap Hasil CT Scan , Kondisi Korban Perundungan di Pesantren Bangka Ditemukan Luka pada Limpa |
|
|---|
| DLH Babel Belum Turun ke Lapangan Dugaan Pencemaran Sungai Kayu Ara, Baru Mau Cek SLO Perusahaan |
|
|---|
| Santri Korban Perundungan di Pesantren Bangka Trauma, Minta Pindah Sekolah, Keluarga Tuntut Keadilan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240725_Bangka-Pos-Hari-Ini.jpg)