Tribunners

Technology Dependency , Berkah atau Tulah?

Ketergantungan teknologi merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa dihindari sebagai manusia atau masyarakat digital (netizen) seperti kita

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Edwin Yulisar, S.Pd. - Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah 

Oleh: Edwin Yulisar -  Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

TEKNOLOGI merupakan hal yang harus dikuasai manusia zaman sekarang. Segala hal yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan teknologi digital mulai dari sistem pembelajaran yang terkoneksi internet, penggajian para pegawai, masalah kependudukan, hingga pembayaran pada pembelian barang pun sudah menggunakan pembayaran secara online atau digital. Masih banyak lagi aspek yang menggunakan teknologi sebagai perantara dalam mempermudah pelaksanaannya.

Terlihat jelas, puncak ketergantungannya (dependency) manusia dengan teknologi terjadi pada Jumat, 19 Juli 2024, ketika jaringan komputer Windows milik Microsoft mengalami gangguan IT secara global. Gangguan ini memengaruhi seluruh aspek vital baik itu aspek bisnis, seperti perbankan, penerbangan, media dan sektor-sektor lain yang menjadi objek vital di berbagai negara termasuk di Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Australia, dan Inggris.

Gangguan IT ini disebabkan oleh pembaruan yang keliru dari perusahaan keamanan siber Crowdstrike hingga akhirnya seluruh produsen perangkat tersebut terkena dampaknya. Menurut Kompas.id pada Jumat itu, hidup jutaan orang mendadak sulit. Sejumlah tindakan operasi di rumah sakit dilaporkan tertunda. Orang-orang telat digaji hingga tak bisa mengambil uang di ATM. warga tak bisa membayar belanjaan karena sistem pembayaran atau kartu kredit tidak bisa diakses.

Menurut laporan situs web Health IT News, sekitar 3.700 rumah sakit dan praktik dokter mengalami  gangguan sementara. Gangguan berpengaruh pada layanan sekitar 1,5 juta pasien di seluruh dunia. Meskipun tidak ada laporan insiden yang membahayakan jiwa pasien, media AS The New York Times menyoroti risiko kesehatan karena keterlambatan dalam mengakses catatan medis penting.

Beberapa hal di atas merupakan contoh betapa tergantungnya manusia dengan teknologi sebagai penunjang hidup. Bayangkan saja, jika Indonesia masuk dan terkena dampak gangguan IT seperti itu, sudah bisa dipastikan beberapa aspek lumpuh total dan mampu memberikan dampak yang sangat hebat pada aspek ekonomi nasional. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai rakyat Indonesia agar bersiap jika suatu saat gangguan tersebut datang.

Teknologi memang mempermudah manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari dalam berbagai aspek. Bahkan seperti di film Mission Impossible yang terbaru, manusia menciptakan artificial intelligence (AI) yang tujuannya adalah untuk mempermudah dirinya sendiri dan untuk keperluan militer, namun akhirnya AI tersebut melawan manusia dan mengacaukan seluruh sistem yang ada.

Memang film tersebut adalah cerita fiktif dan fantasi, namun jika teknologi bisa terkena gangguan atau bug, bisa saja mereka mencari jalan sendiri dalam memperbaiki dan merusak serta mengacaukan sistem yang lain. Yang lebih parah, para ahli IT seperti hacker dan cracker memanfaatkan celah ini  untuk melakukan kejahatan siber demi kepentingan dan membahayakan orang lain atau bahkan mengancam keamanan negara hingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lalu bagaimana cara kita menyikapi ketergantungan teknologi ini agar bisa terus berpikir jernih mencari jalan keluar jika sewaktu-waktu gangguan secara global terjadi? Hal yang pertama adalah melakukan backup file-file ke dalam penyimpanan manual dalam bentuk digital ke hardisk eksternal atau pada solid state drive (SSD) atau bahkan flashdisk (flash drive). Dengan begitu, file-file penting bisa terselamatkan jika gangguan global terjadi dan virus menjangkiti laptop atau perangkat komputer personal kita. Lebih baik lagi menyimpan berkas dalam bentuk hardcopy sebagai tambahan arsip mandiri.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah dengan melakukan diversifikasi teknologi. Jika menggunakan teknologi yang satu kemungkinan besar akan terkena gangguan, maka gunakan teknologi lain sebagai cadangan jika memang harus menyimpan berkas penting dalam bentuk digital. Akan tetapi, cara ini terbilang mahal karena harus memiliki teknologi lebih dari satu sebagai penyelamatan dan keamanan siber jika terjadi gangguan secara global.

Terbukti China dan Rusia nyaris tak terganggu oleh pemadaman global CrowdStrike itu. Alasannya sederhana, lembaga-lembaga vital di kedua negara tersebut tidak menggunakan Windows. Dua negara yang terkena sanksi Barat ini telah mengembangkan teknologi komputasi domestik sehingga tak lagi bergantung pada segelintir raksasa teknologi Barat.

Namun, diversifikasi sistem saja tidak cukup. Meski tak bergantung pada raksasa teknologi, sistem komputasi China dan Rusia juga kebal dari kegagalan atau serangan siber. Selain diversifikasi, keandalan teknologi sekarang harus menggabungkan berbagai langkah penting, antara lain keamanan siber, adanya sistem cadangan, manajemen risiko, kepatuhan melakukan pengujian pada setiap pembaruan, dan protokol komunikasi yang efektif.

Indonesia sebagai negara berkembang seharusnya mampu menciptakan sistem komputasi domestik serupa agar mampu mengamankan sistem digitalisasi yang dimiliki. Agar nantinya tidak terjadi kebobolan dan kebocoran data-data penting ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penguatan diversifikasi teknologi domestik sangat berperan penting bagi masyarakat yang sudah sangat ketergantungan pada teknologi.

Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah terus berhati-hati. Maksudnya di sini adalah kembali kepada diri kita sendiri agar tidak mudah percaya pada sebuah link atau tautan yang sering dibagikan di grup-grup WhatsApp, Telegram ataupun media sosial lainnya. Bisa saja gangguan tersebut hanya kita yang merasakan karena sudah tertipu mengklik tautan yang diberikan. Perkara tersebut sudah bisa dipastikan karena keteledoran kita sebagai pengguna dan penikmat teknologi.

Oleh karena itu, ketergantungan teknologi merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa dihindari sebagai manusia atau masyarakat digital (netizen) seperti kita. Kita bisa mengatakan hal tersebut berkah karena segala hal mudah dan cepat membantu segala aspek dalam kehidupan kita. Namun, hal tersebut bisa menjadi tulah ketika kita lalai, teledor dan tidak memiliki rencana cadangan jika suatu waktu gangguan tersebut terjadi serta menghancurkan, mengganggu, dan mengancam bukan hanya diri kita namun negara. Jadi, kembali pada individu masing-masing, jika  gangguan berskala global tersebut terjadi lagi apakah kita siap melawan atau hanya pasrah dengan keadaan. Wallahualam. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved