Tribunners
Batik, Warisan Budaya Takbenda yang Diakui UNESCO
setiap tanggal 2 Oktober masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya yang satu ini
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
"BAPAK menggunakan pakaian batik hari ini. Apakah Bapak tahu, hari ini Hari Batik Nasional?" tanya seorang siswi sekolah menengah atas saat melihat seorang guru menggunakan pakaian batik.
Guru yang memakai pakaian batik itu dengan lugas menjelaskan kenapa dirinya hari ini memakai batik. "Oh, ya. Hari ini adalah Hari Batik Nasional," jawab sang guru.
Dialog di atas adalah dialog antara Kepala SMAN 1 Payung Sumardoni dengan presenter Devina Andaresta, siswi SMAN 1 Payung, terekam dalam sebuah video yang dibuat warga sekolah SMAN 1 Payung dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober.
Devina Andresta merupakan Duta Genre Bangka Belitung 2024 dan akan mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam ajang Duta Genre Nasional 2025.
Dan setiap tanggal 2 Oktober masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya yang satu ini.
Batik adalah salah satu warisan budaya yang paling dikenal dari Indonesia dan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak tahun 2009.
Mengutip dari Wikipedia, batik (bahasa Jawa: (Hanacaraka) adalah kain Indonesia bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan.
Sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.
Dikutip dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia.
Batik Indonesia dapat berkembang hingga sampai pada suatu tingkatan yang tak ada bandingannya baik dalam desain/motif maupun prosesnya.
Corak ragam batik yang mengandung penuh makna dan filosofi akan terus digali dari berbagai adat istiadat maupun budaya yang berkembang di Indonesia.
Motif batik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, motif adalah corak atau pola. Motif adalah suatu corak yang dibentuk sedemikian rupa hingga menghasilkan suatu bentuk yang beraneka ragam.
Pada sisi lain yang amat menarik dari dialog dua warga sekolah itu adalah penjelasan dari Kepala SMAN 1 Payung Sumardoni tentang batik yang digunakannya adalah batik bermotif nanas. Nanas adalah produk pertanian dari Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
Ke depan, tentunya ada motif- motif batik lainnya dari daerah di Bangka Selatan. Ada desain dari produk lokal daerah ini yang dapat diperkenalkan.
Apalagi daerah ini dikenal sebagai daerah pertanian dan kelautan yang sangat luar biasa. Apalagi daerah ini dikenal dengan keragaman adat istiadatnya. Demikian pula dengan warisan budaya takbenda yang dimiliki daerah Bangka Selatan.
Omong-omong, apakah pembaca sudah memakai produk daerah ini? Apakah pembaca memakai batik hari ini?
Yo kite melestarikan budaya lokal kita sendiri. Saatnya mencintai produk dalam negeri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241002_Rusmin-Sopian.jpg)