Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners

Kespro yang Paripurna Resiliensi Anak Dan Remaja

Minimnya literasi kesehatan reproduksi memicu lemahnya resiliensi anak terhadap kekerasan seksual.

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Chairul Aprizal - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara 

Oleh: Chairul Aprizal - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara

GELOMBANG Indonesia Cemas bisa saja menjadi bencana manusia yang serius akan dialami dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, apabila setiap anak-anak dan remaja saat ini tidak mendapatkan bekal pemahaman kesehatan reproduksi (kespro) yang paripurna untuk menjaga mereka dari pernikahan dini, aborsi, dan perilaku seksual bebas nantinya. 

Dikutip dari laman Media Indonesia tentang pernyataan Menkopolhukam Hadi Tjahjanto saat konferensi pers, 18 April 2024, bahwa ada 5,5 juta lebih konten kasus pornografi anak Indonesia selama 4 tahun yang ditemukan. Indonesia di posisi keempat secara internasional mengenai kasus pornografi anak. Peringkat ini merujuk pada data National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC).

Jika melihat data temuan yang jutaan itu, artinya banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak kemungkinan besar belum terungkap oleh kita sampai sekarang, dan perbandingannya hanya sedikit kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja yang baru terungkap dan diakui oleh korban (diproses hukum). Sebagian besar kasus kekerasan seksual yang memakan korban anak dan remaja disebabkan oleh konten pornografi. 

Dari hampir kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak dibawah umur termasuk remaja alasannya karena penyalahgunaan gawai. Remaja yang terlibat seks bebas secara sukarela kebanyakan dipengaruhi oleh adiksi konten pornografi. Ada penelitian yang menyatakan 70 persen masalah pornografi di Indonesia juga disebabkan oleh pornografi anak.

Memutus 1,9 juta konten pornografi telah dilakukan oleh Kominfo sebagai upaya melindungi anak Indonesia sudah dilakukan pada tahun 2023 kemarin. Hal ini salah satu cara melindungi anak-anak mengakses situs pornografi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022, total anak usia dini yang memiliki gawai sebanyak 33,44 persen. Selain gawai, akses terhadap internet juga cukup tinggi dimiliki oleh anak usia dini. Hampir 25 persen anak di Indonesia sudah memiliki akses terhadap internet.

Melihat perkembangan teknologi yang tidak bisa dicegah untuk anak-anak sekarang dapat memanfaatkan teknologi seperti penggunaan gawai, maka antisipasi yang paling bisa dilakukan adalah menghindari anak menyalahgunakan gawai. Bentuk penyalahgunaan gawai pada anak salah satunya akses konten pornografi baik di media sosial atau aplikasi lainnya.

Minimnya literasi kesehatan reproduksi memicu lemahnya resiliensi anak terhadap kekerasan seksual. Selain itu, pengawasan dan bimbingan orang tua sebagai orang pertama yang dapat menjaga anaknya sangat penting untuk membantu pencegahan kekerasan seksual.

Karakteristik anak-anak usia sekolah dan remaja yang masuk dalam siklus hidup paling rentan berubah membuat peningkatan literasi kesehatan reproduksi yang paripurna sangatlah penting sekali. Remaja mengalami masa pubertas dan pada masa ini remaja wajib memahami kesehatan reproduksi yang utuh untuk membantunya merawat kesehatan reproduksi.

Kesehatan reproduksi remaja dianggap penting karena mencegah berbagai masalah kesehatan pada remaja. Di antaranya mencegah remaja dari ancaman HIV/AIDS, mencegah remaja dari pernikahan dini atau aborsi, dan kasus kekerasan seksual lainnya. Untuk itu, edukasi kesehatan reproduksi diharuskan dapat terpapar pada anak-anak di sekolah tidak hanya sebagai bentuk penyuluhan sekilas, tetapi menyeluruh (paripurna) atau terlibat dalam kurikulum belajar. Setiap pengajar atau guru dapat memberikan wawasan kesehatan reproduksi yang tepat dan terukur dalam setiap tingkatan anak-anak dan remaja. Maka keterampilan edukasi kesehatan reproduksi juga harus dimiliki oleh setiap pengajar di sekolah.

Pendidikan kesehatan reproduksi diberikan kepada anak-anak dan remaja di sekolah. Juga pendidikan kesehatan reproduksi diberikan oleh orang tua di rumah. Orang tua adalah individu yang paling dekat dengan anak anak. Orang tua sering jadi inspirasi dan panutan bagi setiap anaknya. Maka dari itu, perlakuan, sikap, dan tindakan orang tua juga akan membentuk karakter setiap anak.

Pentingnya peran orang tua ikut mendidik anaknya perihal menjaga kesehatan reproduksi. Misalnya, pada anak yang masih sekolah dasar, di rumah diberikan pemahaman tentang batas-batas yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan antara anak laki-laki dan perempuan seperti memiliki rasa malu tentang alat reproduksi yang apabila dilihat oleh lawan jenis. Pemahaman-pemahaman kesehatan reproduksi secara bertahap diberikan sesuai dengan ukuran usia anak.

Untuk itu, pembinaan kesehatan reproduksi yang paripurna juga perlu memberdayakan setiap orang tua di rumah. 
Tentu kita tidak ingin bangsa ini jatuh akibat kelamnya masa depan generasi yang terjerumus, tersesat oleh permasalahan seksual. Untuk sama-sama menghindari dan menekan kasus kekerasan seksual yang sampai hari ini terus memakan banyak korban kepada remaja Indonesia. Tidak ada alasan menunda alternatif ini, yakni, Meningkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi secara Paripurna untuk Memperkuat Resiliensi Anak dan Remaja. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved