Berita Bangka Selatan
Gandeng 800 Remaja, Kemenag Bangka Selatan Luncurkan Program Gen-Anda untuk Cegah Nikah Muda
baru di Kecamatan Toboali sebanyak 100 anak. Ke depan kita bentuk duta Gen-Anda 100 anak per kecamatan, sehingga delapan kecamatan terbentuklah 800...
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ), meluncurkan inisiatif baru dengan menggandeng 800 remaja sebagai duta Generasi Anti Nikah Muda (Gen-Anda).
Langkah ini diambil untuk menekan angka pernikahan dini di daerah tersebut sekaligus mengatasi berbagai permasalahan sosial seperti perceraian dan stunting yang kerap kali menjadi dampak dari pernikahan usia muda.
Program ini juga selaras dengan target pemerintah untuk menciptakan generasi emas pada 2045, dengan harapan membentuk generasi yang lebih sehat dan produktif di masa mendatang. Selain menekan pernikahan dini, program Gen-Anda diharapkan mampu mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi angka stunting di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka Selatan, Jamaludin bilang angka kasus pernikahan usia muda di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup tinggi se-Indonesia. Meskipun demikian tren nikah muda beberapa waktu terakhir cenderung mengalami penurunan walaupun tidak secara signifikan.
Guna menekan kasus pernikahan dini pihaknya akan menggandeng 800 anak usia remaja di daerah itu untuk menjadi duta Gen-Anda di delapan kecamatan. Imbasnya angka pernikahan dini dapat ditekan dan membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan stunting.
“Sementara ini baru di Kecamatan Toboali sebanyak 100 anak. Ke depan kita bentuk duta Gen-Anda 100 anak per kecamatan, sehingga delapan kecamatan terbentuklah 800 anak duta Gen-Anda,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (28/10/2024).
Menurut Jamaludin terdapat beberapa alasan melatarbelakangi program Gen-Anda. Pertama, adalah kekhawatiran kementerian agama terhadap maraknya kasus pernikahan muda di Kabupaten Bangka Selatan. Padahal menikah muda akan memberikan dampak lebih besar kepada hal lain, khususnya dalam efek kehidupan sosial bermasyarakat. Termasuk faktor kesehatan hingga stunting yang sama-sama menjadi agenda besar pemerintah. Walaupun tren pernikahan dini cenderung terjadi penurunan selama beberapa bulan terakhir.
Pasalnya banyak risiko akibat dari pernikahan di usia muda, di antaranya dapat menimbulkan potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), peluang kematian ibu tinggi, hak kesehatan reproduksi rendah, dan drop out atau dikeluarkan dari pendidikan. Kemudian, dapat menimbulkan persoalan dalam rumah tangga karena emosi yang belum stabil. Imbasnya memungkinkan banyaknya pertengkaran atau bentrokan yang berkelanjutan dan dapat mengancam kelangsungan rumah tangga dan berujung pada perceraian.
“Oleh karena itu kita tekankan lagi, ke depan kita rem dan berikan pembatas supaya anak usia remaja termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya atau bekerja yang lebih produktif. Dari pada memikirkan pernikahan muda harapannya seperti itu,” beber Jamaludin.
Selain kematangan emosi lanjut dia, kemampuan penyesuaian diri juga menjadi aspek psikologis yang penting dalam berumah tangga. Proses penyesuaian diri dapat terlihat dari adanya sikap saling menghargai dan mau berkorban untuk pasangannya. Hanya pasangan suami istri yang mampu melakukan penyesuaian diri dalam kehidupan rumah tangga yang akan berhasil mewujudkan kehidupan rumah tangga yang diinginkannya.
Perkawinan di usia dewasa juga akan memberikan keuntungan dalam hal kesiapan psikologis. Semua bentuk kesiapan ini mendukung pasangan untuk dapat menjalankan peran baru dalam keluarga yang akan dibentuknya agar perkawinan yang dijalani selaras, stabil, dan pasangan dapat merasakan kepuasan dalam perkawinannya kelak. Ke depan komunitas Gen-Anda akan dimaksimalkan dalam menjalankan program-program anti nikah muda.
“Misalnya kita menyampaikan ilmu agama, kepenghuluan, pernikahan dan sebagainya. Dalam pelaksanaan kita menugaskan penyuluh agama dan penghulu baik di desa dan kecamatan. Mereka akan selalu berkolaborasi dengan anak-anak tergabung dalam Gen-Anda,” paparnya.
Guna menangani permasalahan stunting kata Jamaludin, Kementerian Agama telah berupaya membantu dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Caranya dengan membagikan sebanyak 1.800 butir telur kepada keluarga risiko stunting dan keluarga stunting di Kabupaten Bangka Selatan. Program ini dilakukan secara berkesinambungan sekaligus melakukan sosialisasi antisipasi nikah muda.
“ Kami juga telah turun ke daerah adapun titik-titik tertentu yang memang menjadi lokus stunting. Kami memberikan bantuan ke anak-anak berupa telur ayam,” pungkas Jamaludin. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
| 882 Pelajar Meriahkan FLS3N dan O2SN 2026 di Basel, Siap Rebut Tiket Nasional |
|
|---|
| Perhatian Presiden dan Kapolri, Polisi Basel Perangi Mafia Solar Subsidi di Laut Penutuk |
|
|---|
| 698 Pelajar Ramaikan FLS3N dan O2SN Bangka Selatan, Debby Harap Bisa Lahirkan Generasi Berprestasi |
|
|---|
| Tak Hanya Inflasi, Pemkab Bangka Selatan Kini Khawatir Ancaman Deflasi |
|
|---|
| DPRD Bangka Selatan Dukung Peningkatan Kompetensi Wartawan Melalui UKW |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241028-Ratusan-anak-usia-remaja-di-Kabupaten-Bangka-Selatan.jpg)