7 Universitas Gelar CitRes-Net NORHED II di Pulau Belitung, Bahas Kolaborasi Riset dan Pendidikan
Dari total 4 hari agenda pertemuan, hari pertama diimplementasikan dengan menggelar mini seminar yang menyajikan 15 tinjauan pencapaian riset oleh
Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Jejaring kolaborasi kelembagaan riset dan pendidikan internasional antara tujuh universitas dari dalam dan luar negeri menggelar agenda CitRes-Net NORHED II di Pulau Belitung pada 10–14 November 2024. Acara ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai institusi untuk membahas penguatan program riset dan pendidikan.
Tujuh universitas yang terlibat dalam project meeting tersebut antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Bangka Belitung (UBB), Universitas Nusa Cendana (Undana), Politeknik Pontianak (Polnep), bersama dengan mitra internasional Norwegian University of Science and Technology (NTNU), University of Oulu (UiO), dan Utrecht University.
Manager CitRes UBB, Sandy Pratama menjelaskan, project meeting ini memiliki agenda penting untuk mendiskusikan milestone capaian project, mengevaluasi output dan dampak, serta menyepakati langkah-langkah strategis penguatan dan penyelarasan.
Sandy Pratama mengungkapkan, topik-topik yang menjadi pembahasan CitRes-Net ini adalah isu terkait partisipasi dan keterikatan warga, dalam tata kelola sumber daya alam, transisi energi berkelanjutan, dan berbagai isu strategis global, dengan multi perspektif dan multidisipliner.
"Dari total 4 hari agenda pertemuan, hari pertama diimplementasikan dengan menggelar mini seminar yang menyajikan 15 tinjauan pencapaian riset oleh para pakar dan peneliti. Capaian yang dipresentasikan berupa publikasi ilmiah, laporan penelitian, pengembangan SDM dan kelembagaan riset di masing-masing mitra," ujar Sandy Pratama dalam rilis yang diterima Bangkapos.com, Selasa (19/11/2024).
Menurutnya, dari agenda tersebut terdapat beberapa kemajuan yang bisa diraih, seperti pertukaran mahasiswa dan staf akademik, dokumen pembelajaran seperti video tentang dilema rantai pasok industri timah di Bangka Belitung yang telah ditonton lebih dari 300 ribu kali, problematika agrikultur, serta diseminasi tantangan pengembangan energi baru.
"Selain itu dibahas pula peluang kolaborasi riset dan pendidikan baru, seperti beberapa proyek sebagai contoh Just Sustainable Transition (EnJUST) dan program CitRes-Edu, dan project riset lainnya," terangnya.
Selanjutnya, Sandy menuturkan jika para peserta juga mengikuti diskusi mendalam tentang dampak sosial dan ekonomi dari industri ekstraktif seperti nikel dan timah. Isu-isu seperti keadilan sosial, lingkungan hidup, dan geopolitik sumber daya alam menjadi sorotan.
"Salah satu topik menarik adalah kontribusi nikel terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah seperti Morowali dan Kolaka, serta tantangan keterlibatan masyarakat lokal dalam mendapatkan manfaat ekonomi secara setara," paparnya.
"Pada hari kedua, peserta mengunjungi ekowisata Batu Mentas, sebuah situs konservasi alam di Belitung, yang menunjukkan upaya kolaboratif dalam perlindungan ekosistem lokal, yang dikelola oleh Tarsius Center Indonesia (TCI). Dari sana, kunjungan dilanjutkan ke PT. Austindo Aufwind New Energy, Belitung Biogas Power Plant," ucapnya. (Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)
| Amdal di Persimpangan: Antara Kepentingan Investasi dan Kelestarian Lingkungan |
|
|---|
| Anak Bukan Mesin Prestasi: Dilema Parenting Modern dan Krisis Kesehatan Mental |
|
|---|
| Benteng Karakter Anak di Tengah Ancaman Bullying dan Dunia Digital |
|
|---|
| Sosok Ibrahim Arief, Eks Tokoh Teknologi yang Kini Jadi Terdakwa Kasus Chromebook Kemendikbud |
|
|---|
| Integrasi Pertambangan, Kelautan, Pariwisata dalam Pengelolaan Pantai Takari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241119-Kegiatan-peserta-CitRes-Net.jpg)