Tribunners
Wacana Filanterapi
Filanterapi merupakan sebuah upaya terapi dari sisi kemanusiaan dengan berupaya memperbaiki hubungan atau interaksi
Oleh: Dartim Ibnu Rushd - Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
ROBERT Waldinger, seorang profesor psikoanalis di Harvard Medical School Amerika, menyebutkan hidup yang baik bermula dari hubungan yang baik antarsesama. Ia menyebutnya dengan istilah good relationship. Dalam istilah lain atau istilah keagamaan disebut silaturrahim. Karena faktanya, di masyarakat sering dijumpai fenomena hubungan sosial yang buruk atau dapat disebut dengan istilah bad relationship. Keadaan ini tentu saja disebabkan oleh beragam faktor.
Seperti karena konflik, persaingan, perbedaan opini ataupun interaksi negatif lain. Bahkan hubungan tidak baik itu dapat berakibat pada rusaknya beragam tatanan sistem sosial, politik, ekonomi atau bahkan sistem nilai. Buruknya hubungan sosial juga dapat berdampak pada rusaknya etika sosial dan moralitas kemanusiaan. Keadaan ini dapat terlihat seperti yang terjadi pada krisis Israel-Palestina yang hingga hari ini terus berkelanjutan.
Padahal, dampaknya jika sistem sosial rusak maka tidak bisa terjadi pewarisan nilai dan etika di masyarakat atau mandeknya regenerasi etika. Menyikapi kondisi ini, Waldinger menyarankan perlu dilakukan “terapi” atau penyembuhan (healing) dalam lingkup hubungan sosial. Adapun terapi dalam konteks sosial ini bertujuan untuk penanganan intensif untuk memulihkan kembali hubungan sosial yang mulai bermasalah atau mengalami keretakkan.
Layaknya dalam ilmu kesehatan, fisioterapi bertujuan untuk memulihkan kembali fungsi dari organ-organ tubuh yang bermasalah. Dalam ilmu psikologi juga dikenal istilah psikoterapi yakni pemulihan kembali kondisi mental seseorang yang tengah mengalami beragam masalah atau gangguan kejiwaan yang disebabkan karena stres, frustrasi, konflik batin yang berkepanjangan, trauma atau putus asa.
Wacana filanterapi ini juga bukan filantropi, sebagaimana istilah yang sering kita kenal, ataupun psikoterapi sebagaimana konsep di atas. Tetapi, dengan meminjam kedua istilah tersebut dan dikaitkan dengan ragam fenomena hubungan sosial yang terjadi, maka istilah filanterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan hubungan sosial yang terindikasi mulai ada keretakan.
Terapi atau penyembuhan di sini didasari atas rasa cinta atau kasih sayang. Di mana akar kata “filan” berasal dari kata “philien” dari bahasa Yunani yang artinya adalah cinta atau kasih sayang. Kasih sayang adalah kepedulian dalam arti kemanusiaan yang lebih umum. Sementara itu, objek utama atau objek forma yang diterapi adalah pola hubungan sosial dalam aspek mental, spiritual bahkan bisa juga dalam aspek fiskal ataupun intelektual.
Terapi ini menjadi sangat penting dalam rangka menjaga kenyamanan, harmonisasi, dan keamanan kehidupan antarsesama manusia. Kenyamanan hidup manusia dalam arti hubungan baik untuk saling bersikap baik dan menunaikan haknya layaknya bermasyarakat. Wacana filanterapi ini memiliki kesamaan dengan konsep filantropi dalam hal motivasi. Karena semangatnya sama-sama disebabkan rasa cinta dan kasih sayang atau dalam istilah umum disebut kepedulian.
Filanterapi juga memiliki kesamaan dengan fisioterapi dalam hal posisinya sebagai instrumen penyembuh (healing). Hanya saja objek filanterapi tertuju pada aspek pola hubungan sosial atau antarsesama. Filanterapi merupakan sebuah upaya terapi dari sisi kemanusiaan dengan berupaya memperbaiki hubungan atau interaksi, sebagaimana meminjam istilah dari Robert Waldinger di atas.
Aspek karakter yang tampak dalam terapi ini bisa dalam bentuk; menjadi pribadi yang mampu menahan diri atau sabar, tidak egois dan mau berbagi, menumbuhkan kepasrahan diri atau taat aturan, dan dermawan atau saling mengasihi. Bayangkan jika aspek karakter dalam filanterapi ini dapat diterapkan dalam konflik, seperti Israel dan Palestina. Komunikasi yang baik dan kepedulian kemanusiaan pasti dapat terwujud. Tentu tidak akan ada lagi korban-korban yang terus berjatuhan.
Hubungan baik memang perlu senantiasa diterapi. Apalagi jika kondisi tengah terjadi ketegangan politik yang meningkat seperti saat ini. Karena mahalnya biaya hidup, tatanan etika yang serba rumit, tidak menentunya kepastian hukum dan kondisi geografis dengan tingkat polusi yang tinggi. Selain itu ditambah adanya serba ambigunya kebijakan, dan adanya polarisasi kesenjangan sosial yang sangat tajam antara si kaya dan si miskin, makin memperumit pola atau hubungan antarsesama.
Termasuk terjadinya ekosistem pendidikan yang makin kapitalistik. Terapi dengan menumbuhkan rasa peduli dan belas kasih dalam konteks kemanusiaan sangat penting sebagai bagian dari solusi atas beragam masalah sosial yang terjadi. Memulai dari ruang personal hingga menjadi gerakan inspiratif di ruang komunal. Wacana ini mudah-mudahan dapat berperan sebagai bagian dari alternatif solusi atas ragam realitas sosial dalam kancah yang lebih akademis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240612_Dartim-Ibnu-Rushd-Dosen-Universitas-Muhammadiyah.jpg)