Tribunners
Sekolah Bukan Sekadar Selembar Kertas
Sekolah merupakan tempat untuk memperkuat karakter anak dalam kehidupan di masa mendatang.
Oleh: Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta
ANAK-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.
Siapa yang tak pernah mendengar kalimat di atas? Tentu para akademisi telah mendengar kalimat sarat makna yang digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut.
Banyaknya kasus demi kasus yang terjadi di lingkup sekolah hingga saat ini menjadi PR bagi kita semua tanpa terkecuali. Terbaru, kasus Supriyani, salah seorang guru di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dituduh memukul siswanya yang anak aparat. Kasus Supriyani telah berjalan selama delapan bulan terakhir atau tepatnya pada 26 April 2024 akhirnya menemui titik terang dan divonis bebas oleh hakim Pengadilan Negeri Andoolo, Konawe Selatan setelah semua dakwaan jaksa tidak terbukti (Kompas, 25 November 2024).
Lantas, siapa yang disalahkan? Penulis memiliki perspektif tersendiri dan berkaitan dengan apa yang digaungkan oleh Bapak Pendidikan Nasional. Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, serta perbuatan mendidik.
Kembali ke kasus awal bahwa pendidikan di sekolah merupakan pendidikan yang diberikan oleh pendidik (guru) terhadap siswa dan setiap sekolah memiliki peraturan tersendiri yang harus ditaati oleh seluruh warga sekolah. Sebuah keironian apabila terdapat suatu permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan di dalam internal sekolah itu sendiri malah menjadikan seorang guru berakhir di balik jeruji besi. Tentu apabila hal tersebut terjadi, betapa mirisnya pendidikan kita.
Etika
Etika merupakan dasar yang harus dimiliki setiap insan sebelum menerima materi pelajaran di pendidikan formal. Etika merupakan hal krusial yang seyogianya dan wajib diimplementasikan di mana pun berada, tak terkecuali etika dasar yang wajib dimiliki seorang siswa.
Menilik pada data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), tercatat sepanjang Januari hingga Juli 2024 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah mencapai 15 kasus. Etika merupakan karakter di sekolah yang harus diperkuat sebagai fondasi masa depan generasi.
Tanpa etika, mustahil generasi kita menjadi generasi yang unggul dan dapat diandalkan di masa mendatang. Peran etika sendiri dalam pendidikan merupakan penerapan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan sebagai pengembangan karakter.
Perlu dipahami oleh orang tua siswa bahwa sekolah bukan sekadar penitipan bagi anak-anaknya. Sekolah merupakan tempat untuk memperkuat karakter anak dalam kehidupan di masa mendatang.
Apabila terdapat sebuah kesalahpahaman antara guru dan siswa, seharusnya orang tua mampu menanggapi dengan bijak. Apa yang digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut benar adanya bahwa anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Namun, di era saat ini perlunya sebuah etika yang harus dituturkan pula oleh orang tua siswa bahwa pendidikan di sekolah bukan sekadar selembar kertas, bukan sekadar naik kelas, dan bukan hanya mementingkan nilai akademis semata.
Orang tua siswa juga perlu memahami apabila anaknya melakukan sebuah kesalahan, orang tua seharusnya memberi arahan kepada anaknya dan bukan sekadar menyalahkan guru semata. Sesungguhnya guru di sekolah bukan sekadar mengajar, tetapi juga mendidik generasi.
Sekolah bertanggung jawab penuh dengan siswa-siswi di lingkup akademis. Guru yang baik tentu mementingkan sebuah kewajibannya untuk mendidik siswa menjadi generasi yang bukan sekadar berilmu, tetapi juga menjadikan generasi yang unggul dan memiliki karakter yang baik di masa mendatang.
Sekali lagi, guru di sekolah mendidik dengan sepenuh hati generasi masa depan. Guru di sekolah menuntun generasi peradaban di negeri ini. Apabila guru menegur dan memberi sanksi bukan semata-mata benci kepada peserta didik. Namun, guru bertanggung jawab dan mengkhawatirkan masa depan anak didiknya.
Oleh sebab itu, dengan ketulusan seorang pendidik di sekolah seharusnya didukung penuh oleh orang tua siswa selaku pendidik bagi anak-anaknya di rumah. Apa yang dilakukan oleh guru di sekolah bukan semata-mata menghukum siswa, tetapi membentuk karakter dan moral anak di masa mendatang. Semoga. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241205_-Ridwan-Mahendra.jpg)