Jumat, 17 April 2026

Arti Allahumma Tsabit Hamdaki Doa Ketika Mendapat Pujian agar Terhindar dari Ain

Allahumma tsabit hamdaki = bila pujian ditujukan kepada perempuan. Sementara Allahumma tsabit Hamdaka = bila pujian ditujukan kepada laki-laki.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Evan Saputra
tribun
Arti Allahumma Tsabit Hamdaki Doa Ketika Mendapat Pujian agar Terhindar dari Ain 

BANGKAPOS.COM -- Berikut ini arti dari Allahumma Tsabit Hamdaki, doa ketika mendapatkan pujian.

Pujian erat kaitannya dengan ain, penyakit yang timbul karena pandangan mata orang yang hasad (iri/dengki) terhadap seseorang.

Ain memiliki dampak yang sangat luar biasa, mulai dari sakit, celaka, hingga kematian.

Ustaz Khalid Basalamah lewat kanal YouTube pernah menjelaskan mengenai ain.

Beliau mengatakan rumah tangga seseorang bisa pecah, usaha bisa hancur, bahkan badan yang sehat bisa menjadi sakit, bisa disebabkan oleh ain.

Hal itu dikarenakan adanya rasa tidak suka atau iri hati seseorang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat lebih dari Allah SWT.

Obat dari penyakit ain sangat sederhana, yakni mengucapkan Masyaallah, apa yang dikehendaki Allah, maka itulah yang akan terjadi.

Selain itu ada pula doa ketika mendapatkan pujian agar terhindar dari ain, yakni Allahumma tsabit hamdaki.

Allahumma tsabit hamdaki = bila pujian ditujukan kepada perempuan.

Sementara Allahumma tsabit Hamdaka = bila pujian ditujukan kepada laki-laki.

Bentuk lain dari doa Allahumma tsabit Hamdaki atau Hamdaha adalah sebagai berikut

اللّٰهُمَّ ثَبِّتْ حَمْدَهُ

Latin: Allahumma tsabbit hamdahu. Artinya: Ya Allah, buktikanlah pujiannya.

Doa ini diucapkan saat mendapat pujian dari orang laki-laki.

اللّٰهُمَّ ثَبِّتْ حَمْدَهَا

Latin: Allahumma tsabbit hamdaha. Artinya: Ya Allah, buktikanlah pujiannya.

Doa yang memakai dhamir "Ha" ini diucapkan saat mendapat pujian dari orang perempuan.

Manfaat doa Allahumma tsabit hamdaki dan Allahumma tsabit hamdaka adalah agar terhindar dari penyakit ain.

Penyakit ain merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh pandangan iri, hasud, dengki, atau pengaruh negatif manusia atau jin.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa penyakit ain itu nyata, sebagai berikut:

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

Artinya: 

“Ain itu nyata (Haq), kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya” (HR Muslim).

Penyakit ain merupakan sebuah penyakit atau gangguan non-medis yang disebabkan oleh pandangan mata yang kagum terhadap sesuatu secara berlebihan yang dipengaruhi sifat jahat.

Penyakit ain ini dimanfaatkan oleh jin atau setan untuk mempengaruhi manusia, melalui rasa iri serta dengki atau kekaguman yang berlebihan lewat pandangan seseorang.

Sehingga pandangan ain ini menimbulkan perasaan dan pikiran yang berdampak negatif bagi kesehatan.

Efek dari terkena pandangan ain ini bisa membuat orang yang dipandang terserang sakit atau celaka.

Selain doa di atas, ada bacaan lain yang diajarkan oleh Rasulullah SAW saat seseorang mendapatkan pujian.

Bacaan tersebut adalah "Masya Allah, tabarakallah."

Dalam hadits disebutkan:

Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw berkata pada Amir bin Rubai'ah r.a: "Mengapa saat melihat apa yang membuatmu takjub kamu tidak mengucapkan Tabarakallah?" (HR. Ahmad)

Dalam riwayat An-Nasai dalam Sunan Al Kubro menggunakan kalimat: Mengapa tidak mendoakan berkah? Sesungguhnya penyakit ain itu benar adanya).

Dari hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan agar mengucapkan Masya Allah tabarakallah saat melihat sesuatu yang menakjubkan, termasuk saat melihat kebahagiaan atau kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.

Tujuan membaca Masya Allah tabarakallah adalah agar orang tersebut tidak tertimpa penyakit ain yang misterius.

Apabila seseorang takjub dengan ketampanan, kecantikan, atau kehebatan diri sendiri, maka sebaiknya ia mengucapkan "Masya Allah, la hawla wala quwwata illaa billaah."

Doa Khalifah Abu Bakar ketika Dipuji

Dikutip dari rumaysho.com,  Abu Bakr ketika dipuji, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

Artinya: Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Wallahu a'lam bishawab...

(Bangkapos.com/TribunSumsel.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved