Tribunners
Pemimpin dan Perubahan
Selama lima bulan menjabat sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Pangkalpinang, Budi Utama, mengaku banyak momen berkesan yang sulit dilupakan.
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
SELAMA lima bulan menjabat sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Pangkalpinang, Budi Utama, mengaku banyak momen berkesan yang sulit dilupakan.
"Yang paling berkesan bagi saya adalah tindakan cepat yang langsung berdampak pada masyarakat. Misalnya, ketika ada keluhan di media sosial, kami segera menanganinya hingga ada perubahan nyata," ujar Budi, Senin (13/1/2025), usai turut menghadiri acara pelantikan Pj Wali Kota Pangkalpinang yang baru, Unu Ibnudin, di kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung sebagaimana yang dikutip dari Bangkapos.com.
Kekuatan memimpin perubahan dan menjadi pemimpin perubahan bukan terletak pada ukuran kepintaran semata, melainkan kepada ketajaman visi, imajinasi, mimpi, dan kreativitas yang mengubah dunia. Dari sinilah diperlukan keberanian, kepercayaan diri, daya inisiatif, dan kekuatan memengaruhi untuk melahirkan inovasi baru untuk menuju titik perubahan.
Organisasi dan lembaga membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan transformasi ganda (dual transformation), yakni dengan melakukan reposisi dan mengeksploitasi opportunity baru di masa sekarang, sekaligus menciptakan positioning yang tepat untuk menjadi relevan di masa depan.
Seorang pemimpin perlu menetapkan arah kebijakan strategis jangka panjang, yang akan tetap relevan bagi pemimpin berikutnya. Kita sudah melihat betapa besarnya biaya jika kita tidak berorientasi pada masa depan.
Segala permasalahan kita hari ini sebagian besar akibat kesalahan pengambilan keputusan di masa lalu, atau ketidaksiapan kita di masa lalu dalam mengantisipasi berbagai perubahan. Jika di masa sekarang para pemimpin tidak berorientasi masa depan, di masa depan kita harus membayar mahal kesalahan masa sekarang ini.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.”
Pemimpin masa depan pun lebih berorientasi pada hasil yang baik (result-goal oriented), tidak selalu mengedepankan prosedur dalam pengambilan keputusan. Menjaga integritas menjadi kompetensi utama bagi pemimpin masa depan karena segala sesuatu yang berkait dengan pekerjaan menjadi transparan.
Seorang pemimpin harus mendengar, melihat, merasakan dan turun ke medan pekerjaan agar dapat mengambil keputusan dan melihat masalah dengan sebaik-baiknya. Keputusan yang dibuat pun harus dilakukan secara cepat, tepat, dan berguna bagi organisasi dan bawahannya.
Bukan berdasarkan suara masukan dari para pembisik yang memanfaatkan perilaku purba yang bernama aji mumpung untuk kepentingan sesaat yang merugikan masa depan sebuah organisasi, lembaga, daerah dan bahkan negara.
Pada sisi lain, bagi Bung Karno, seorang pemimpin harus berupaya memberikan yang terbaik untuk negerinya, bukan sebaliknya, memanfaatkan kekuasaan atau jabatan untuk mengambil keuntungan dari negara dan rakyatnya.
“I don't want to take anything from my people (Aku tidak ingin mengambil sesuatu dari rakyatku),” ujar Bung Karno. “Aku justru ingin memberi mereka.”lanjut Presiden pertama RI ini.
Sikap pendiri bangsa itu memberikan arti penting dalam memaknai kekuasaan atau jabatan sebagai pengabdian yang hanya berorientasi untuk bekerja sebaik-baiknya bagi rakyat.
Seorang pemimpin tidak layak berpikir tentang mendapat apa, tetapi berfokus untuk memberikan sumbangsih terbaik selama masa kepemimpinannya.
Sebagai pendiri bangsa, Bung Karno memberikan teladan penting soal etika bernegara dengan memaknai jabatan sebagai jalan pengabdian.
Pemimpin menjadi hebat bukan karena kekuatannya, melainkan karena kemampuannya memberdayakan orang lain. Begitulah pesan John C Maxwell, seorang pembicara dan penulis buku berkebangsaan Amerika Serikat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241002_Rusmin-Sopian.jpg)