Sosok Soemantri Brodjonegoro Ayah Mendiktisaintek Satryo, Eks Menteri Era Soeharto
Satryo Soemantri Brodjonegoro ternyata merupakan anak dari Soemantri Brodjonegoro, seorang menteri pada era Presiden Soeharto.
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Evan Saputra
BANGKAPOS.COM -- Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo adalah anak Soemantri Brodjonegoro.
Sosok Satryo belakangan menjadi sorotan usai diduga melakukan pemecatan terhadap pegawainya di Kemendiktisaintek secara sepihak.
Kehidupan Satryo pun kini mulai dikuliti.
Satryo Soemantri Brodjonegoro ternyata merupakan anak dari Soemantri Brodjonegoro, seorang menteri pada era Presiden Soeharto.
Soemantri Brodjonegoro tercatat pernah mengemban jabatan sebagai Menteri Pertambangan Indonesia atau kini menjadi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Selain itu, Soemantri juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Soemantri Brodjonegoro lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 3 Juni 1926.
Ia memiliki istri yang bernama Nani Soeminarsari.
Bukan orang sembarangan, Soemantri merupakan anak dari Prof. R. Soetedjo Brodjonegoro.
Ia telah meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 1973.
Soemantri memiliki 3 orang anak yang kini menjadi tokoh besar di tanah air.
Ketiga anak Soemantri itu yakni bernama Satryo Soemantri Brodjonegoro (Mendiktisaintek), Irsan Soemantri Brodjonegoro (dosen Teknik Kelautan ITB), dan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro (mantan Menteri Keuangan dan mantan Menteri Riset dan Teknologi).
Kesuksesan ketiga anaknya itu tak lepas dari perjuangan hebat Soemantri untuk tanah air.
Soemantri bahkan pernah menjadi ajudan Kolonel AH Nasution pada masa perang kemerdekaan.
Setelah perang usai, Soemantri mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Universitas Delft, Belanda.
Saat itu, ia menjadi mahasiswa tugas belajar Angkatan Perang Republik Indonesia.
Saat menempuh pendidikan di sekolah tersebut, Soemantri mendapat 2 gelar, yakni insinyur dan Doktor.
Soemantri kemudian berkarier menjadi seorang dosen.
Seiring berjalannya waktu, karier Soemantri di dunia pendidikan makin meroket.
Pada 1964, Soemantri Brodjonegoro yang berusia 38 tahun diangkat menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI).
Itu juga menjadikannya sebagai rektor termuda dalam sejarah UI hingga saat ini.
Soemantri tercatat aktif menjabat sebagai rektor UI untuk periode 1964-1968 dan 1968-1973.
Pada tahun 1967, Soemantri Brodjonegoro memulai perjalanan kariernya di dalam lembaga eksekutif.
Saat itu, ia dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk menduduki posisi jabatan sebagai Menteri Pertambangan dalam Kabinet Ampera.
Adapun Sumantri kala itu menggantikan posisi Slamet Bratanata.
Soemantri tercatat aktif mengemban jabatan sebagai Menteri Pertambangan selama kurang lebih 6 tahun.
Pada 1973, ia kemudian ditugaskan menjadi Mendikbud menggantikan Mashuri Saleh.
Pada 18 Desember 1973, Soemantri yang saat itu berusia 47 tahun meninggal dunia.
Ia sempat dirawat di Ruang Perawatan Intensif (ICU) RS Ciptomangunkusumo Jakarta.
Jenazah almarhum lalu dimakamkam di Kalibata dengan inspektur upacara Wakil Presiden saat itu, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Berjasa untuk Indonesia, nama Soemantri Brodjonegoro diabadikan sebagai Gunung di Pegunungan Sudirman, provinsi Papua, yakni Puncak Sumantri Brojonegoro.
Selain itu, namanya juga diabadikan di stadion olahraga remaja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yakni Stadion Soemantri Brodjonegoro, serta jalan di Kampus UI Depok.
Satryo Soemantri Brodjonegoro Didemo usai Pecat Pegawai secara Sepihak
Pegawai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menggelar unjuk rasa memprotes Mendikti Saintek Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.
Dengan pakaian serba hitam, para pegawai Kemendikti Saintek berkumpul membawa spanduk protes bahwa mereka bukan pegawai pribadi Prof. Satryo dan istri.
"Kami ASN, dibayar oleh negara, bekerja untuk keluarga, bukan babu keluarga," demikian bunyi kalimat yang tertera di spanduk itu.
"Institusi negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan istri!" bunyi spanduk lain yang dibawa para pegawai.
Mereka juga mengirim karangan bunga sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan sewenang-wenang yang diduga dilakukan Satryo.
Lalu, apa pangkal masalah yang membuat Satryo diprotes oleh anak buahnya sendiri?
Ketua Paguyuban Pegawai Kemendikti Saintek Suwitno mengatakan, masalah di Kemendikti Saintek sudah dimulai sejak adanya pergantian pejabat baru setelah Satryo diangkat sebagai Mendikti Saintek oleh Presiden Prabowo Subianto.
Suwitno mengatakan, pergantian jabatan tersebut dilakukan dengan cara yang tidak elegan dan tidak adil.
"Tapi dengan cara-cara yang tidak elegan, cara-cara tidak fair, cara-cara juga tidak sesuai prosedur," kata Suwitno di Kantor Kemendikti Saintek, Jakarta, Senin (20/1/2025).
"Nah, ini juga memang terjadi sebenarnya di pimpinan di ditjen yang lama dan juga ada salah seorang direktur di lingkungan di Ditjen Dikti itu tidak diperlakukan secara adil," ujar dia melanjutkan.
Ia menyebutkan, permasalahan semakin runyam setelah salah satu pegawai aparatur sipil negara (ASN), yakni Neni Herlina, juga mengaku dipecat sepihak oleh Satryo.
Neni merupakan pegawai yang bertugas menangani semua urusan rumah tangga Kemendikti Saintek.
Namun, Neni tiba-tiba dipecat oleh Satryo karena ada kesalahpahaman saat menjalankan tugas.
"Kalau pegawai melakukan kesalahan, itu kan bisa ditindaklanjuti dengan penjatuhan hukuman disiplin."
"Tapi harus jelas prosedurnya, ini tidak dilakukan sama sekali. Bahkan diusir dan diberhentikan katanya, bahkan diminta angkat kaki," ujar Suwitno.
Oleh karena itu, Paguyuban Pegawai Kemendikti Saintek bergerak melakukan aksi ini sebagai ajang untuk menunjukkan rasa, serta menunjukkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa menteri yang telah dilantik bertindak sewenang-wenang.
"Terutama adalah kepada pejabat atau kepada Bapak Presiden yang sebenarnya mengangkat dan menunjuk beliau sebagai Menteri."
"Nah, kalau sudah seperti ini, apakah mau dilanjutkan atau tidak? Seorang pejabat itu yang harusnya memang menjadi contoh, apalagi di pendidikan tinggi," kata Suwitno.
Di sisi lain, Neni mengatakan, permasalahan antara dia dan Satryo bermula dari meja yang harus diletakkan di ruang kerja Satryo yang ternyata dianggap tidak sesuai oleh istri Prof. Satryo.
"Waktu itu permintaan mengganti meja itu dari istrinya sih. Karena waktu itu ke kantor, habis pelantikan beres-beres, kata sekretaris yang sekarang sudah dipecat itu bilang kayak gitu," kata Neni.
"Saya emang enggak tahu apa-apa, cuma besoknya dipanggil gitu aja. Dipanggil langsung dimarahi," ucap dia.
Neni juga merasa takut dan bingung bagaimana ia harus bersikap di kantor apakah harus bekerja ke kantor atau tidak.
"Enggak ada SK-nya juga. Cuman maksudnya sudah keterlaluan aja di depan anak magang, di depan staf-staf saya, gitu. Mempermalukan saya kan," ujar dia.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)
| Daftar Nama 10 Menteri yang Berpotensi Dievaluasi Menurut Pakar, Ada Menkeu Purbaya hingga Raja Juli |
|
|---|
| DPR Tolak Usulan Pigai Terkait Sipil Bisa Jabat di Polri, Singgung soal Mandat Khusus: Tidak Relevan |
|
|---|
| Respon Istana soal Usulan Pigai Sipil Boleh Jabat di Polri, Singgung Kebutuhan: Sah-Sah Saja |
|
|---|
| Menteri HAM, Natalius Pigai Usul Sipil Bisa Isi Jabatan di Polri, Ini Respon Mensesneg |
|
|---|
| Posyandu Tak Lagi Sekadar Timbang Balita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250121-Sosok-Soemantri-Brodjonegoro-Ayah-Mendiktisaintek-Satryo.jpg)