Berita Viral
Agus Sutikno Kerja Apa Sampai Bisa Sekolahkan 200 Anak Sekaligus, Seorang Pendeta dan Punya Yayasan
Agus Sutikno kerja apa sampai bisa sekolahkan 200 anak sekaligus. Ia adalah pendeta dan punya yayasan berlokasi di Jalan Manggis II, Semarang.
Penulis: Widodo | Editor: Dedy Qurniawan
BANGKAPOS.COM - Sosok Agus Sutikno yang bisa sekolahkan 200 anak sekaligus jadi sorotan.
Ia dikenal sebagai seorang pendeta jalanan dan punya yayasan.
Yayasan ini berlokasi di Jalan Manggis II, Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Dikenal sebagai pendeta jalanan lantaran selamai ini dirinya mampu merubah hidup anak jalanan atau telantar.
Melansir TribunJateng.com, Agus sendiri merupakan seorang Pendeta di Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI).
Tak terhitung sudah langkah Agus keluar masuk pemukiman dan mengajak anak jalanan untuk menggapai impiannya.
Jalanan menjadi pilihan Agus untuk mengabdi agar masyarakat marjinal mendapatkan tempat layak dan bisa hidup lebih baik.
Dari hal tersebut, Agus acapkali dijuluki sebagai "Pendeta Jalanan" oleh masyarakat.
Dedikasi Agus pun dirasakan oleh anak asuhnya yang semula hidup dengan pahitnya dunia jalanan di Kota Semarang.
"Dulu saya jualan nasi bungkus di sekitar Peterongan hingga Simpang Lima Kota Semarang. Hal tersebut saya lakukan untuk melanjutkan sekolah," terang Alloysius Yefta Raffael di Yayasan Hati Bagi Bangsa, Rabu (25/12/2024).
Yayasan yang didirikan oleh Agus tersebut kini menjadi tempat tinggal Raffael dan rekan-rekannya.
Sepenggal pengalaman pahit juga diceritakan Raffael, meski sudah berjuang keras dengan berdagang nasi namun tetap saja uang yang ia kumpulkan tidak mencukupi untuk melanjutkan pendidikannya di SMA.
Belum lagi adanya Pandemi Covid 19, membuat Raffael harus menelan pil pahit.
Namun doa dan perjuangannya menemukan titik cerah. Ia dipertemukan dengan Agus.
Raffael pun diajak untuk ke Yayasan Hati Bagi Bangsa dan Raffael bisa melanjutkan pendidikannya lantaran dibiayai oleh yayasan tersebut.
Bahkan Raffael sangat bersyukur, kini ia bisa melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah.
Ia berujar tanpa Yayasan Hati Bagi Bangsa dan peren Agus, Raffael tak akan bisa mewujudkan impian untuk mengeyam pendidikan.
"Tidak hanya sebagai ayah, Pendeta Agus sudah seperti pendidik dan pengayom, ia sosok yang sangat luar biasa," terangnya.
Yayasan Hati Bagi Bangsa sendiri didirikan oleh Agus pada 2015 silam untuk memberikan harapan kepada baru masyarakat marjinal.
Tak hanya anak jalanan yang putus sekolah, yayasan tersebut juga membantu pekerja seks, pencandu narkoba, lansia terlantar hingga ODHA di Kota Semarang.
Agus sendiri berujar hingga kini telah menyekolahkan 200 anak jalanan, merawat lansia hingga balita.
"Saya sudah menyekolahkan hampir 200 anak tanpa bantuan pemerintah."
"Bagi saya, penampilan itu tidak penting, yang penting adalah kita bisa bermanfaat untuk semua orang," ucap Agus dikutip SURYA.CO.ID dari Kompas.com.
Agus menerima anak-anak telantar tanpa syarat apa pun.
Kini, ratusan anak jalanan yang ia bantu telah berhasil bersekolah hingga jenjang sarjana.
Menurut Agus, pendidikan adalah hak dasar bagi semua anak di Indonesia.
Dia berupaya semaksimal mungkin membantu masyarakat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
"Merawat anak-anak, ngobatin orang sakit, memberi orang kelaparan, menurut saya adalah ibadah," ujarnya.
Bagi Agus, nilai-nilai kemanusiaan harus diperjuangkan tanpa memandang suku, agama, atau kepercayaan.
"Pada dasarnya yayasan ini punya Tuhan, saya hanya sebagai hambanya saja," tambahnya.
Agus menyebut bahwa tato yang ada di tubuhnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
"Tato ini sudah ada jauh sebelum saya mengenal Tuhan, saat saya masih nakal-nakalnya," kata Agus.
Ia mengaku sering mendapat stigma negatif dari masyarakat, tetapi memilih untuk tetap fokus pada tujuannya.
Menurut dia, penampilan bukanlah segalanya.
Yang lebih penting adalah tindakan dan dampak yang dihasilkan.
"Masalah baju atau penampilan itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana hidupmu bermanfaat untuk orang lain."
"Wajar kalau manusia melihat penampilan, yang penting tetap hasil akhirnya," ujarnya dilansir dari Surya.co.id.
Agus juga mengaku bahwa ia sebenarnya tidak suka dipanggil pendeta meskipun secara resmi ia adalah pemuka agama Kristen di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Jawa Tengah.
"Agama bagi saya adalah sumber konflik. Maka, untuk menengahinya yaitu dengan aksi-aksi kemanusiaan karena kemanusiaan di atas ritual keagamaan," tegasnya.
Agus berharap agar apa yang telah ia lakukan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
"Prinsip saya sekarang, jangan mati sebelum berguna."
"Apa pun yang kamu percayai, hidupmu harus berguna untuk orang lain," pungkas Agus.
Rambut gondrong, tato, celana ketat, sepatu boot dan sepeda motor chopper custom melekat pada Agus Sutikno.
Meski penampilannya nyentrik layaknya bikers dan rockers, namun dedikasi Agus untuk anak-anak jalanan tak bisa dikatakan main-main.
Agus mengangkat anak-anak jalanan dari lembah keterpurukan.
Bahkan ia menyekolahkan ratusan anak jalanan yang ada di Kota Semarang dan sekitarnya.
Dedikasi tersebut telah dilakoninya selama 18 tahun.
Ia juga mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa.
Yayasan tersebut terletak di Jalan Manggis II, Lamper Lor Semarang Selatan.
(Bangkapos.com/Surya.co.id/Arum Puspita/TribunJateng.com/Budi Susanto/Kompas.com/Sabrina Mutiara)
Jejak Kriminal Dwi Hartono, Pemalsuan Ijazah hingga Otak Pembunuhan Ilham Kacab Bank, Ini Profilnya |
![]() |
---|
Terungkap Alasan Bripda MA Lempar Helm ke Pelajar Terjatuh dan Koma, Sebut Karena Refleks |
![]() |
---|
Sosok RS Pengintai Ilham Kacab Bank Sebelum Tewas Dibunuh, Siapkan Tim IT, Pantau Aktivitas Korban |
![]() |
---|
Respons Ridwan Kamil, Lisa Mariana Minta Tes DNA Ulang di Singapura: 1.000 Persen Hasilnya Sama |
![]() |
---|
Jejak Kasus Bripda MA, Polisi Lempar Helm ke Pelajar Terjatuh dan Koma, Begini Nasibnya Sekarang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.