Rabu, 8 April 2026

Tribunners

Kisruh Gagal SNBP, Tanggung Jawab Siapa?

Kisruh terancam gagal SNBP ini tanggung jawab siapa? Sudah pasti tanggung jawab pihak yang diberikan tugas untuk mengelolanya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Edwin Yulisar - ASN Kementerian Agama RI 

Oleh: Edwin Yulisar - ASN Kementerian Agama RI

KETIKA penulis menikmati sore hari menyeruput kopi ditemani gorengan, bacaan media cetak serta digital seakan bergemuruh nyaring bersuara tentang berita terancam gagalnya ratusan siswa mendaftar seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP). Berita ini menjadi trending topic atau sekarang disebutnya FYP (For You Page). Berita video juga menampilkan siswa melakukan demo di sekolahnya sendiri dengan menduga bahwa kegagalan mereka dalam masalah ini karena oknum guru atau pihak sekolah yang lalai untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dalam platform Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). 

Ternyata, ratusan siswa yang gagal mendaftar dalam program eligible SNBP bukan hanya terjadi pada satu sekolah saja, namun terjadi pada beberapa sekolah yang tersebar di Indonesia. Pihak sekolah diduga bertanggung jawab dalam penyelesaian terhadap masalah pendaftaran ini. Siswa kecewa karena guru yang seharusnya bertanggung jawab dalam penyelesaian masalah ini malah terlena membuat video-video hiburan di dunia maya.

Karena kejadian ini, pihak sekolah pun melakukan audiensi dengan orang tua agar mencari solusi dan titik temu agar bisa menyelesaikan masalah ini. Salah satu sekolah mengalami kejadian ini memberikan solusi untuk memberikan dan mendatangkan bimbingan belajar cuma-cuma kepada siswa untuk masuk jalur ujian tulis berbasis komputer (UTBK) pada seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT). Walaupun pihak sekolah mengadakan ini, pihak siswa merasa trauma karena dalam tiga tahun mereka berjuang keras menjaga nilai agar mampu eligible ternyata kandas hanya kelalaian pihak sekolah. Orang tua siswa juga geram dan menuntut pihak dinas terkait agar segera memutasikan dan memberhentikan oknum guru atau pihak sekolah yang bertanggung jawab terhadap masalah ini.

Kisruh gagal SNBP ini makin menjadi-jadi karena di beberapa penjuru kota di Indonesia, para siswa juga melakukan demo terhadap sekolahnya. Hal ini sangat membuat miris dan sedih khususnya kita sebagai pendidik. Akan tetapi, dari kejadian ini, kita sebagai praktisi dan akademisi di sekolah maupun madrasah harus kembali mengevaluasi diri apakah sudah melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik. Salah satu ciri kompeten dan profesionalnya seorang pendidik sebagai garda terdepan pemberi layanan pendidikan utama adalah harus mampu bekerja dengan penuh tanggung jawab dan siap menerima sanksi jika melakukan kelalaian atau pelanggaran. 

Selanjutnya, siswa juga harus proaktif dalam masalah SNBP ini. Siswa kritis sangat diperlukan bukan setelah kejadian kegagalan ini namun sebelum hal ini terjadi harus mampu kritis berkoordinasi dengan guru dan pihak sekolah yang bertanggung jawab. Dengan koordinasi yang baik, komunikatif dan terarah, guru akan merasa diingatkan kembali terhadap tugasnya untuk menyelesaikan tugas tambahan yang diembannya. 

Bisa saja, guru yang memiliki banyak tugas selain tugas mengajar melakukan kekhilafan dan kesalahan yang tidak sengaja dilakukan. Guru dalam hal ini juga harus mengesampingkan egonya ketika siswa mulai kritis berkoordinasi menanyakan perihal pendaftaran tersebut. Jika guru tersebut marah atau bahkan tidak mengacuhkan laporan siswa, maka siswa bisa berkonsultasi langsung secara vertikal kepada pihak di atasnya seperti kepala sekolah atau dinas serta kementerian terkait.

Kondisi yang kontradiktif terjadi di Kota Sambas. Mengutip Tribun Pontianak (4/2/2025), SMAN 1 Sambas telah menyelesaikan PDSS sebagai persiapan mendaftar SNBP pada Senin, 3 Februari 2025. Operator Sekolah yang bersangkutan mengungkapkan penyelesaian PDSS dan siswa mampu membuat serta menyimpan data secara permanen. Siswa yang terdaftar eligible ada 109 orang dengan rincian MIPA sebanyak 53 orang dan IPS sebanyak 56 orang.

Hal yang tak kalah penting dalam hal ini adalah partisipasi aktif orang tua dalam memantau serta mengawasi pendidikan anaknya. Orang tua harus mengetahui banyak seputar pendidikan lanjut para anaknya. Jangan sampai orang tahu hanya ketika berita gagal ini saja. Dengan bekal pengawasan serta literasi digital yang baik dari orang tua akan terjadi sinergisitas yang kuat antarorang tua-guru-siswa untuk mencegah perkara ini sampai terjadi. Orang tua yang partisipatif dan komunikatif dalam memantau progres pendidikan anak-anaknya juga merupakan kunci keberhasilan untuk mencegah masalah ini muncul.

Dari beberapa poin yang ada di atas, sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan di sekolah atau madrasah, guru harus mampu meningkatkan keprofesionalannya dalam mengemban tanggung jawab penuh dengan memahami serta mengimplementasikan tugas tambahan yang diberikan sebagai pengelola data siswa untuk studi lanjut. Sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, guru seharusnya menjadi role model kedisiplinan di mana mereka mampu secara cepat dalam menyelesaikan masalah ini.

Bagaimana bisa guru mengajarkan kedisiplinan kepada siswa, jika belum mendisiplinkan diri sendiri merampungkan segala tugasnya dengan baik? Jawaban pertanyaan tersebut bisa diimplementasikan dan dimanifestasikan dalam pekerjaan kita. 

Maka dari itu, jangan sampai dengan godaan dan tambahan penghasilan sebagai konten kreator, guru mengabaikan tugasnya sebagai pendidik dan tugas tambahan yang diberikan. Memang, tidak ada salahnya menjadi konten kreator di bidang pendidikan karena pengaruh guru dalam memotivasi siswa belajar di era digital sudah tepat melalui media sosial karena sering diakses siswa zaman sekarang untuk belajar lebih giat lagi. Yang salah adalah ketika guru lebih banyak aktif di dunia maya kemudian hanyut terbawa arus tsunami popularitas namun melupakan tugas di dunia nyata sebagai pelaksana dan penegak tujuan konstitusional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh karena itu, kisruh gagal SNBP yang terjadi di berbagai kota di Indonesia harus menjadi pelajaran kepada kita semua, bukan hanya pada guru dan pihak sekolah saja, namun juga peran aktif siswa dan orang tuanya. Siswa harus terus kritis terhadap kelanjutan masa depan pendidikannya dengan koordinasi yang baik dengan pihak sekolah. Kemudian, orang tua juga harus terus memantau kemajuan dan perkembangan pendidikan anaknya. Terakhir, guru harus mampu mengevaluasi diri dengan baik, dengan meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan dalam menyelesaikan tugas sebagai pendidik dan tugas tambahan administratif dalam mengelola pendidikan lanjut siswa yang ada di sekolah.

Jadi, kisruh terancam gagal SNBP ini tanggung jawab siapa? Sudah pasti tanggung jawab pihak yang diberikan tugas untuk mengelolanya. Namun dari kejadian ini, kita banyak belajar bahwa koordinasi yang komunikatif harus terus terjalin dari semua aspek di lingkungan sekolah maupun madrasah agar masalah apa pun bisa diselesaikan dengan baik dan bijaksana tanpa kekisruhan di masa yang akan datang. Semoga. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved