Tribunners
Puasa Psikologis
Bulan Ramadan adalah bulan mulia, diwajibkan setiap mukmin berpuasa; berpuasa dengan sepenuh hati sebagaimana dimaksud para sufi
Oleh: Rusydi Sulaiman - Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
PUASA berarti menahan diri dari sesuatu. Secara normatif syariat, berarti menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Namun, tidak demikian menurut para sufi, bahwa puasa tidak sebatas itu dan tidak sederhana itu, tetapi ia bermakna menahan diri dari hal- hal yang mengganggu muru'ah seseorang. Puasa Siti Maryam sebagaimana tercantum Qur’an surah Maryam (19): 26): "Maka, katakanlah, aku telah bernadzar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini". Puasa yang diobsesikan adalah hakikat puasa, disebut puasa psikologis.
Terdapat beberapa kata dalam bahasa Inggris tentang ,"rasa"; pertama, taste, berarti merasakan sesuatu apakah ia manis, pahit atau asin dan atau lainnya, bersifat sangat indrawi atau bersifat luar saja. Contoh: I taste coffee, but the coffee is bitter (saya merasakan kopi, tapi itu pahit). Walaupun ada yang suka kopi pahit, faktanya banyak orang suka kopi manis. Puasa tidak dimaknai setahap ini karena hal tersebut sangatlah dangkal dan juga awam.
Kedua, "feel", berarti merasakan suasana tertentu, lebih kepada cuaca atau lingkungan. Misalnya, I feel cold because of raining (saya merasakan dingin karena hujan). Cinta disebabkan oleh suasana tertentu tentu tidak benar, maka istilah ,"feeling love" tidak tepat digunakan. Puasa tidak diinginkan demikian karena hal tersebut lebih bersifat tendensius, bukan semata-mata bertujuan ibadah yang sebenarnya.
Ketiga,"sense", berarti rasa atau ketajaman rasa. Beberapa istilah diperdengarkan; "sense of love" (rasa cinta), "sense of belonging"(rasa memiliki), dan "sense of responsibility" (rasa tanggung jawab), sangatlah tepat. Merasakan sesuatu maksudnya menyikapi dengan kekuatan kejiwaan dan ketajaman kalbu; sangat-sangat psikologis.
Sekali lagi, bahwa puasa tidak sebatas arti feeling karena suasana tertentu. Karena ia berpuasa, maka saya juga berpuasa. Tentu tidak tendensius hanya karena sebab dan tujuan pragmatis tertentu, apalagi sebatas "taste" yang bermakna sangat datar. Dalam Bahasa Arab terdapat istilah dzauq (rasa) menjadi ,"madzaaqah" (ketajaman rasa). Tidak sebatas kalbu (qalb), melainkan kalbu yang tajam (bashiirah); berpuasa dengan kekuatan bashiirah sebagai tertinggi, melekat pada orang-orang tertentu. Terbuka sitar Allah dengan kekuatan mukasyafah mereka yang berkualitas.
Walaupun ada yang memaknai istilah sense dengan kata nalar, sebenarnya istilah tersebut lebih bermuatan rasa. Rasa dan nalar menyatu menjadi satu kekuatan yang menyatu dalam kalbu atau jiwa seorang muslim/muslimah yg berpuasa menjadi mukmin/mukminah (orang yang beriman) yang diwajibkan kepadanya berpuasa, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surah Al-Baqarah (2): 183): ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.
Bulan Ramadan adalah bulan mulia, diwajibkan setiap mukmin berpuasa; berpuasa dengan sepenuh hati sebagaimana dimaksud para sufi, yaitu adanya kekuatan kejiwaan dan ketajaman rasa (sense). Maka akan diangkat derajat orang-orang yang demikian.
Selain puasa di bulan Ramadan, terdapat puasa wajib lainnya, yaitu puasa karena nadzar berpuasa dan puasa sebagai kaffarat karena hal tertentu. Juga ada puasa dalam kurun tertentu untuk tujuan riyadhah (olah batin). Selain itu juga terdapat begitu banyak puasa sunah; puasa Daud, puasa Senin-Kamis dan lainnya. Kesemuanya berharap akan keridaan Allah Swt.
Atas dasar itu, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Swt di bulan yang mulia ini. Salah satunya dengan cara berpuasa sebagaimana puasa Siti Maryam dan para sufi, yaitu berpuasa sepsikologis mungkin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250308_Rusydi-Sulaiman.jpg)