Tribunners

Menanti Kurikulum Cinta

Kurikulum Cinta adalah seperangkat sistem dan fondasi hidup bersama dalam keberagaman untuk kerukunan umat beragama

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Syamsul Bahri
Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali 

Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

KURIKULUM dalam sebuah lembaga pendidikan selalu menarik untuk dibicarakan, karena kurikulum bisa dikatakan jantungnya sebuah pendidikan. Di Indonesia sudah sering terjadi pergantian kurikulum pendidikan. Seakan gonta-ganti istilah kurikulum sudah biasa, walaupun terkadang hanya istilahnya saja yang diganti. Semua itu tentunya dilakukan untuk mendapatkan formulasi yang tepat dalam memperbaiki pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.

Terkait dengan hal itu, ada lagi rancangan kurikulum yang akan diterapkan di Indonesia. Namun, kali ini pencetusnya bukan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, namun dari Kementerian Agama. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, pada bulan Februari 2025 yang lalu, menyampaikan gagasan terkait kurikulum. Kurikulum tersebut rencananya akan diterapkan di lembaga pendidikan keagamaan. Kurikulum tersebut diberi nama Kurikulum Cinta.

Menurut Menag, Kurikulum Cinta adalah seperangkat sistem dan fondasi hidup bersama dalam keberagaman untuk kerukunan umat beragama. Menurut dia, cinta adalah inti dari segala tindakan kebaikan. Dia mengungkapkan, pendidikan agama yang diajarkan selama ini sudah seharusnya tidak hanya berdasarkan pada hal-hal yang ritual-formalistik semata. Akan, tetapi, juga harus menanamkan jiwa dan semangat moderasi dan penghormatan terhadap keberagaman. 

Selanjutnya, Menag menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai cinta kasih dan toleransi sejak dini. Menurutnya, Kurikulum Cinta dapat mengajarkan cinta kepada sesama warga negara meskipun berbeda agama. Melalui kurikulum cinta, harapannya tidak ada kebencian yang ditanamkan sejak dini terhadap perbedaan agama yang terjadi.

Menteri Agama juga mengungkapkan bahwa Kurikulum Cinta akan bermanfaat untuk mengikis potensi terjadinya relasi kuasa dalam masyarakat. Relasi kuasa yang dimaksud berkaitan dengan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini harus dihilangkan dalam Kurikulum Cinta, karena itu nanti akan melahirkan relasi kuasa yang timpang. Makin kuasa seorang laki-laki dalam masyarakat, maka gampang terjadi pelecehan terhadap perempuan.

Untuk mematangkan konsep Kurikulum Cinta tersebut, beberapa hari yang lalu Direktorat KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI telah menyusun draf panduan implementasi kurikulum berbasis cinta, dan sudah menyelenggarakan uji publik terhadap draf panduan tersebut. Dalam tahapan uji publik ini melibatkan seluruh civitas madrasah dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Indonesia untuk terlibat aktif memberikan masukan dan saran terhadap draf panduan yang sudah disiapkan.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Kurikulum Cinta merupakan sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Kurikulum ini bertujuan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan. Kurikulum ini juga bertujuan untuk meminimalisasi sejak dini potensi konflik antarpemeluk agama.

Selanjutnya, jika nanti gagasan ini benar-benar menjadi sebuah kurikulum dan diterapkan di lembaga pendidikan, maka ini harus diapresiasi, sebab ini suatu gebrakan besar dari Kementerian Agama. Karena kita ketahui selama ini yang melahirkan kurikulum selalu dari Kementerian Pendidikan. Jadi, patut juga dinantikan implementasi kurikulum cinta ini.

Tentunya sebelum itu terealisasi akan timbul beberapa pertanyaan. Apakah Kurikulum Cinta ini hanya untuk lembaga di bawah naungan Kementerian Agama saja? Apakah lembaga di bawah naungan Kementerian Agama akan memakai dua kurikulum, Kurikulum Cinta dan Kurikulum Deep Learning? Dan, apakah Kurikulum Cinta hanya untuk mata pelajaran agama saja atau untuk semua mata pelajaran?

Memang pertanyaan-pertanyaan itu terkesan sangat prematur karena Kurikulum Cinta baru berbentuk embrio sehingga masih memerlukan waktu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, rasanya tidak salah jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul ke permukaan. Semoga apa yang direncanakan terkait Kurikulum Cinta itu benar-benar bisa membawa perubahan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved