Idul Fitri 2025
9 Amalan Sunnah saat Merayakan Idul Fitri 2025
Selain Shalat Id, umat muslim dianjurkan mengerjakan amalan sunnah pada Idul Fitri.
BANGKAPOS.COM - Tinggal beberapa hari lagi umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1446 H.
Umat muslim laki-laki maupun perempuan dianjurkan menunaikan shalat Idul Fitri atau dikenal dengan Shalat Id pada pagi hari tanggal 1 Syawal.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat Idul Fitri. Ada yang menyebut fardhu 'ain, sunnah muakkad, ataupun fardhu kifayah.
Selain Shalat Id, umat muslim dianjurkan mengerjakan amalan sunnah.
Ada sejumlah amalan sunnah yang bisa dikerjakan pada hari raya Idul Fitri atau menjelang Shalat Id, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Sunnah tersebut di antaranya, mandi, berpakaian yang terbaik, makan sebelum Shalat Id, bertakbir, dan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang Shalat Id.
Berikut penjelasan singkat dari amalan-amalan Idul Fitri yang dikutip dari buku berjudul Panduan Lengkap Ibadah Muslimah (2012) karya Syukron Maksum:
1. Mandi, Berhias dan Memakai Pakaian Bagus
Orang yang hendak menghadiri shalat Idulfitri, baik laki-laki maupun perempuan dianjurkan agar mandi sunnah.
Setelah mandi, berpenampilan rapi, yaitu berhias, memakai pakaian bagus (tidak harus mahal, yang penting rapi dan bersih), dan wangi-wangian sewajarnya.
Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, “Rasulullah Saw selalu memakai wol atau burda bercorak buatan Yaman pada setiap salat Idulfitri” (H.R. Asy-Syafi’i dalam kitabnya Musnad asy-Syafi’i).
Diriwayatkan pula dari Zaid bin al-Hasan bin Ali dari ayahnya dia mengatakan, “Kami diperintahkan oleh Rasulullah Saw pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) untuk memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang), dan supaya kami menampakkan keagungan Allah SWT, ketenangan, dan kekhidmatan” (H.R. Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256).
2. Makan Sebelum Shalat Idulfitri
Ternyata, anjuran ini bukan tanpa alasan. Terdapat makna makan terlebih dahulu sebelum shalat Idulfitri.
Mengonsumsi makanan sebelum melaksanakan shalat Idulfitri dilakukan oleh Rasulullah Saw.
Rasulullah menyempatkan waktu untuk makan buah kurma terlebih dahulu sebelum pergi melaksanakan shalat Idulfitri pada pagi hari.
Esensi dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idulfitri adalah agar tidak disangka hari tersebut masih hari berpuasa.
Sedangkan untuk shalat Iduladha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat Id.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, yaitu Buraidah bin al-Husaib, dia berkata, “Rasulullah Saw pada hari Idulfitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Iduladha tidak makan hingga selesai shalat” (H.R. At-Tirmizi).
Perlu diketahui bahwa sebelumnya, makan sebelum shalat Idulfitri dilarang pada masa awal agama Islam berkembang.
Rasulullah Saw kemudian menganjurkan makan sebelum shalat Idulfitri agar dapat diikuti oleh umatnya.
Lalu, apa makna makan terlebih dahulu sebelum shalat Idulfitri seperti yang disunahkan oleh Rasulullah SAW?
Dilansir dari NU Online, makna makan terlebih dahulu sebelum shalat Idulfitri dijelaskan dalam sebuah hadis yang ditulis oleh Imam Jalaludin A-Suyuthi dalam kitab Al-Jami’us Shaghir, bahwa Rasulullah Saw memiliki kebiasaan makan buah kurma sebelum shalat Idulfitri, bahkan dikatakan bahwa dirinya tidak pergi melaksanakan shalat Idulfitri sampai memakan buah kurma terlebih dahulu.
“Adalah Rasulullah Saw tidak pergi untuk melakukan shalat Idulfitri sampai beliau memakan tujuh buah kurma”.
Makna makan terlebih dahulu sebelum shalat Idulfitri yang dijelaskan dalam hadis tersebut adalah salah satu cara Rasulullah Saw memberikan pemahaman bahwa mengonsumsi makanan sebelum shalat Idulfitri itu diperbolehkan.
Sunnah ini bahkan dilakukan dengan tujuan untuk menghapus keharaman berbuka sebelum dilakukan shalat Idulfitri, yaitu ketika masa awal Islam.
Dengan anjuran ini, umat muslim dapat meneladani ajaran Rasulullah Saw bahwa tidak ada aturan yang melarang makan sebelum shalat Idulfitri.
Dalam hal ini, buah kurma dipilih karena buah ini dinilai mempunyai kandungan rasa manis yang dapat menguatkan pandangan setelah sebelumnya dilemahkan oleh puasa selama satu bulan.
Selain itu, buah kurma juga dinilai dapat melembutkan hati. Meskipun begitu, tidak ada keharusan mengonsumsi buah kurma sebelum melaksanakan shalat Idulfitri.
Jika tidak mendapatkan buah kurma, kita bisa menggantinya dengan mengonsumsi makanan manis lainnya.
Jika sebelum keluar rumah belum sempat mengonsumsi makanan, diperbolehkan melakukannya ketika dalam perjalanan atau telah sampai di tempat shalat ketika kondisi memungkinkan.
Jika tidak makan, mengonsumsi minuman juga dihitung sama dengan makan.
3. Membayar Zakat Fitrah
Zakat di dalam Islam merupakan salah satu rukun Islam yang hukumnya wajib untuk dilaksanakan. Banyak kegunaan zakat bagi orang-orang yang membutuhkan.
Jelang Idul Fitri, umat muslim diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah.
Kewajiban membayar zakat fitrah ini dijelaskan dalam hadis yang memiliki arti sebagai berikut:
“Rasulullah Saw memerintahkan zakat fitrah kepada orang-orang di bulan Ramadan kepada manusia satu sha’ dari tamar (dua setengah kilo beras) atas orang-orang yang merdeka atau hamba laki-laki atau perempuan.” (Al -Hadis).
Waktu pembayaran zakat fitrah adalah sejak awal Ramadan hingga sebelum shalat Idul Fitri.
Waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah adalah setelah shalat subuh pada hari Idul Fitri hingga sebelum shalat Idul Fitri.
4. Berjalan Kaki ke Tempat Shalat Idul Fitri
Jika tempat Shalat Id tidak terlalu jauh, disunahkan untuk berjalan kaki menuju musala, masjid, atau tanah lapang tempat diselenggarakannya salat Idulfitri.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib, dia berkata: “Termasuk sunah Rasulullah Saw adalah keluar menuju tempat shalat Idulfitri dengan berjalan kaki” (H.R. Tirmidzi).
5. Berangkat dan Pulang Shalat Id Melewati Jalan yang Berbeda
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya, “Rasulullah Saw mendatangi shalat Idulfitri dengan berjalan kaki dan beliau pulang melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi” (H.R. Ibnu Majah).
Salah satu hikmah yang menyebabkan Rasulullah Saw membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal.
“Jalan yang kita tempuh berbeda, sehingga bekas yang timbul dari pejalanan kita tidak terekam di satu titik, tetapi terekam juga di tempat yang berbeda”.
6. Mengumandangkan Takbir
Mengumandang takbir atau takbiran pada hari raya Idulfitri adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama.
Ada dua pendapat dari ulama mengenai waktu dimulainya takbiran, yaitu dimulai sejak malam setelah magrib satu hari sebelum shalat Idulfitri dan saat pagi hari ketika menuju tempat shalat.
Berbeda halnya dengan Iduladha, kumandang takbir juga digemakan saat hari tasrik hingga 13 Dzulhijah.
Pada Idulfitri, tidak ada lagi takbir setelah shalat selesai dilakukan.
Muhammadiyah dalam situs resminya menjelaskan jika lafaz takbir Idulfitri yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw adalah sebagai berikut.
a. Lafaz takbir Idulfitri seperti disandarkan kepada Ibn Mas’ud, ‘Umar ibn al-Khattab, dan ‘Ali ibn Abi Thalib, di antaranya adalah sebagai berikut:
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَه إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
“Allahu akbar allahu akbar, la ilaha illallah wallahu akbar alllahu akbar walillahil hamd”.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala puji”.
Ucapan Allahu Akbar dalam takbir shalat Idulfitri dalam redaksi hadis di atas jelas hanya diucapkan dua kali, tidak tiga kali.
b. Lafaz takbir Idulfitri sesuai hadis riwayat Abdur Razaq dari Salman dengan sanad yang sahih, yang mengatakan sebagai berikut:
كَبِّرُوْا، اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar” (lihat Ash-Shan’aniy, Subul as-Salam, Juz II: 76)
كَبِّرُوْا، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar” (lihat Al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, Juz III: 316).
Ada pula bacaan takbir yang lebih panjang lagi. Berikut lafaz lengkapnya:
اللّه أكْبَرُ كَبيراً، والحَمْدُ لِلَّهِ كَثيراً، وَسُبْحانَ اللَّهِ بُكْرَةً وأصِيلاً، لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَلا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدينَ وَلَوْ كَرِهَ الكافِرُون، لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأحْزَابَ وَحْدَهُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللّه واللَّهُ أكْبَرُ
“Allahu akbar kabira, wal hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw wa ashila, la ilaha illallah, wa la na’budu iyyahu mukhlisina lahud din, wa law karihal kafirun, la ilaha illlallah wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzab wahdah, la ilaha illallah wallahu akbar”.
Namun demikian, Muhammadiyah berpendapat jika belum menemukan dasar atau dalil yang secara jelas menuntunkan bertakbir hari raya dengan lafaz demikian.
7. Mendatangi Keramaian
Salah satu cara menyemarakkan Idulfitri adalah dengan mendatangi keramaian dan bergembira bersama sesama muslim.
Diceritakan bahwa suatu waktu Rasulullah Saw menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan perisai.
Saking senangnya, Aisyah sampai menjengukkan kepalanya di atas bahu Rasulullah Saw hingga dia selesai menyaksikan pertunjukan tersebut dengan puas.
8. Saling Mengucapkan Selamat Lebaran
Termasuk sunah yang baik yang bisa dilakukan pada hari Idulfitri adalah saling mengucapkan selamat lebaran.
Selamat di sini baiknya dalam bentuk doa seperti dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah SWT menerima amalan kami dan kalian).
Ucapan seperti itu sudah dikenal pada masa salaf dahulu.
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك
Dari Jubair bin Nufair, dia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah Saw berjumpa dengan hari ‘ied (Idulfitri atau Iduladha, pen), satu sama lain saling mengucapkan,
“Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah SWT menerima amalku dan amal kalian)”.
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan (Fath Al-Bari, 2: 446).
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
"Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain pada hari raya Idulfitri mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka” (Al-Mughni, 2: 250).
Namun, ucapan selamat pada hari raya sebenarnya tidak diberi aturan ketat di dalam syariat Islam. Ucapan apapun yang diutarakan selama maknanya tidak keliru asalnya bisa dipakai.
9. Silaturahmi
Setelah melaksanakan Shalat Id, Rasulullah Saw mendatangi tempat keramaian dan mengunjungi rumah sahabat.
Tradisi silaturahmi saling mengunjungi saat hari raya Idulfitri sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw.
Ketika Idulfitri tiba, Rasulullah Saw mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya.
Pada kesempatan ini, Rasulullah Saw dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain.
Itulah penjelasan singkat mengenai amalan-amalan sunnah Idul Fitri. Semoga bermanfaat.
(Bangkapos.com)
| Sejarah dan Makna Halal Bihalal , Tradisi Indonesia Saat Lebaran Idul Fitri |
|
|---|
| Bolehkah Ziarah Kubur Saat Idul Fitri 2025, Ini Kata Ustaz Abdul Somad dan Buya Yahya |
|
|---|
| Amalan Sunnah Saat Merayakan Idul Fitri 2025 atau 1446 Hijriah, Satu di Antaranya Silatuhrahmi |
|
|---|
| 17 Ucapan Selamat Idul Fitri 2025 dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Sedih Menyentuh Hati |
|
|---|
| 25 Ucapan Selamat Lebaran Idul Fitri 2025 Dalam Bahasa Indonesia, Cocok Untuk Status WA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240410-Suasana-salat-Idul-Fitri-1445-H-di-depan-halaman-kantor-Bupati-Bangka-Tengah.jpg)