Tribunners
Xenomania
Xenomania adalah perilaku dan sikap suka yang berlebihan terhadap sesuatu yang asing atau yang berasal dari luar.
Oleh: Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah
SEHUBUNGAN dengan makin kencangnya arus globalisasi di penjuru negeri, makin banyak pula ancaman terhadap “keaslian Nusantara” yang terkikis dihantam oleh kurangnya rasa nasionalisme. Gangguan integritas kesatuan dan persatuan menusuk dari seluruh lini kehidupan. Hal ini sungguh ironis mengingat gencarnya kampanye terhadap cinta produk dalam negeri.
Layaknya sebuah pisau, globalisasi hanyalah sebuah objek yang bergantung pada kebijakan penggunanya. Bila dipertemukan dengan pengguna yang tidak bijak, maka pisau akan sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa manusia lain.
Begitu juga dengan globalisasi yang diidentikan dengan pisau, jika tidak digunakan dengan baik maka akan menimbulkan kerusakan yang masif. Kerusakan itu jika dikaitkan dengan identitas bangsa maka berbahaya. Seseorang akan mudah sekali mengkhianati negaranya. Penting sekali untuk tetap “asri” agar menjaga kebudayaan dan kesatuan bangsa.
Efek negatif dari globalisasi adalah mudahnya konten-konten yang tidak sesuai dengan budaya Nusantara masuk ke kehidupan manusia Indonesia. Ditambah dengan rendahnya pengetahuan manusia Indonesia terhadap budaya ketimuran yang sudah diadopsi sejak dahulu. Seperti diketahui bahwa budaya ketimuran identik dengan nilai-nilai penuh adab dan kesopanan yang merangkap seluruh lini kehidupan. Contohnya adalah menghormati orang yang lebih tua dan menghargai kebudayaan setempat dan dibandingkan dengan budaya Barat yang kontradiktif.
Nah, globalisasi menjadi kendaraan bagi budaya Barat untuk masuk dan memengaruhi perilaku manusia Indonesia. Apalagi jika manusia Indonesia tersebut tidak bijak untuk menyaring konten-konten dari Barat yang tidak sesuai dengan keasrian Indonesia. Lebih parahnya lagi, timbul sebuah perilaku baru yang terbawa dari kapal bernama globalisasi. Perilaku baru tersebut disebut dengan “xenomania”.
Xenomania adalah perilaku dan sikap suka yang berlebihan terhadap sesuatu yang asing atau yang berasal dari luar. Contohnya adalah suka terhadap seorang artis dari luar negeri sehingga membuat seseorang berlaku “gila” dengan berusaha meniru artis tersebut secara utuh. Meniru mulai dari gaya rambut, gaya pakaian, agama, budaya, kebiasaan, dan sebagainya.
Sebenarnya xenomania itu berasal dari kekosongan yang menyebabkan seseorang tersebut mencari pelarian ke dunia luar. Misalkan pada remaja, xenomania muncul karena orang tua yang tidak peduli dengan perkembangan anak, terlalu mengabaikan anak, tidak mengajarkan nilai-nilai agama dan tidak mengajarkan nilai-nilai budaya setempat. Ada juga anak-anak korban perundungan di lingkungan rumah dan kemudian anak-anak menjadi korban perceraian kedua orang tua.
Anak-anak yang masih remaja butuh fondasi yang kuat dari kecil agar pada saat perjalanan tumbuh kembang menjadi orang dewasa tidak melenceng ke arah yang tidak benar. Peran orang tua di rumah sangat penting agar anak-anak tidak menjadi manusia yang “xenomania”.
Di sekolah, guru juga mengajarkan bagaimana agar anak-anak tidak terpapar dengan xenomania. Caranya adalah memodifikasi pembelajaran yang menggabungkan materi dan relevansinya terhadap kebudayaan Indonesia sehingga menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air.
Xenomania sudah merebak di dalam kehidupan bermasyarakat. Sekarang mari lihat manusia Indonesia yang cenderung individualistis. Individualistis artinya tindakan untuk menyelamatkan diri sendiri dibanding dengan khalayak. Orang-orang menjadi lebih rakus dan ingin menimbun sebanyak mungkin aset dan kekayaan.
Xenomania pada orang dewasa lebih berbahaya, menyadarkan orang yang sadar adalah hal paling sulit. Sekarang mari mulai mengurangi xenomania dengan cara menjadi manusia yang “Indonesia banget”. Minimal jangan terjajah di segala lini kehidupan. Mulailah normalisasi menggunakan bahasa Indonesia dan daerah jika bertemu dengan sesama orang Indonesia, menggunakan produk-produk Indonesia, mencintai kebudayaan dan adat istiadat Indonesia adalah hal-hal yang bisa dilakukan di zaman globalisasi ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230810_Andre-Pranata-Guru-SMPN-2-Lubuk-Besar.jpg)