Tribunners

Pendidikan Dialogis

Di era pembelajaran deep learning sekarang ini siswa dituntut aktif dan mampu mengaktifkan sisi kritis dalam berpikir.

Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Andre Pranata
Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah 

Oleh: Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

PEMBELAJARAN konvensional mungkin sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan dunia yang makin kencang. Kemajuan dunia yang makin kencang ditandai dengan keterbukaan informasi yang masif. Pembelajaran konvensional itu ditandai dengan pembelajaran yang hanya berpusat kepada guru sehingga menekan peran siswa dalam pembelajaran.

Seharusnya pembelajaran dilakukan dengan diskusi dua arah agar informasi dari satu orang bisa dilengkapi dengan informasi oleh sudut pandang lain dari para siswa. Pembelajaran konvensional yang masih menggunakan metode ceramah mungkin tidak lagi efektif untuk menciptakan pembelajaran yang menarik di kelas. Siswa cenderung mengantuk mendengarkan celotehan segudang informasi dari guru. Ditambah suasana kelas yang hening dan belajar dalam tekanan akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam belajar.

Pembelajaran konvensional yang ditandai dengan metode konvensional seharusnya sudah tidak dipakai lagi di dalam pembelajaran. Anak-anak di kelas harus belajar dengan diajak untuk berdiskusi, memecahkan masalah, tumbuh bersama dan belajar bersama. Di era pembelajaran deep learning sekarang ini siswa dituntut aktif dan mampu mengaktifkan sisi kritis dalam berpikir. Caranya adalah dengan menerapkan pendidikan dialogis. 

Pendidikan dialogis adalah pendidikan percakapan, pendidikan yang sadar akan kesetaraan dan bagaimana caranya untuk membangkitkan pemikiran kritis di kelas. Ciri dari pendidikan dialogis adalah guru dan siswa sama-sama belajar, sama-sama bertukar pikiran, sama-sama bertanya sehingga menimbulkan kepercayaan diri dari siswa dan guru untuk saling memercayai kemampuan masing-masing demi mendapatkan ilmu dan kesimpulan pembelajaran yang relevan pada saat belajar. 

Pembelajaran di kelas janganlah seperti pendidikan gaya bank. Pendidikan gaya bank artinya guru selalu menyetorkan pengetahuan ke dalam diri siswa yang dianggap kosong. Pendidikan gaya bank memiliki sisi negatif yaitu siswa tidak bisa berpikir kritis sehingga menyebabkan aktivitas pembelajaran di dalam kelas menjadi sangat membosankan. Pendidikan gaya bank tidak linier dengan pendidikan dialogis karena pendidikan dialogis mengutamakan percakapan, tukar pikiran, dan tumbuh bersama.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa pendidikan dialogis penting dilakukan? Sekarang mari lihat tren dunia. Dialog bisa memecahkan masalah, mencari solusi dan membuat kesepakatan yang menguntungkan. 

Contohnya adalah dialog terkait dengan tarif impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat kepada seluruh negara di dunia. Jika tidak diselesaikan secara dialog, maka dunia akan hancur. Negara-negara lain yang tidak bisa menerima maka akan melakukan tindakan militer kepada Amerika Serikat yang tentu saja akan makin memperburuk keadaan dunia. 

Pada kasus Amerika tadi, jika tidak ada dialog maka hal yang buruk akan terjadi. Dialog dan negosiasi adalah kunci perdamaian dunia. 

Jika ditarik lurus ke dalam dunia pendidikan, dialog di dalam pembelajaran bisa menghasilkan solusi dalam pembelajaran. Dengan pendidikan dialogis, siswa bisa mendapatkan kepercayaan diri sehingga akan berguna baginya di kehidupan bermasyarakat dan di dunia luar. Melalui pendidikan dialogis ini, siswa dituntut untuk berpikir kritis dan logis sehingga mampu memecahkan masalahnya sendiri secara bijaksana.

Pendidikan dialogis sebenarnya bisa dilakukan dengan guru sebagai fasilitatornya. Guru juga bisa belajar bahwa sudut pandang dari berbagai siswa bisa saja benar. Hanya saja, guru tidak boleh memarahi siswa yang memiliki pendapat lain asal masih sesuai dengan konteks pembelajaran. 

Sebenarnya  siswa-siswa takut bertanya karena takut dimarahi oleh guru dan dirundung oleh teman-teman sekelasnya. Nah, tugas guru dalam pembelajaran dialogis adalah memberikan kenyamanan kepada siswa untuk berbicara, kemudian memberikan apresiasi dan refleksi yang tepat dalam pembelajaran. Mari berdialog! (*) 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved