Filosofi 'Tradisi' Pancasilais
Tiap tahun Hari Lahir Pancasila diperingati, belum terang juga kontribusi Pancasila dirasakan merata sampai pelosok negeri. Ini merupakan pekerjaan...
Oleh: Masmuni Mahatma, Kakanwil Kemenag Prov. Bangka Belitung
PANCASILA, simbol yang sakral. Akar falsafah kebangsaan dan kenegaraan kolektif bagi Indonesia. Ia bukan semata dokumen historis atau media teks-teks tak bermakna. Di dalam Pancasila, terkandung norma, nilai, esensi, substansi, dan bahkan energi-energi paradigmatik-konstruktif dari dan untuk kemaslahatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pancasila lumbung ideologi dan harmoni berkemanusiaan sekaligus berkebangsaan. Dari detak nadi dan jantung Pancasila, visi dan orientasi ke-Indonesia-an akan terus menerus terpompa dan menguat seiring laju peradaban manusia. Terlebih Pancasila, dicetus-lahirkan bukan semata “penyangga” kemerdekaan, melainkan benar-benar sebagai sumber nilai luhur eksistensial kenegaraan.
Tiap tahun Hari Lahir Pancasila diperingati, belum terang juga kontribusi Pancasila dirasakan merata sampai pelosok negeri. Ini merupakan pekerjaan dan tugas kita bersama yang mesti dicermati dan dituntaskan tanpa henti. Patut dan sudah selayaknya kita saling mengutarakan informasi, evaluasi, dan menimbang terus langkah-langkah realistik-kontributif berbasis visi, misi, filosofi, dan aksiologi dari teks-teks suci dalam sila-sila Pancasila terhadap lapisan masyarakat di level terbawah. Ritualitas hari-hari besar, termasuk Hari Lahir Pancasila ini seyogianya tidak semata dimeriahkan melalui upacara dan hormat bendera di kantor-kantor dan tempat-tempat lain yang dianggap “pantas.” Namun, perlu transformasi dan pembumian nilai-nilai luhur Pancasila dalam tindakan dan kerja nyata demi kesejahteraan bersama.
Menyadari bahwa Pancasila adalah sumber nilai dan perisai ideologi kebangsaan maupun kenegaraan, mungkin memang tidak cukup hanya dalam pikiran apalagi semata angan-angan. Itu bagian dari tuna kebangsaan – untuk tidak mengatakan serupa pengkhianatan – dalam sosial kenegaraan. Sebaliknya, nilai-nilai luhur Pancasila perlu termanifestasi secara optimal, integral dari dan untuk kerja-kerja lebih realistis-praktis yang terus menyehatkan, mensejahterakan, mendamaikan, dan berkeadilan. Tidak seperti belakangan, masih cukup banyak masyarakat kelas bawah di pelbagai pelosok yang menjalani hidup dan bahkan menanggung beban sosial perekonomian dan sosial kemanusiaan yang jauh dari energi luhur Pancasila itu sendiri. Bukan saja dilematis dan miris, tetapi tampaknya tergolong cukup paradoks. Patut ada otokritik.
Energi Positif
Dalam rangka mengawal dan membumikan semangat maupun nilai-nilai luhur Pancasila, otokritik setulus mungkin adalah keniscayaan. Tak perlu dipahami atau ditarik sebagai antikebijakan atau ketidaksukaan terhadap ritualitas-ritualitas formal sebagaimana belakangan berjalan baik tiap 1 Juni atau 1 Oktober. Namun mesti ditempatkan dan diinternalisasi layaknya “energi positif” demi menumbuhkan serta meningkatkan hidmah integralistik berbasis nilai-nilai Pancasilaistik. Sehingga kepercayaan diantara seluruh elemen bangsa menjadi modal dan model penyambung keharmonisan demi kemajuan kolektif kenegaraan. Juga demi manifestasi penguatan, kualitas, loyalitas, massifikasi ideologisasi, internalisasi, dan amplifikasi nilai-nilai luhur dari tubuh dan jiwa Pancasila.
Otokritik yang bercorak akademik, paradigmatik, konstruktif, sejatinya juga merupakan turunan dari spirit permusyawaratan berlandaskan kebijaksanaan sebagaimana termaktub dalam Sila ke 4 Pancasila. Otokritik pertama, tidak akan salah kafrah sekiranya untuk memperingati Hari Lahir Pancasila di masa yang akan datang dirumuskan bersama tahapan maupun bentuk program yang lebih praktis membelah, mengurai, dan menyelesaikan problematika sosial warga bangsa dengan menyeluruh. Tanpa mengabaikan “upacara resmi,” misalnya, bisa “nganggung” bersama rakyat di pelosok, sharing dari hati ke hati, mendengar aspirasi dari kedalaman batin, memberikan solusi-solusi produktif terhadap jerit tangis mereka baik di wilayah daratan maupun kepulauan (lautan).
(Isi)pidato cenderung “kaku” dan melangit seyogiyanya diminimalisir. Perlu dinetralisir melalui “sapa hati” menyangkut kebutuhan dan problematika riil yang dihadapi publik. Pancasila itu simbol urusan bumi. Ia harus mengalir lentur, lancar, dan aplikatif dalam konteks kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dialogisasi prinsip dan nilai-nilai luhur Pancasila mesti segera ditransformasikan secara membumi, terarah, dan aspiratif demi kemaslahatan publik. Bukan dibiarkan terus mutar-mutar dan saling berlompatan diantara “luber”nya diskursus, pemikiran, konsepsional, dan seremonial belaka. Sila-sila dalam Pancasila, cukup terang untuk aktualisasi pemikiran sekaligus sikap berkebangsaan dan berkenegaraan.
Otokritik pertama ini, sekali lagi, tidak dimaksudkan mendistorsi, mendisorientasi, mendelegitimasi, dan menguburkan apa yang diwujud-sebarkan. Sebaliknya, dalam rangka melengkapi, mematangkan, “memasyarakatkan” kehebatan Pancasila dari pelbagai aspek etik yang melekat. Sehingga Pancasila tumbuh sehat dan menyehatkan, berada dan mengada dengan digjaya dan terampil meresponi, menyikapi, menghadirkan solusi serta mencerahkan tatanan publik dalam kontekstualisasi kebangsaan serta kemanusiaan. Dus, Pancasila akan terus mendapatkan ruang eksistensial guna menyuburkan humanisme-religius dan nasionalisme-universal di relung publik. Ini akan menjadi energi positif-empatik, lagi-lagi kalau dimaknai dengan jernih, tulus, penuh hidmah dan kebijaksanaan.
Tuturan Sang Proklamator
Otokritik kedua, mari ingat penuh seksama alur dan semangat luhur Pancasila, terutama dari tuturan Sang Proklamator menyejarah, Ir. Seokarno. Bung Karno berkali-kali dan dalam rupa-rupa kesempatan selalu menegaskan bahwa Pancasila diciptakan dari satu tapi untuk semua. Dan melalui semua demi untuk satu, yakni marwah, martabat, kedigjayaan, dan pencerahan Indonesia. Kolektifisme, humanisme, universalisme berbasis Pancasilaistik, bukan “gincu pengetahuan” belaka, melainkan ruh, esensi, nilai, dan energi utama dalam ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui perspektifnya yang luhur Pancasila ingin senantiasa memandu dan memproduktifkan spirit, nilai, orientasi, komitmen ke(ber)agamaan, kemanusiaan, dari dan untuk melestarikan tatanan sosial kehidupan integratif-edukatif-transformatif.
Cukup argumentatif bila Pancasila tanpa henti merekatkan perbedaan menjadi “suplemen herbal” keharmonisan. Berpadu dalam keberbedaan untuk bisa mengentalkan persamaan etik, merupakan darah daging dan naluri universal Pancasila. Bhineka Tunggal Ika, bukan istilah “pecahan botol,” atau semboyan miskin substansi, tetapi rujukan religiusitas dan akar nilai abadi mengenai penghidmatan setiap warga bangsa ber-Indonesia. Dari dan dengan Bhineka Tunggal Ika, berbeda merupakan hikmah dan barokah. Bukan untuk saling abai dan lupa diri penuh egoisme-sektarianisme-primordialisme. Apalagi sampai eksploitasi, manipulasi, dan destruktifikasi. Ini otokritik kedua, supaya semua elemen lebih obyektif dan dewasa, bukan malah hendak membelokkan arah lantaran tarikan nafsu (kuasa) belaka.
Pancasila, terang Soekarno, adalah ikhtiar maksimal menggali dan mengawal tradisi leluhur bangsa. Nilai-nilai luhur tradisi, spirit kearifan lokalitas dan loyalitas ketimuran, bagian dari prinsip yang mendasari konstruksi tubuh dan artistika jiwa Pancasila laiknya ideologi negara. Tiada letih Soekarno menegaskan salah satu tarikan tradisi Pancasilais bahwa siapa dari rasa dan kultur lokalitas mana pun selama berada dalam bingkai sosiologis-antropologis Indonesia, harus paten menjadi Indonesianis berlapis tradisi Pancasilais. Melumuri pikiran dan tindakan atasnama kepekaan filosofi-tradisi Pancasilais seperti ringan sama dijinjing berat sama dipikul, duduk sama rendah, tegak sama tinggi, tepa selera, ing madya mangun karsa ing garso sung tulodo, rawe-rawe rantas malang-malang putung, serumpun sebalai, dan sepintu sedulang.
Filosofi-tradisi Pancasilais lain layak juga diinternalisasi seperti silih asah, silih asih, silih asuh, sakola dan nyakola, kenca itu palotan, lebbbi begus pote tolang katembang pote mata, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam, dari pada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah, elok basa akan kekal hidup, elok budi akan bekal mati, esa hilang, dua terbilang, hidup dikandung adat, mati dikandung tanah, hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, kalah jadi abu menang jadi arang, lidah tak bertulang, dan seperti puitika D. Zawawi Imron, berbantal ombak berselimut angin. Inilah konstruksi filosofi tradisi Pancasilais yang patut diselami dan dilestarikan. Jika Pancasila terus membumi dan membawa solusi, Pancasila akan semakin sakti. *** (*/E1)
| Gagal Merencanakan MBG : Merencanakan kegagalan MBG |
|
|---|
| Bambang Ari Satria Raih Penghargaan Penulis Opini Inspiratif Anugerah Humas Award 2025 |
|
|---|
| Rangkuman Materi PKN Kelas 11 SMA BAB 1 Kurikulum Merdeka: Keterkaitan Antarsila Pancasila |
|
|---|
| Indonesia Dalam Priority Watch List: Peringatan Serius Bagi Perlindungan Haki |
|
|---|
| Hidayat Arsani Minta Tradisi Daerah Terus Terjaga saat Hadiri Pesta Pantai Tudang Sipulung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221108_Masmuni-Mahatma-Warek-II-IAIN-SAS.jpg)