Tribunners
Ataraxia dan Keseimbangan Lingkungan
Ataraxia atau ketenangan jiwa hanya dapat diraih melalui kebebasan dari ketakutan dan keinginan yang berlebih
Oleh: Ndaru Satrio - Mahasiswa Program Doktor Hukum FH Universitas Jenderal Soedirman, Dosen Hukum Pidana Universitas Bangka Belitung, Peneliti PUSKAPKUM
BANGKAPOS.COM tertanggal 14 Mei 2025 lagi-lagi memberikan kabar berita tentang tambang ilegal. Berita yang bertajuk “Aktivitas Tambang Ilegal Kembali Marak di DAS Selindung Bangka Barat Pasca Penertiban” seakan memberikan gambaran bahwa situasi yang ada di Negeri Serumpun Sebalai memang benar-benar rumit. Kasus korupsi terkait tambang saja masih lekat di ingatan, tambang ilegal menjadi bahaya laten yang tidak kunjung berkesudahan.
Kerumitan ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama masyarakat Bangka. Alasannya jelas bahwa hal ini tidak cukup hanya sekadar kajian-kajian yang dilakukan oleh akademisi dan tidak cukup hanya dengan penertiban yang dilakukan oleh aparat penegak hukum untuk menghilangkan tambang ilegal dari bumi Bangka. Lebih jauh lagi ini terkait kurangnya pemahaman bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya persoalan materi saja, namun lebih kepada kedamaian batin dan kebebasan dari rasa sakit yang bisa saja mengendap menahun dalam diri manusia.
Epikuros seorang filsuf Yunani memberikan pemahaman bahwa ataraxia atau ketenangan jiwa hanya dapat diraih melalui kebebasan dari ketakutan dan keinginan yang berlebih. Paradigma ini cocok untuk merefleksikan masyarakat yang dewasa ini lebih mencerminkan masyarakat yang penuh dengan kecemasan dan kerakusan.
Pelaku tambang ilegal seharusnya tidak perlu melakukan aktivitas tambang ini, jika mereka memang menginginkan bisa terbebas dari rasa cemas. Dan mereka juga tidak perlu cemas jika perubahan pola kehidupan yang nantinya akan mereka ambil tidak akan membuahkan hasil sebesar tambang ilegal yang selama ini mereka jalankan. Karena jika kerakusan masih bersemayam pada diri manusia, maka ketenangan jiwa tidak akan pernah diraihnya.
Salah satu fondasi ajaran Epikuros adalah tentang ketakutan kematian, ketakutan masa depan dan hasrat yang tidak perlu adalah akar dari penderitaan manusia. Ketika ajaran Epikuros ini diderivasi dalam sebuah konsep ataraxia, kebahagiaan bukan sekadar tenang secara emosional semata, namun sebuah keadaan di mana jiwa manusia tidak mengalami keguncangan karena ketakutan dan hasrat berlebih.
Epikuros menyampaikan bahwa manusia tidak akan pernah puas jika terus mengejar hal-hal yang tidak penting bagi kebahagiaan esensial. Jika manusia mampu membatasi hasrat pada semua yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh dan jiwa mereka, maka manusia tersebut akan terbebas dari penderitaan. Ketenangan batin yang ada pada diri setiap manusia tidak dapat dibeli dengan kekayaan, namun dapat dibangun melalui pengendalian diri dan kebijaksanaan.
Dalam tuntutan zaman dan kehidupan yang memaksa kita untuk senantiasa kompetitif dan bergerak lebih cepat dibandingkan dengan yang lain, mengakibatkan banyak orang menjadi kelelahan. Kelelahan ini tidak hanya fisik, namun juga pikiran dan mental. Terlebih lagi hasrat untuk menampilkan ke publik bahwa manusia yang satu lebih mampu dibandingkan manusia yang lain dalam meraih sesuatu, yang mana hal itu tentunya belum tentu yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan ketakutan akan kegagalan atau ketidakpastian masa depan yang turut menjadikan diri manusia cenderung rakus dan bertindak tanpa memikirkan efek atau dampak yang akan ditimbulkan.
Demi mencapai ataraxia, Epikuros memberikan penjelasan bahwa kesederhanaan menjadi salah satu cara untuk menggapai ataraxia tersebut. Dengan manusia yang makin paham akan pentingnya menjaga kesederhanaan serta mengesampingkan kemewahan dalam bentuk fatamorgana semata, maka keberadaan lingkungan tempat tinggal mereka juga akan terjaga. Manusia tidak lagi rakus dalam mengeksploitasi lingkungan di mana mereka tinggal. Manusia diharapkan akan mampu menjaga kehidupan mereka yang berdampingan dengan alam. Tujuan akhir dari pemahaman ini adalah tercapainya keseimbangan lingkungan, terutama di Pulau Bangka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250615_-Ndaru-Satrio.jpg)