Tribunners

Berbahasa Sekaligus Berbudaya

"Salaamatul-Insaan fi Hifzhil-Lisaan" (Keselamatan manusia tergantung bagaimana ia menjaga lidahnya).

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Rusydi Sulaiman
Rusydi Sulaiman - Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung 

 

Oleh: Rusydi Sulaiman - Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

TERINGAT saat saya dampingi Al-Mukarram Guru H. Musa dulu, tahun 80-an naik mobil kayu ke salah satu desa di kabupaten tertentu di negeri ini memenuhi undangan tokoh setempat untuk berceramah ( tausiah subuh). Seorang remaja putri nyeletuk, spontan berkata kasar terkesan kotor dan sangat jorok  tanpa memedulikan siapa saja penumpang dalam kendaraan tersebut. Kami pun diam tidak menegur; mengelus dada sambil beristigfar,  heran: " mengapa demikian ?", seraya mempertanyakan: " Kok terjadi hal ini di sini?

Tanpa menyalahkan siapa pun, pastinya  fakta semacam itu muncul di tengah kita; rumah, sekolah, dan atau masyarakat bahkan hingga kini masih saja terdengar dan terlihat di depan mata. Belum lagi sikap menyimpang lainnya tampak makin marak menghinggapi remaja kita di era kontemporer ini--sangat-sangat patologis! Sepertinya tak kunjung surut apalagi tidak ada yang mengingatkan dan menyadarkan mereka. Pelaku perbuatan menyimpang biasanya merasa berada di atas angin; bangga akan hal-hal yang diperbuat.

Berbahasa berarti berkomunikasi atau mengatakan, melontarkan kata, menyampaikan sesuatu kepada orang lain agar didengar. Bila berupa kata kotor dan jorok,  disebut "kalimah sayyi'ah" , sebaliknya bila baik, disebut "kalimah thayyibah". 

Yang pertama cenderung banyak diucapkan karena beberapa faktor tertentu. Solusinya, kita, baik sebagai orang tua maupun guru dan sosok yang lebih tua serta dituakan harus membiasakan berkata baik, kemudian menyosialisasikannya kepada orang-orang di sekitar kita, termasuk  anak- anak sejak dini. Yang terpenting menegur dan menasihati siapa pun  yang gemar atau terbiasa  berkata kotor dan jorok (kalimah sayyi'ah). 

Begitu banyak terma yang baik untuk diucapkan, seperti:  "subhanallah", "maasya'Allah", "Mabruuk", "baarokallah fiikumul-Khair", "fii amaanillah", dan lain lain. Setidaknya sebutan kata "Allah" menghiasi tutur kata anak-anak kita dalam ber-bahasa--berkimunikasi dengan orang lain dalam keseharian hidupnya.

Bahasa sesungguhnya tidak sebatas kata dan atau kalimat yang  dituturkan, melainkan ia memuat makna tersendiri. Bila berupa kata kotor dan jorok,  berarti  hal tersebut tidak baik (menyimpang).  Kedalaman maknanya berbeda. Walaupun disampaikan dengan suara lembut, tetap saja tidak baik, apalagi  kata kotor  dan jorok tersebut disampaikan dengan cara tidak baik, bisa jadi akan menimbulkan masalah baru bahkan konflik.

Ketika salah satu wujud budaya adalah kelakuan yang bersumber dari kalbu terdalam, maka bahasa atau kata-kata yang dituturkan secara ekspresif menunjukkan sikap tertentu seseorang. Apalagi kata-kata tersebut diulang-ulang sehingga terbiasa dan menjadi kebiasaannya, maka hal tersebut mewujud  karakter, yaitu bagian dari budaya dalam bentuk wujud kelakuan ( khashaa'ish adabiyah); keterkhususan etika dalam diri manusia yang mesti diperkuat sebagai pelaku budaya.

Mari berkata dan bertutur kata baik  dengan siapa pun, karena hal itu menunjukkan peradaban dan budaya tinggi  seseorang. Sumbernya adalah bahasa Arab  misalnya adalah pijakan memahami Al-Qur'an dan sumber-sumber syariat lainnya selain syarat lain. 

Juga bahasa Inggris adalah satu dari beberapa bahasa dunia,  tinggal bagaimana kemudian kita menggunakannya. "Salaamatul-Insaan fi Hifzhil-Lisaan" (Keselamatan manusia tergantung bagaimana ia menjaga lidahnya).Maka dari itu penting didalami.  Kuasailah bahasa tertentu, setidaknya agar kita mudah berkomunikasi dengan orang lain. Maksudnya berbahasa dengan baik, karena berbahasa sekaligus berbudaya. Wassalam. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved