Kamis, 7 Mei 2026

Tribunners

Adab Dulu, Baru Ilmu

Kebaikan dan kebijaksanaanlah yang membuat seseorang benar-benar mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang beradab dan berkelanjutan

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Tonghari
Tonghari - Pranata Humas Ahli Pertama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung  

Oleh: Tonghari - Pranata Humas Ahli Pertama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung 

DALAM proses menuntut ilmu, sering kali kita terfokus pada pencapaian intelektual, nilai akademik, atau gelar yang ingin diraih. Namun, ada satu hal yang lebih mendasar dan seharusnya mendahului semua itu: adab. Adab bukan sekadar sopan santun, melainkan mencakup sikap hormat, rendah hati, etika dalam belajar, serta penghormatan kepada guru, ilmu, dan sesama pencari ilmu.

Mengapa adab harus didahulukan? Karena ilmu tanpa adab bisa berujung pada kesombongan. Seseorang yang cerdas tetapi tidak memiliki akhlak baik akan lebih mudah merendahkan orang lain, menolak kebenaran, atau bahkan menyalahgunakan ilmunya. Sebaliknya, orang yang beradab akan tahu bagaimana memperlakukan ilmunya dengan amanah dan menjadikannya manfaat bagi sesama.

Ulama terdahulu menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada seorang muridnya, "Pelajarilah adab sebelum engkau menuntut ilmu." Mereka memahami bahwa karakter yang kuat dan akhlak yang luhur adalah fondasi bagi keberkahan ilmu. “Al adabu fauqol ‘ilmi” artinya adab lebih tinggi daripada ilmu. 

Di era sekarang, adab sering dianggap sebagai hal sekunder. Padahal, justru dari adab lahirlah ketekunan, rasa hormat kepada guru, kesabaran dalam proses belajar, dan kerendahan hati dalam menerima kebenaran. Maka, sebelum kita mengisi kepala dengan pengetahuan, isi dahulu hati dengan adab. Karena ilmu yang disampaikan dengan adab akan jauh lebih bermanfaat dan membawa keberkahan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Setelah adab tertanam kuat dalam diri, barulah ilmu bisa ditanamkan dengan benar. Ilmu tanpa adab ibarat benih yang ditabur di tanah yang gersang—mungkin tumbuh, tetapi tak akan subur, apalagi memberi manfaat luas. Namun jika adab telah lebih dahulu hadir, ilmu akan tumbuh di lahan yang subur, terjaga, dan mengakar kuat. 

Ketika seseorang memiliki adab, ia akan lebih siap menerima ilmu. Ia tahu bagaimana menghargai guru, menghormati proses, dan bersikap rendah hati di hadapan ilmu yang luas. Dengan adab, belajar bukan sekadar mencari tahu, tetapi juga membentuk diri menjadi pribadi yang utuh berilmu dan berakhlak.

Ilmu yang dituntut dengan adab akan membawa keberkahan. Ia tidak hanya menjadi alat untuk meraih prestasi dunia, tetapi juga sarana untuk membawa manfaat bagi umat, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Maka, saat adab sudah ditanam, baru ilmu bisa tumbuh dengan benar. Sebab ilmu sejati tak hanya soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mampu memaknai dan mengamalkannya.

Banyak orang mengira bahwa orang pintar selalu bisa menyelesaikan masalah. Kenyataannya, kepintaran saja tidak cukup. Dunia ini tidak hanya dipenuhi dengan persoalan teknis atau logika, tetapi juga dengan masalah yang menyangkut hati, empati, dan nilai kemanusiaan. Dalam situasi seperti itu, pintar sering kali tak berguna jika tidak dibarengi dengan kebijaksanaan. Seseorang bisa sangat cerdas dalam berhitung, berbicara, atau membuat strategi, tetapi tetap gagal menyelesaikan konflik karena tidak mampu memahami perasaan orang lain. 

Sering kali, orang pintar justru merasa paling benar, dan hal ini memperkeruh masalah alih-alih menyelesaikannya. Sebaliknya, orang yang memiliki hati yang baik—meskipun mungkin tidak terlalu pintar secara akademik sering kali lebih mampu menjadi penengah, mendamaikan, dan menciptakan solusi yang lebih adil.

Kebaikan yang konsisten dalam tindakan, dari hal kecil hingga besar, akan membentuk pribadi yang bijaksana. Dan kebijaksanaan inilah yang justru dibutuhkan untuk menyelesaikan banyak persoalan hidup.

Kesimpulannya, pintar adalah modal, tetapi bukan jaminan. Kebaikan dan kebijaksanaanlah yang membuat seseorang benar-benar mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang beradab dan berkelanjutan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved