Tribunners

Kurikulum Berbasis Cinta 

Kesuksesan kurikulum ini ada pada satuan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan madrasah.

Editor: suhendri
Dokumentasi Suarni
Dra. Suarni, M.Pd.I. - Pengawas Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang 

Oleh: Dra. Suarni, M.Pd.I. - Pengawas Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang            

KEMENTERIAN Agama Republik Indonesia meluncurkan gagasan Kurikulum Berbasis  Cinta (KBC) di lingkungan madrasah, mulai dari tingkat raudhatul athfal hingga madrasah aliyah. Ini menjadi inisiatif dalam pengembangan pendidikan agama dan keagamaan yang bertujuan menanamkan nilai cinta sejak usia dini kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa. 

Kurikulum Berbasis Cinta yang merupakan pengembangan dari Kurikulum Merdeka adalah sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan.

Pengembangan kurikulum oleh Dirjen Pendis ini menekankan empat aspek utama. Pertama, membangun cinta kepada Tuhan (hablum minallah). Kedua, membangun cinta kepada sesama manusia, apa pun agamanya (hablum minannas). Ketiga, membentuk kepedulian terhadap lingkungan (hablum bi’ah). Keempat, kecintaan terhadap bangsa (hubbul wathan) yang bertujuan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan. Melalui prinsip cinta sejak dini, KBC bertujuan membentuk warga negara yang berintegritas, toleran, dan bertanggung jawab.


Kurikulum ini berupaya melahirkan pemimpin-pemimpin yang visioner, didorong oleh hati nurani, serta inovator yang menciptakan solusi berkelanjutan demi kebaikan bersama. Mereka akan  menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani perbedaan, mengatasi konflik, dan membangun jembatan persaudaraan, baik di tingkat lokal maupun global.

Visi Indonesia Emas 2045 adalah sebuah cita-cita luhur yang mengimpikan Indonesia sebagai negara maju, adil, makmur, dan berdaulat di usianya yang ke-100. Selain kemajuan ekonomi dan teknologi, tujuan ini mensyaratkan fondasi yang kokoh dalam karakter, etika, dan jiwa bangsa. Di sinilah KBC hadir sebagai mimpi dan strategi transformatif. 

Kurikulum Berbasis Cinta dapat dikaitkan dengan beberapa teori kurikulum yang berfokus pada perkembangan sosial, emosional, dan moral murid. Salah satu teori yang paling relevan dengan KBC ini adalah teori Kurikulum Humanistik oleh Carl Rogers (1994) yang menekankan pentingnya perkembangan pribadi dan potensi murid sebagai individu yang unik dan bernilai. Teori ini berfokus pada kebutuhan emosional, sosial, dan psikologis murid, serta mendorong mereka untuk menjadi orang yang mandiri, kreatif, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat.

Materi pokok Kurikulum Berbasis Cinta di dalam pembelajaran:

* Cinta Allah dan rasul diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman mengenai sifat Allah yang Maha Cinta serta Rasulullah sebagai sosok teladan penuh cinta melalui pembelajaran keimanan dan ketakwaan kepada Allah, asmaul husna, beribadah, dan rasa syukur atas segala nikmat Allah, mempelajari sejarah nabi, mempraktikkan sifat-sifat nabi, dan mempelajari hadis-hadis nabi.

* Cinta ilmu diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman bahwa dengan ilmu, manusia mampu membukakan tabir keagungan penciptaan, hikmah di balik setiap syariat melalui pembelajaran literasi, inovasi, dan sumber-sumber ilmu pengetahuan.

* Cinta lngkungan diharapkan dapat memahami alam semesta sebagai manifestasi cinta dan kebesaran Allah sehingga tumbuh sikap hormat dan kasih sayang terhadap lingkungan melalui adab terhadap alam, menjaga kebersihan dan ciptaan Allah berupa alam semesta yang harus dijaga bersama.

* Cinta diri sendiri dan sesama manusia diharapkan memiliki pemahaman terhadap diri sendiri dan orang di sekitarnya, toleransi, dan sikap sosial yang tinggi melalui pembelajaran dan pembiasaan akhlak-akhlak mulia. 

* Cinta tanah air diharapkan dapat menumbuhkan semangat cinta tanah air sebagai bagian dari iman melalui pembelajaran bela negara, taat pada pemimpin, melestarikan budaya bangsa dan suku-suku bangsa dan keragaman agama sebagai modal persatuan bangsa. 

Kesuksesan kurikulum ini ada pada satuan pendidikan, khususnya lembaga pendidikan madrasah. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved