Hujan Deras Guyur Babel di Musim Kemarau, BMKG: Fenomena Atmosfer Kompleks

BMKG menjelaskan hujan deras yang melanda Bangka Belitung di musim kemarau dipicu fenomena atmosfer kompleks. Warga diminta waspada potensi banjir

Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah 
HUJAN DI MUSIM KEMARAU--Hujan Deras Guyur Babel di Musim Kemarau, BMKG: Fenomena Atmosfer Kompleks 

BANGKAPOS.COM--Sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dalam beberapa hari terakhir diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Fenomena ini terbilang tidak biasa, sebab saat ini Babel telah memasuki musim kemarau yang umumnya ditandai cuaca panas terik dan minim curah hujan.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Nenden Wardani, menjelaskan bahwa hujan di musim kemarau ini dipicu oleh kondisi atmosfer yang cukup aktif dan kompleks.

"Beberapa faktor seperti aktivitas dipole mode negatif, Madden Julian Oscillation (MJO), serta gelombang tropis low frequency mendukung pembentukan awan hujan dan aktivitas konvektif. Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Indonesia memengaruhi pola angin yang membentuk perlambatan dan belokan angin di Babel, sehingga memperkuat pertumbuhan awan hujan signifikan," terang Nenden kepada Bangkapos.com, Rabu (20/8/2025).

BMKG memprediksi potensi hujan sedang hingga lebat masih akan berlangsung setidaknya selama sepekan ke depan.

Kondisi ini dikhawatirkan menimbulkan dampak, seperti genangan air di kawasan rawan serta terganggunya aktivitas masyarakat.

"Meski sudah memasuki musim kemarau, dinamika atmosfer saat ini cukup aktif sehingga berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat dalam beberapa hari mendatang," tambahnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Kota Pangkalpinang tercatat diguyur hujan deras hampir sepanjang hari.

BMKG pun mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan serta tinggal di wilayah rawan banjir, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

Musim Kemarau Lebih Pendek

Sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai memasuki musim kemarau.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir Pangkalpinang, Annisa Nindi, menjelaskan bahwa musim kemarau 2025 diperkirakan hanya akan terjadi pada periode Agustus hingga September, dan berpotensi berakhir lebih cepat dari normalnya.

"Biasanya, musim kemarau di wilayah Bangka Belitung berlangsung hingga dasarian III September bahkan masuk ke dasarian I Oktober. Namun, tahun ini diprediksi akan berakhir lebih awal," ungkap Annisa kepada Bangkapos.com, Selasa (5/8/2025).

BMKG menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan pendeknya musim kemarau kali ini adalah kondisi suhu muka laut yang lebih hangat di wilayah Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2025. 

Suhu laut yang lebih tinggi berperan dalam meningkatkan proses penguapan, yang pada gilirannya memperbesar peluang terbentuknya awan dan hujan lokal.

"Kondisi laut yang hangat ini mempercepat transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Oleh karena itu, kita berpotensi mengalami musim hujan lebih awal dari biasanya," jelasnya.

Berdasarkan pola curah hujan tahunan, wilayah Bangka Belitung terbagi dalam enam Zona Musim (ZOM).

BMKG mencatat bahwa beberapa wilayah telah memasuki musim kemarau sejak Juni dan Juli 2025.

• ZOM 1 (Bangka Barat bagian utara) – mulai kemarau Juni dasarian III
• ZOM 5 (Bangka Tengah bagian tenggara, sebagian Bangka Selatan bagian timur) – mulai kemarau Juli dasarian II
• ZOM lainnya – diprediksi memasuki kemarau pada Juli dasarian III, namun menunggu konfirmasi curah hujan Agustus dasarian I

BMKG memprediksi bahwa curah hujan di Bangka Belitung selama Agustus hingga September berada dalam kategori menengah, yakni berkisar antara 151 hingga 300 mm per bulan. 

Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun berada di puncak musim kemarau, potensi hujan masih cukup tinggi di sejumlah wilayah.

"Ini bukan kemarau kering seperti biasanya. Tetap ada potensi hujan, terutama hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang," kata Annisa.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama para petani dan pelaku sektor pertanian serta perikanan, untuk mulai mengantisipasi transisi musim yang lebih cepat ini.

Pergeseran musim dapat berdampak pada aktivitas pertanian, pengolahan hasil laut, hingga pengelolaan sumber daya air.

"Monitoring kondisi cuaca dan iklim perlu ditingkatkan. Kami sarankan masyarakat aktif memantau informasi prakiraan cuaca harian dan bulanan yang kami sampaikan melalui kanal resmi BMKG," tuturnya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved